10YearsChallenge?

Masih ramai di jagad media sosial soal hastag #10yearschallenge. Challenge ini concern pada apa saja yang berubah di kamu setelah 10 tahun belakangan. Menarik sih, banyak yang upload foto dirinya, ada yang upload foto karyanya, ada yang membahas soal perubahan karakter dirinya. Ada juga yang posting “buat apa sih ikutan itu? masih mending juga concern soal ini bla bla..”

Nggak, aku enggak menyalahkan satu atau yg lain. Bagiku semua orang bebas mengeluarkan pendapat di media sosialnya selama enggak menyakiti orang lain, dan enggak julid. Aku yang mengamati sih malah merasa seru aja. Orang-orang jadi melihat challenge itu berbeda sesuai dengan apa yang mereka hadapi dan pahami.

Sepuluh tahun bagiku bukan waktu yang sebentar. Banyak hal yang berubah setelah satu dekade. Tahun 2009 aku masih SMA, dimana masa-masa itu banyak sekali hal baru yang aku temui. Termasuk hijrahnya aku menjadi lebih baik versiku. Aku ingin tahu banyak hal, aku ceria tapi emosional. Aku bergaul dengan orang-orang baru dan lingkungan baru. Aku yang enggak bisa diem dan selalu butuh kesibukan.

Aku mengikuti OSIS, sekaligus penanggungjawab cikal bakal ROHIS di SMA ku. Mengurusi koperasi kejujuran yang lebih banyak rugi daripada untungnya, menjadi tim kepanitiaan event yang banyak gagal daripada berhasilnya. Jalan-jalan keliling Solo ketika weekend, merusuhi teman yang sedang download di sekolah. Fangirling idolgrup Korea sampai lupa waktu kalau di depan internet, ngefans secara freak sama Manchester United sampai nempel semua poster pemain MU di kamar asrama.

Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu dari masa itu. Banyak sekali perubahan karakter, sikap, hobi, dan pemikiran dariku. Aku masih dilihat sebagai orang periang, tetapi lebih banyak berpikir dan liar. Wkwkwk.

Aku mengenal jauh lebih banyak orang. Semakin mengenal banyak orang, semakin pemikiranku terbuka terhadap hal-hal yang kontradiktif sekalipun. Membuka pikiran, belum tentu mengiyakan segala hal. Tetapi membuatku lebih kalem saat menghadapi sesuatu, enggak meledak-ledak. Cool, Calm, and Confident 😀 ((udah kayak iklan pasta gigi))

Di usia 25 tahun ini, banyak yang berubah. Termasuk kebiasaan berpakaian. Dulu aku yang belel buluk banget, enggak suka pakai jilbab segiempat. Kemana-mana pakai kaos, rok buluk, sendal jepit atau crocs, dan jilbab kaos yang enggak nyambung sama sekali. Sekarang lebih mendingan walau sisa-sisa kebiasaan itu masih melekat juga. Dulu yang cuci muka aja pakai sabun mandi, sekarang alhamdulillah udah ngerti pakai pelembab, bedak, sama lipcream. Hahaha, sebuluk itu aku dulu yha -_-

Dan yang terakhir, soal pasangan hidup. Sepuluh tahun yang lalu masih galau move on dari patah hati. Sudah hampir enggak percaya cinta wakakak. Sekarang? Alhamdulillah aku kembali percaya pada cinta dengan pasangan yang sudah halal. Kalau saja bisa ketemu aku yang 10 tahun lalu, akan aku peluk lalu bilang “Sama yang belum halal, perasaannya biasa aja dong gausa berlebihan. Kamu tuh jodohnya sama yg anak Jogja itu bukan anak Jateng.” WKWKWKWK

Oiya, 2009 itu ternyata adalah kali pertama aku dan suami dalam satu forum. Aku mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja, dan dia adalah rivalku dari sekolah yang berbeda. Dan aku mana ingat peserta lain. Aku yang menang yaa, halloo hhahaha. Sekalipun pada akhirnya dia yang memenangkan hatiku, sih. WKWKWK

Yang (semoga) masih sama adalah semangat dan positif thinking yang aku miliki. Karakter mendasar seperti “introvert dan musikal” masih aku miliki sampai sekarang. AKu juga masih suka membaca dan menulis. AKu juga masih mendengarkan musik dan radio. Aku juga masih suka mendengarkan daripada berbicara.

Semogaaa selalu bersemangat dan bergerak yaaa, Luthfii :*

Terima kasih Luthfi yang dulu, sudah ndugal sekaligus tobat. Sudah mulai memperbaiki diri. Sudah belajar bagimana memutuskan sesuatu. Terima kasih sudah menjadi keren 🙂

Insecurity dan Bodoamat Walau Tetap Sambat

catwomanizer

Envy is the desire to have what someone else has. Jealousy is the fear of losing what you have. The more insecure you are about yourself or your relationship, the more jealous you are, because you are afraid to lose your significant other to someone else.
.
The thing is, you can’t control other people, you can only control yourself. And you can’t stop people from doing whatever the hell they want to do. So set them free.
.
If they choose to stay committed to you, you know it’s because they want to, not because you manipulate them to do what you want.

Pernah dengar istilah insecurity? Arti harfiahnya, merasa tidak aman. Rasa aman ini muncul dari dalam diri seseorang yang mungkin menyadari kekurangan dirinya, atau melebih-lebihkan itu. Menurutku seperti itu.

Karena selama beberapa tahun terakhir perasaan itu ganas sekali muncul di perasaanku sendiri. Perasaan insecure ini mungkin datang karena trauma masa lalu, kejadian tidak mengenakkan, atau bahkan bisa juga kebawa perasaan akibat diomongin orang.

Contohnya aja ada temen yang ngomongin hasil kinerjaku ke orang lain setelah dia dikritik. Kebetulan, aku tau dia ngomongin itu (tanpa lebih dulu konfirmasi ke aku). Dan apa yang terjadi? Setelahnya aku trauma dan tidak yakin sama apapun yang aku lakukan. Perasaan takut gagal dan terlihat bodoh itu mendominasi dan sangat menyiksaku, tentu saja.

Mungkin dia enggak akan pernah menyadari.

Belajar bersikap bodoamat akhirnya aku dalami setelah kejadian itu dan aku mengalami trauma tidak hanya dalam hitungan hari. Bersikap bodoamat dengan ocehan orang. Bersikap bodoamat dengan komentar toxic yang sewajarnya mewarnai kehidupan sosyel kita pada masa ini. Sampai-sampai aku menyadari bahwa aku tidak perlu lagi membaca buku soal bodoamat itu ketika booming hari ini.

Biarpun sambat, tetaplah bersikap bodoamat.

sekian hari ini. suami sudah menjemput~

2019 : A New Challenge

Mengawali 2019 dengan berangkat telat dan pulang telat,

For me, 2018 is mine. Banyak hal terjadi di 2018 dengan segala lika-liku kehidupan yang bikin aku jungkir balik ngos-ngosan. Enggak kehitung berapa kali aku harus nyalain keran kamar mandi keras-keras dan menangis kencang di sana. Atau menunggu masjid sepi dan mewek sepuasnya. Duaribudelapanbelas memperlihatkan semua kelemahanku sekaligus membuat aku kuat. Duaribudelapanbelas menghadiahiku keluarga-keluarga baru yang sangat luar biasa baiknya. Duaribudelapanbelas membuka hatiku sekaligus kehidupanku bersama lelaki yang sangat baik dan aku mencintainya. ((mention ga nih orangnya mention ga nih wkwkwk))

Di 2018, bahkan aku harus pindah meja kerja sampai 3x hahaha. Awal tahun di lantai 1, tengah tahun di lantai 2, lalu akhir tahun pindah lagi ke lantai 1. Makaseeh pakboos XD Pindah di lantai satu malah bikin aku malas ikut senam rutin di lantai 3. Jauh mamen XD

Baiklah. Untuk 2019 nanti aku sudah mengira akan terjadi hal-hal baru yang lebih menantang lagi. Segala hal baru yang aku mulai di 2018 akan bergolak dan menjadi tantangan di 2019.

Aku berpikiran untuk resign, sih. Tapi ya masih menimbang-nimbang situasi dan kondisi. Senangnya sekarang ada tempat untuk diskusi dan berkeluh kesah wkwkwk. He’s a good listener, thanks God You gave me him 🙂

Telat enggak sih aku baru mikirin apa target buat 2019? hahaha~

Hidup Seperempat Abad

Tidak ada yang lebih mengerti dari diri kita sendiri bagaimana kita menjalani setiap hari dengan satu satu tenaga yang kita punyai. Mungkin kehidupan yang tidak begitu disukai atau diingini. Tetapi itu yang akan membentuk karakter kita, sikap kita, dan keputusan kita terhadap sesuatu.

Kemarin aku memutuskan berjalan kaki dari kantor ke kantor suami. Lumayan lah jaraknya sekitar 600m. Aku menghitung waktu, kira-kira menjelang maghrib aku akan sampai di sana. Aku berjalan dengan tenang, diiringi cuap-cuap penyiar radio favoritku di telinga kiri.

Ternyata benar kata masgun di sebuah acara bedah buku. Jalan kaki membuat kita sadar kalau selama ini kita melewatkan banyak hal. Aku baru tahu kalau di dekat kantor ada penjahit, padahal aku kemarin jauh-jauh ke Gejayan kalau harus menjahitkan baju karena enggak tahu lagi musti jahit dimana. Aku baru ngeh kalau ada distro muslim di jarak itu karena enggak awas kalau naik motor. Dan banyak hal lagi.

Mungkin begitu juga hidup. Selama ini kita menjalani hidup dengan tergesa. Tergesa mengerjakan tugas kantor, tergesa menuju agenda ini itu, tergesa menyiapkan sarapan pagi, dll. Mencoba menjalani hidup dengan selow dan melihat sekitar mungkin perlu juga. Bukankah kita ini insan bukan seekor sapi? ((itu lirik laguu btw))

Baiklah, aku tau setelah seperempat abad ini hidupku akan jaauh lebih cepat dan tergesa. Tapi enggak boleh membuat semuanya jadi blur kecuali apa yang aku lakukan, bukan begitu?

Melihat dengan mata jernih, adalah hal mungkin bisa aku coba.

Hei kamu, tetap bersamaku yaa 🙂

 

201193 ~ 201118

Menonton Crimes of Grindelwald!

Disclaimer : tulisan ini ungkapan perasaan, bukan ulasan. Pasti akan mengandung spoiler dan sopiler.

Yeay!! Nonton Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald di hari kedua penayangan akhirnya menuntunku kepada kenyataan lain daripada Credence.

Btw, kemarin nonton di CGV Transmart Maguwo dan itu RUAME BUANGET. Kukira semua orang disitu nonton TCOG dong yaaa. Ternyata nonton Burn The Stage alias Filmnya BTS (Bangtan Boys). Ya Gusti.. pantesan isinya bocil-bocil yang keliatannya anak SMA begitu wkwkwk.

Okai. Back to Newt Scamander. Gemesy sekali sama Newt yang enggak mau ke Prancis buat nyari Credence (jadi Credence selamat di film pertama dan kabur ke Prancis). Bahkan sampe Albus Dumbledore (yang keliatan gagah pada masa itu) minta dia berangkat pun teteup ngga mau. Dia bener-bener ogah sampai tau si Tina ada di sana juga dan dia langsung berangkat pakai portkey. Buat nyariin Tina. Bukan nyariin Credence. Semenyebalkan itu lelaki yang jatuh cintrong sama cewe HAHAHAHA. Continue reading

Butter Rice ala Luthfi

IMG_20181114_160147

Hellaaawww, kamu-kamu yang nyasar ke sini karena nyari menu nasi enak lewat gugel ataupun follower blog aku hihihi.

Beberapa waktu lalu di grup NSS (Nulis Suka-Suka) ada tema “resep masakan favoritmu”, dan waktu itu aku enggak ngeh (hahaha). Nah sekarang aku mau membagikan resep menu favorit aku yang aku sering bikin karena keterbatasan waktu dan bahan. Inimah tinggal cemplung2 seadanya ke rice cooker  hihi.

Namanya “Butter Rice ala Luthfi“.

Bahan:

  • Beras
  • Jagung dipritilin ((hadeh apadah namanya itulah..))
  • Kacang panjang potong kecil2
  • Wortel potong dadu kecil
  • Daun salam 1 lembar
  • Mentega 1 sdt
  • Ro*co 1/2 sdt
  • Lada secukupnya
  • Garam 1/2 sdt (atau bisa sesuai selera)

Cara bikin:

  1. Cuci beras, masukkan air sesuai takaran beras
  2. Masukkan ro*co, garam, daun salam, lada, aduk sampai rata
  3. Masak dalam rice cooker (jangan lupa pencet tombol cook nya!!11!!)
  4. Sementara beras dimasak menjadi nasi.. kacang panjang, wortel, jagung bisa direbus sebentar biar agak lunak
  5. Kalau rice cooker udah bunyi “klik” tandanya nasi mateng
  6. masukkan mentega dan sayuran yang direbus
  7. Aduk-aduk perlahan sampai rata
  8. Tutup rice cooker dan posisikan “warm” saja sekitar 5 menit
  9. Butter rice siap disajikan!

Untuk bahan sayurannya bisa menyesuaikan ya yang ada aja.

Nah lauknya tinggal goreng aja telur atau sosis atau apadeh yang disuka. Selamat makaaan~

 

Beneran Touring!!

Masih kerasaaa euforianyaa, deg-degannya, senengnya, hore-horenyaa touring perdana aku kali ini. Berawal dari masmas ganteng nan berbrewok yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami saya sendiri. Dia tiba-tiba ngajakin acara touringnya Masjid Jogokariyan. Namanya Jogja Hijrah Bikers. Tujuan ke Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3). Ya aku jelas mau, lah! Kesempatanku kapan lagi touring ulala begitu sama suami dan komunitas yang kece uhuy (ada Tadz Salim pula yekan).

Sehari sebelum berangkat udah ngeriwehin dah hahahaaa. Mulai dari air minum, bekal bensin seliter, snack, sepatu, pakaian yang dipakai, sampe tisu basah-pun :))

ahseyk~

Sabtu pagi (10-11-18) kami udah di Masjid Jogokariyan sebagai lokasi berangkat. Baru jam 7.30 tapi udah ramai orang. Briefing dan penataan emang dimulainya jam segitu sih. Nampak pula ustadz Salim A Fillah dalam balutan kaos rider, celana jins, dan sneakers gaul. Ampe bengong aku ga percayanya aku kalo itu ustadz Salim wkwk. Kirain bojoku salaman sama siapa kok yg disalamin nanya “Wah bulan madunya touring, nih?” Jebule ustadz Salim to wkwkwk.

Nahini ..

sama lakonnya~

Setelah dimulai dengan doa bersama ust Salim, rombongan bergerak beriringan, diiringi sama Voorijder. Dan baru kali ini aku naik motor diiringi patwal lengkap dengan uwiuwiuwiuu-nya hahahaayy. Daan, menyenangkan sekali duduk di boncengan sambil merekam ini itu. Melihat barisan yang seegitu panjang dan banyaknya, melihat bermacam-macam motor. Gak peduli moge, bison, vixion, motor bebek, beat sampai honda astrea 90’an juga ada. Subhanallah. Aku sama suami naik supra x 125 kecintaan suami yang sangat dia banggakan.

Menjelang dzuhur sampailah kami di PM3. Alhamdulillaah perjalanan lancar tanpa hambatan. Disuguhi pemandangan apik merapi merbabu yang kebetulan agak tertutup kabut, dan juga teh panas dan gorengan. Sambil melepas lelah kami saling menyapa dan mengobrol singkat.

Akupun mau tidak mau, terjebak di ruang nostalgia pada masa 2012 dimana aku dan teman-teman kampus pernah mengadakan Kuliah Kerja Dakwah alias KKD di tempat ini pula. Rasanya haruuu banget bisa balik ke sini lagi. Windusajan, Wonolelo, Batur, Gerimis, KKD. Seperti bianglala, kenangan itu berputar di otakku. Kangen anak-anak Gerimis kan jadinya.. Untung banget suami anak Gerimis juga yekan (apaaa hubungannyaaa, markonaaah).

uwuwuwuu

Dzuhur berkumandang, para lelaki sholat di Masjid dan para hijabers sholat di aula. Alhamdulillah selesai sholat langsung dihadapkan pada kudapan enak dan bergizi. Selepas itu acara dilanjutkan dengan kalimat2 dari pembina PM3 dan tak lupa pula materi yang dinanti dari ust Salim tentang Hijrah.

Modal orang hijrah (ringkasan singkat dari tausiyah ust Salim):

  1. Ikhlas meninggalkan sesuatu yang bersifat duniawi karena Allah. Menuju Allah.
  2. Tawakkal, bersandar pd Allah. cth : Abdurrahman bin Auf ketika hijrah ke Madinah
  3. Ta’allum, mau terus belajar
  4. Tawadhu’, tetap merasa rendah hati

Sekitar pukul 14.00 kami turun ke Jogja dengan kondisi hujan deras dari atas dan jarak pandang cuma sekitar 2m. Gusti Alhamdulillah diparingi selameeett :””)

Lelahnya baru kerasa pas udah di rumah. Senengnya masih kerasa sampe sekarang. Seneng bisa touring sama komunitas yang cocok di hati. Kalo kemaren ada yang komen gini “Agendanya ngapain mbak touring sampe sana? Gitu doang?” –ya terus mau ngapain dong, Gabriela? Salto-salto ke arah Merapi? Foto alay sampek batre lobet? Yakan ngga gitu~ It’s alla about feeling~ Ah kamu~

Jadi, kapan kemana kita touring lagi, Swam??

Gini.. Itu..

boot x boot