Weekend Vibes

Sabtu Minggu sudah kelar dua hari yang lalu, tapi rasanya masih kebawa sampai sekarang. Apanyaa? Capeknyaaaa XD

Sabtu Minggu kemarin memang jadi hari yang melelahkan, tetapi justru menyelamatkan kakiku dari pembengkakan wkwkw.

Jumat malam aku sudah bertolak ke Batang, menghadiri undangan sepupu suami yang mau menikah Sabtu pagi. Berhubung seharian di Jumat itu aku ke kantor cabang yang lagi ngadain acara, berangkat ke Batang pun aku cuma tiduuuurr aja di mobil tau-tau nyampe hahahhaa.

Seharian di Batang aku baru menyadari banyak hal. Batang itu di pantura, pantesan rasanya puanas walaupun enggak terik. Rasanya butuh es cendol dawet walaupun akhirnya malah ketemu susu murni nasional πŸ˜€ . Dari tol Batang ke Semarang, keliatan PLTU baru bersama tongkang-tongkang batubara yang kelihatan di lautnya. Sama suami ngobrolin itu dan juga jalur kereta api bagian utara yang mepet laut. Ya beginilah kalau pasutri sama-sama orang kebumian, obrolan ga jauh-jauh dari aktivitas bumi, pertambangan, dll. Hahaha

Hari Minggunya, suami bertugas manggung bareng timnya di Hall UIN SuKa. Ow oow aku baru tahu itu yang ngadain anak-anak SMA IT ABY. Sebagai asisten pribadi, diriku musti ngintilin paksu sambil nenteng2 kamera, gorila tripod dan handphone untuk merekam semua pergerakannya wkwkwk. Dah macem lamtur ajadah uwe.

Oiya, dulu aku suka nonton konser. Ya lagu apapun lah. Ntah itu pop, dangdut, nasyid, dll. Dan emang paling suka jejingkrakan. Eh emang takdir, nikah sama penyanyi esp nasyid (mirip maher zein pula!) XD Rasanya kuingin jejingkrakan namun yakaleeee imej aku dooongg gemanaa masa emak-emak jejingkrakaaan -.- Continue reading

Protected: MATKA #2

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Perihal Ruang Lingkup

Entah kenapa aku tertarik membahas soal ruang lingkup pertemanan ini setelah merasa geli (atau gerah?) dengan narasi orang-orang di media sosial (dan ternyata banyak sekali yang mengamini) bahwa semakin tua teman kita akan semakin sedikit dan cuma itu-itu saja.

Baiklah, sharing ini dari sudut pandangku saja. Mungkin hanya aku yang mengalami saja.

Aku setuju kalau, ya, semakin tua, teman-teman dekat kita untuk berbagi cerita dan kegilaan masa muda akan semakin sedikit. Bahkan aku juga merasa kalau setiap siklus dan fase kehidupanku, temanku akan berbeda. Hal ini sudah aku sadari sejak aku lulus sekolah menengah. Teman SMP (genk) yang akhirnya berbeda sekolah saat SMA, sudah enggak pernah berkontak lagi. Setelah lulus SMA pun, tidak banyak juga yang masih berhasil kontak-kontakan sebagaimana waktu sekolah. Continue reading

10YearsChallenge?

Masih ramai di jagad media sosial soal hastag #10yearschallenge. Challenge ini concern pada apa saja yang berubah di kamu setelah 10 tahun belakangan. Menarik sih, banyak yang upload foto dirinya, ada yang upload foto karyanya, ada yang membahas soal perubahan karakter dirinya. Ada juga yang posting “buat apa sih ikutan itu? masih mending juga concern soal ini bla bla..”

Nggak, aku enggak menyalahkan satu atau yg lain. Bagiku semua orang bebas mengeluarkan pendapat di media sosialnya selama enggak menyakiti orang lain, dan enggak julid. Aku yang mengamati sih malah merasa seru aja. Orang-orang jadi melihat challenge itu berbeda sesuai dengan apa yang mereka hadapi dan pahami.

Sepuluh tahun bagiku bukan waktu yang sebentar. Banyak hal yang berubah setelah satu dekade. Tahun 2009 aku masih SMA, dimana masa-masa itu banyak sekali hal baru yang aku temui. Termasuk hijrahnya aku menjadi lebih baik versiku. Aku ingin tahu banyak hal, aku ceria tapi emosional. Aku bergaul dengan orang-orang baru dan lingkungan baru. Aku yang enggak bisa diem dan selalu butuh kesibukan.

Aku mengikuti OSIS, sekaligus penanggungjawab cikal bakal ROHIS di SMA ku. Mengurusi koperasi kejujuran yang lebih banyak rugi daripada untungnya, menjadi tim kepanitiaan event yang banyak gagal daripada berhasilnya. Jalan-jalan keliling Solo ketika weekend, merusuhi teman yang sedang download di sekolah. Fangirling idolgrup Korea sampai lupa waktu kalau di depan internet, ngefans secara freak sama Manchester United sampai nempel semua poster pemain MU di kamar asrama.

Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu dari masa itu. Banyak sekali perubahan karakter, sikap, hobi, dan pemikiran dariku. Aku masih dilihat sebagai orang periang, tetapi lebih banyak berpikir dan liar. Wkwkwk.

Aku mengenal jauh lebih banyak orang. Semakin mengenal banyak orang, semakin pemikiranku terbuka terhadap hal-hal yang kontradiktif sekalipun. Membuka pikiran, belum tentu mengiyakan segala hal. Tetapi membuatku lebih kalem saat menghadapi sesuatu, enggak meledak-ledak. Cool, Calm, and Confident πŸ˜€ ((udah kayak iklan pasta gigi))

Di usia 25 tahun ini, banyak yang berubah. Termasuk kebiasaan berpakaian. Dulu aku yang belel buluk banget, enggak suka pakai jilbab segiempat. Kemana-mana pakai kaos, rok buluk, sendal jepit atau crocs, dan jilbab kaos yang enggak nyambung sama sekali. Sekarang lebih mendingan walau sisa-sisa kebiasaan itu masih melekat juga. Dulu yang cuci muka aja pakai sabun mandi, sekarang alhamdulillah udah ngerti pakai pelembab, bedak, sama lipcream. Hahaha, sebuluk itu aku dulu yha -_-

Dan yang terakhir, soal pasangan hidup. Sepuluh tahun yang lalu masih galau move on dari patah hati. Sudah hampir enggak percaya cinta wakakak. Sekarang? Alhamdulillah aku kembali percaya pada cinta dengan pasangan yang sudah halal. Kalau saja bisa ketemu aku yang 10 tahun lalu, akan aku peluk lalu bilang “Sama yang belum halal, perasaannya biasa aja dong gausa berlebihan. Kamu tuh jodohnya sama yg anak Jogja itu bukan anak Jateng.” WKWKWKWK

Oiya, 2009 itu ternyata adalah kali pertama aku dan suami dalam satu forum. Aku mengikuti lomba Karya Ilmiah Remaja, dan dia adalah rivalku dari sekolah yang berbeda. Dan aku mana ingat peserta lain. Aku yang menang yaa, halloo hhahaha. Sekalipun pada akhirnya dia yang memenangkan hatiku, sih. WKWKWK

Yang (semoga) masih sama adalah semangat dan positif thinking yang aku miliki. Karakter mendasar seperti “introvert dan musikal” masih aku miliki sampai sekarang. AKu juga masih suka membaca dan menulis. AKu juga masih mendengarkan musik dan radio. Aku juga masih suka mendengarkan daripada berbicara.

Semogaaa selalu bersemangat dan bergerak yaaa, Luthfii :*

Terima kasih Luthfi yang dulu, sudah ndugal sekaligus tobat. Sudah mulai memperbaiki diri. Sudah belajar bagimana memutuskan sesuatu. Terima kasih sudah menjadi keren πŸ™‚

Insecurity dan Bodoamat Walau Tetap Sambat

catwomanizer

Envy is the desire to have what someone else has. Jealousy is the fear of losing what you have. The more insecure you are about yourself or your relationship, the more jealous you are, because you are afraid to lose your significant other to someone else.
.
The thing is, you can’t control other people, you can only control yourself. And you can’t stop people from doing whatever the hell they want to do. So set them free.
.
If they choose to stay committed to you, you know it’s because they want to, not because you manipulate them to do what you want.

Pernah dengar istilah insecurity? Arti harfiahnya, merasa tidak aman. Rasa aman ini muncul dari dalam diri seseorang yang mungkin menyadari kekurangan dirinya, atau melebih-lebihkan itu. Menurutku seperti itu.

Karena selama beberapa tahun terakhir perasaan itu ganas sekali muncul di perasaanku sendiri. Perasaan insecure ini mungkin datang karena trauma masa lalu, kejadian tidak mengenakkan, atau bahkan bisa juga kebawa perasaan akibat diomongin orang.

Contohnya aja ada temen yang ngomongin hasil kinerjaku ke orang lain setelah dia dikritik. Kebetulan, aku tau dia ngomongin itu (tanpa lebih dulu konfirmasi ke aku). Dan apa yang terjadi? Setelahnya aku trauma dan tidak yakin sama apapun yang aku lakukan. Perasaan takut gagal dan terlihat bodoh itu mendominasi dan sangat menyiksaku, tentu saja.

Mungkin dia enggak akan pernah menyadari.

Belajar bersikap bodoamat akhirnya aku dalami setelah kejadian itu dan aku mengalami trauma tidak hanya dalam hitungan hari. Bersikap bodoamat dengan ocehan orang. Bersikap bodoamat dengan komentar toxic yang sewajarnya mewarnai kehidupan sosyel kita pada masa ini. Sampai-sampai aku menyadari bahwa aku tidak perlu lagi membaca buku soal bodoamat itu ketika booming hari ini.

Biarpun sambat, tetaplah bersikap bodoamat.

sekian hari ini. suami sudah menjemput~

2019 : A New Challenge

Mengawali 2019 dengan berangkat telat dan pulang telat,

For me, 2018 is mine. Banyak hal terjadi di 2018 dengan segala lika-liku kehidupan yang bikin aku jungkir balik ngos-ngosan. Enggak kehitung berapa kali aku harus nyalain keran kamar mandi keras-keras dan menangis kencang di sana. Atau menunggu masjid sepi dan mewek sepuasnya. Duaribudelapanbelas memperlihatkan semua kelemahanku sekaligus membuat aku kuat. Duaribudelapanbelas menghadiahiku keluarga-keluarga baru yang sangat luar biasa baiknya. Duaribudelapanbelas membuka hatiku sekaligus kehidupanku bersama lelaki yang sangat baik dan aku mencintainya. ((mention ga nih orangnya mention ga nih wkwkwk))

Di 2018, bahkan aku harus pindah meja kerja sampai 3x hahaha. Awal tahun di lantai 1, tengah tahun di lantai 2, lalu akhir tahun pindah lagi ke lantai 1. Makaseeh pakboos XD Pindah di lantai satu malah bikin aku malas ikut senam rutin di lantai 3. Jauh mamen XD

Baiklah. Untuk 2019 nanti aku sudah mengira akan terjadi hal-hal baru yang lebih menantang lagi. Segala hal baru yang aku mulai di 2018 akan bergolak dan menjadi tantangan di 2019.

Aku berpikiran untuk resign, sih. Tapi ya masih menimbang-nimbang situasi dan kondisi. Senangnya sekarang ada tempat untuk diskusi dan berkeluh kesah wkwkwk. He’s a good listener, thanks God You gave me him πŸ™‚

Telat enggak sih aku baru mikirin apa target buat 2019? hahaha~