7 Tempat Makan Favorit

Sewaktu di kampus -aku sebut di kampus karena walaupun kerja masih di Jogja, udah nggak di sekitar kampus UGM- ada beberapa tempat yang jadi favorit buat makan bareng ataupun sendirian.

1. Loempia Boom

@loempiaboom

Tempatnya asik buat nongkrong dan ngobrol atau rapat. Menu makanannya juga nggak biasa, lompia guede yang bisa bikin mblenger. Harganya masih wajar sih, cuma kalau akhir bulan makan di situ ya tekor.

2. Waroenk Inyonk Continue reading

Minum Air Putih Ketika Bangun Tidur, Sehat!

Aku punya banyak kebiasaan buruk yang tidak boleh ditiru! Tetapi aku juga punya kebiasaan baik yang malah harus ditiru!

Apa itu?

Begitu bangun dari tidur, minumlah segelas air putih sebelum melakukan aktivitas apapun selain berdo’a. Ambil segelas air putih dan minum sampai habis saat itu juga.

Hasil gambar untuk air putih

Aku mulai melakukan ritual ini ketika aku SMP. Awalnya Abi yang menyuruhku. Sewaktu aku pertama kali mencoba, hueeeekk, rasanya nggak enak! Bayangin aja dong, mulut bau dan penuh iler begitu langsung minum air putih. Ya Allah… Tapi demi kesehatan, ya aku lakukan saja itu setiap hari. Akhirnya menjadi kebiasaan sampai sekarang (dan semoga seterusnya). Kalau lagi di perjalanan atau kegiatan di luar (dome/makrab dll) biasanya sering kelewat. Alhasil tenggorokan jadi kering dan nggak nyaman di mulut sama perut. Hehehe.

Biasanya, setelah minum air putih aku diam sejenak. Beberapa saat kemudian, pasti akan ada rasa pengen pipis/pup yang kemudian aku artikan bahwa sistem pencernaan dan ginjalku sehat. Yey!

Kalau kata doktersehat.com ada 9 manfaat minum air putih ketika bangun tidur alias saat perut kosong: (read http://doktersehat.com/9-manfaat-minum-air-putih-saat-perut-kosong-di-pagi-hari/ )

1. Kulit Jadi Berkilau
2. Peremajaan Otot Dan Sel-Sel Darah 
3. Penyeimbang Sistem Getah Bening
4. Menyeimbangkan Sistem Limpa
5. Melangsingkan Tubuh
6. Membersihkan Usus
7. Menambah Darah
8. Organ Ginjal Yang Lebih Sehat
9. Memperlancar Buang Air Besar

Nih, contoh ya!!! 🙂

Payung Hitam

adult-1867665_640

Sewaktu panas mulai meniup keras, semua orang mengutuk di bawah derai kipas. Lain waktu ketika hujan menderas, tidak sedikit manusia mengeluh basah dan diam bergelung selimut.

Tidak semua orang, tidak pula aku. Berpayung hitam tanpa alas kaki apalagi sepatu, lampu bangjo menjadi satu-satunya kawanku. Nyala merahnya setiap 80 detik sekali, mengingatkanku pada batuk Bapak yang tak kunjung mereda setelah seminggu. Seperti hujan malam ini, kukira tidak akan ada habisnya juga.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menunggu. Tanganku sudah mulai gemetar, merasakan jerihnya dingin Januari awal. Bayangan PR menulis puisi melintas di otak tidak terlalu pintarku. Ya, karena pintar masih didominasi volume bangun ruang, mean-median-modus yang sampai sekarang aku tidak paham menghitungnya. Aku sedikit tenang, karena kelas Bahasa Indonesia masih di pukul 10. Setidaknya ada waktu 3 jam untuk mencuri waktu menuliskannya.

Aku harus mendapatkan paling tidak sepuluh ribu malam ini. Kurapalkan doa-doa dalam hati. Sial, aku tidak pernah ikut mengaji di mushola. Kesempatan menghapal doa hanya kudapatkan di sekolah, itupun tidak jauh dari doa makan. Baiklah, mungkin doa mau makan bisa menambah penghasilanku malam ini.

Bus TransJogja yang berhenti di seberang tidak mencuri perhatianku. Sampai ketika seorang perempuan seusia guru Ilmu Sosialku turun dari tangga halte. Tidak, aku tidak memperhatikan parasnya, terlalu temaram cahaya lampu jalan. Lebih terang logo di tas tangannya itu daripada lampu. Pernah kulihat logo itu di etalase salah satu penjual tas XT Square, pasti mahal. Mengkilap pula warna hitamnya.

Kira-kira ada berapa lembar uang merah di tas kecil itu? Ah, aku hanya butuh satu saja untuk beli obat batuk Bapak. Kulihat di iklan tv milik Eka, ada obat batuk yang sekali telan bisa langsung menyembuhkan. Aku harus bisa mendapatkannya.

“Dek! Ojek payung, sini!” Teriakan lembut dari seberang membangunkan lamunanku. Mbak ber-tas mentereng tadi melambaikan tangannya buru-buru. Ah ya, rezekiku datang!

Aku bergegas menyeberang jalan sambil membayangkan Bapak tersenyum tanpa batuk-batuk lagi. Aku tidak mendengar apa-apa sampai sinar dari kanan menerangi sekujur tubuhku. Hantaman keras melemparku ke tepian trotoar. Selanjutnya sepi.


 

*fanfiksi kecil-kecilan aja.

*trivia : Kebayang setting-nya adalah perempatan Stadion Mandala Krida.

*clue : hujan, sepatu, menunggu

Cerita Antara Gunung dan Pantai

Suatu ketika aku ditanya, “Kalau disuruh memilih, kamu pilih gunung atau pantai?”

Jogja. Ceruk kota dimana aku berdomisili sekarang, dekat dengan segala macam gunung dan pantai. Gunung paling aktif se-Indonesia kita tahu, Merapi. Dan bersamanya bersanding Merbabu yang nampak lebih kalem. Belum lagi Sindoro dan Sumbing yang berdiri tegak di barat. Pantai lebih lagi, ada sekitar 100 pantai (Yes, I’m serious for that number) di Jogja. Sepanjang megahnya Laut Selatan itu, berjajar pantai mulai dari pasir hitam sampai pasir putih, ada semua!

sundak3

Pantai Sundak, beberapa waktu lalu

Aku lebih banyak menghabiskan waktu di pantai, jujur saja. Dengan perjalanan 1-2 jam saja, ombak pantai sudah bisa menjilati kaki dan kepenatanku. Walaupun aku sudah hampir 6 tahun hidup di Jogja, ternyata belum ada setengahnya dari seluruh pantai di Jogja yang aku datangi. Banyak banget, men!

Lebih lagi, keluargaku  suka banget touring ke pantai kalau pas liburan. “Belum berasa liburan kalau belum ke pantai,” kata Umi sehabis touring bulan lalu. Dalam 2016 kemarin, mungkin ada 10 pantai di Jogja yang aku datangi. Baik bareng teman-teman, atau keluarga.

???????????????????????????????

Pos Pasar Bubrah, Merapi 2014

Sedangkan gunung, seumur-umur baru Merapi yang aku sampai di puncaknya. Itupun sudah tahun 2014 lalu. Kenapa? Karena, serius, naik gunung butuh lebih banyak persiapan dan juga waktu. Buatku, gunung lebih ekstrim dan harus “jaga-jaga” lebih banyak. Dan, aku tidak bisa kalau ke gunung sendirian. Harus ada pawangnya, eh pendampingnya, eh apaan sih pokoknya temennya gitulah. Tapi aku menikmatinya kok di setiap perjalanan menuju puncak. Tidak terlupakan lah, waktu itu.  Aku lebih suka memandangi puncak Merapi dari jembatan teknik  sih, hehehee. Mungkin lain kali, kalau ada kesempatan aku nggunung lagi (kapan?).

Mungkin, gunung memang lebih indah jika hanya dilihat dari kejauhan saja? Dan ya, butuh ekstra persiapan dan perjalanan panjang menuju puncaknya. Seperti menujumu…

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukkan bersama tariannya ¹

¹ Lirik lagu dari Payung Teduh – Cerita Tentang Gunung dan Laut

 

Bertemu

lara-danielle_love-cartoon_ykjirwSedikit bocoran, sebenarnya untuk tema tanggal 11 ini aku yang mengusulkan. Dan tralalalaaaa kebegoan ini cepatlah berlalu~ Bahkan aku sendiri nggak sanggup ngepost tulisanku kemarin. It’s too sensitive.

Temanya oke, 11 Januari-nya Gigi. Pasti tau dong, ya? Lagu yang romantis banget, masuk jajaran lagu Indonesia long last romantic song, kalau menurutku.

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwaku

Setiap manusia memiliki kisah “pertemuan pertama” yang membawa kesan. Hanya saja, mau dibawa kemana kesan itu. Bagiku, pertemuan pertama secara denotatif tidak akan mendampak apapun. Itu sih, karena aku orangnya pelupa. Bagiku pertemuan selanjutnya-lah yang akan mempengaruhi keberadaan seseorang dalam hidupmu.

Menjalani kisah cinta bukan hal yang mudah, setahuku. Terlebih jika kamu diikat dalam perjanjian yang kokoh. Saat itu juga kamu harus yakin dialah satu-satunya. Dialah jiwamu sepanjang sisa hidup. Bersama Kehidupan dan Kematian yang mengecup janji-janji itu.

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu
Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Benar, tidak mungkin tiada konflik. Bahkan berhubungan dengan teman saja akan banyak konflik yang terjadi. Tetapi perjanjian yang kokoh tidak mungkin mudah tercerai hanya karena ada satu fase yang membuat hati-hati itu nyeri.

Kau bawa diriku
Ke dalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

Bukankah jutaan warna itu harmoni? Jika ada seseorang yang memberimu kesan seperti pelangi, meski kadang butuh mendung dan hujan lebih dulu untuk membuatnya terlihat, benarkah kamu hanya akan  pergi begitu saja? Ketika dia sudah menjadi pusat semestamu, mustahil kamu akan melepasnya dengan mudah.

Ngomong-omong soal pertama, aku ingat pernah menulis sebuah cerita (sangat) pendek tentang pertemuan 2 orang yang sama sama “aneh”. Saddam, si ganteng yang berniat membalas dendam. Tatyana, pemilik segala warna rambut karena dia tidak pernah bertahan hanya dengan satu warna.

Silakan berkunjung >> http://www.storial.co/book/black-and-blue/1

Kita, kapan “bertemu” pertama kalinya? Hehehehee *plak.

*tulisan untuk tanggal 11, saya harus merombak ulang tulisan yang seharusnya saya posting kemarin. Maafkan.

Dua Tahun ya, Papa?

father-551921_640

“Aku tidak percaya Papa akan datang.” Arin merengut masam pada Leo atas janji barusan. Leo menggaruk rahangnya yang ditumbuhi janggut tipis, merasakan kekesalan Arin.

Jangan berjanji pada seorang anak kecil dan perempuan, karena mereka akan mengingat semuanya. Arin masih berumur 10 tahun dan dia jelas-jelas perempuan! Anak itu sedang menyedekapkan tangannya lucu, bola mata coklatnya menyipit seakan menghakimi Leo. Apa yang bisa Leo katakan?

“Papa bahkan lupa minggu lalu ulangtahunku.”

“Maafkan Papa untuk yang kemarin. Arin, I promise you. We will meet in the first snow, two years again. Okay?”

“Dua tahun itu lama, Papa.” Arin menyeka matanya yang mulai membasah dengan syal merah melilit lehernya. Udara mendingin, tetapi Arin tidak mau berpisah dulu dengan Papa. Karena itu akan membuat hidupnya semakin beku.

“Tidak, selama Arin tumbuh dengan baik bersama Eyang, dua tahun akan baik-baik saja. Papa tau Arin anak hebat.” Leo mengelus puncak kepala Arin, mengenyahkan bayangan tentang Salwa yang lebih dulu pergi.

Leo sengaja mengajak Arin duduk di beranda depan sore ini, untuk berpamitan. Sejak muda, menjelajah dunia adalah jiwanya. Sedangkan fotografi adalah kesukaannya. Maka dia tidak menolak ketika salah satu majalah kenamaan mendaulat dirinya untuk dokumentasi salah satu ekspedisi di kutub utara. Termasuk meninggalkan Arin dalam dua tahun.

“Nanti Papa bawakan pinguin…”

“Bener, Pa?!” Mata Arin membulat penuh. Leo tergelak.

“..tapi fotonya aja.” Arin menyedekapkan tangan di depan, merengut lagi.
Leo serba salah. Duh, jangan bercanda dengan anak perempuan yang sedang buruk suasana hatinya. Salah lagi deh, rutuk Leo.

“Papa… Do you love me? You won’t leave me, will you? Benar ya Pa, dua tahun lagi waktu salju pertama turun?” Arin menatap tepat pada manik hitam Leo setelah puluhan detik memberi jarak pada keterdiaman mereka. Sedangkan Leo merasakan desiran dalam dadanya melihat bayang Salwa di mata Arin. Mereka terlalu mirip.

“Tentu. Papa janji. Papa always love you, Arin.”

Arin memeluk Leo dengan senyum terkembang sempurna. Arin tahu, Papa akan kembali. Arin tahu, Papa bekerja keras untuk Arin.

“Mama loves you too, Arin.” Leo membisikkan itu sembari mencium rambut panjang Arin. Leo merasa pundaknya basah dan hangat. Arin menangis, Leo mengeratkan pelukannya. Dia teringat Salwa.

***

flashfiction : 345 words

clue : salju pertama, janji, syal merah

Bongkar (Tas)!

Tema tanggal 9 ini adalah barang bawaan yang harus dibawa ketika pergi.

photo-1227_1

bongkar!

1. Dompet

Yah gimana, itu isinya lengkap banget mulai dari stnk, sim, ktp, duit, vocher diskonan, bon beli barang/jajan. Lengkap. Kalo ngga kebawa….wah menggelandang kayaknya. Pernah sih, coba nggak bawa dompet. Tapi abis itu pada bececeran semua stnk sim lalala hahahaa. Nggak lah, pokoknya harus kebawa ini mah.

2. Handphone (full battery)

Nah ini juga. Smartphone jadi alat wajib kedua  kalau pergi bahkan cuma ngadem ke ATM Hokben sana doang. Ya buat apa-apa bisa ini. Komunikasi, foto-foto, nulis, baca ebook, dengerin musik. Dan aku memang tidak memasukkan charger sebagai “harus dibawa” karena, ya begitulah. Kalau udah abis ini batere, yaudahlah. Yang harus terjadi maka terjadilah. Continue reading