Menerima Diri

Kedengarannya mudah, tapi sulit. Seberapa besar sih, penerimaan diri kita? Aku juga sadar, akupun masih banyak PR untuk frasa satu ini. Jadinya ya, masihlah aku sering ngedumel, menyesal, iri, enggak pede, ngerasa susah, marah sama diri sendiri, kesel kayak nggak berguna, dll.

Jangan-jangan kamu juga ngerasa gitu? Hahaha.

Soal menerima diri sendiri ini memang susah-susah gampang. Banyak susahnya weee :p Nggak, ding. Bisa kok bisaa. Aku juga lagi latihan.

Yang paling penting itu adalah kita tau siapa diri kita. Siapa kamu? Darimana asalmu? Apa kesukaanmu? Kalau bangun tidur apa yang kamu pikirkan?

Kamu tau ngga, kalau bangun tidur aku kepikiran apa? Jawabannya ada di kata pertama :”    ((hakkdessshh, petrus kaak jankador sihombing!!))

Banyak hal yang bisa kita lakukan sih untuk mengenal lebih, ‘siapa’ diri kita ini. Bisa tanya-tanya ke temen deket, ikut tes-tes kepribadian (yah walopun ngga 100% valid tapi menurutku itu membantu menyadarkan kita wkwk), atau random tanya ke stranger yang baru kita kenal. Tapi tolong jangan SKSD :v

Kalo di Jawa, ada frase “nrimo ing pandum”. Menerima segala pemberian dari Gusti Allah tanpa iri dan pengen ini itu yang enggak bisa kita raih. Bukannya pasrah-pasrah aja tapi pasrah dengan segala ketetapan-Nya. Kalau dihubungin sama tawakal, takdir, qodo dan qodar, nah ada itu hubungannya. Manusia wajib merencanakan dan berusaha, Allah yang nantinya menetapkan. Manusia diwajibkan berusaha semaksimal mungkin, dengan penerimaan yang semaksimal mungkin pula. Sehingga kalau tidak sesuai yang diharapkan , manusia akan selalu ingat bahwa Allah menyiapkan dia untuk berhasil di bidang yang lain.

Beuh berat yak bahasannya πŸ˜‚

Apa yang kita inginkan, mungkin sebenarnya bukan yg kita butuhkan. Dulu pengen banget tuh aku kuliah di Itebeh. Eh sekarang ngga bisa muvon dari Jogja. Disuruh lama lama di Jogja ternyata sama Allah. Keren ya rencana-Nya itu πŸ˜‚πŸ˜Ž

Menerima diri sendiri berarti menerima masukan, saran dan kritik orang lain. Kecuali bad words atau toxic words yang musti dibasmi dari kehidupan, kita bisa menyerap saran dan kritik orang lain. Supaya apa? Ya supaya kita bisa bertumbuh dengan baik. Supaya kita bisa mendewasa dengan lingkungan kita. Enggak gampang tersinggung, enggak anti kritik.

Semangat memperbaiki diri itu harus selalu ada. Entah ketika sendiri maupun berdua atau sama temen-temen yang banyak. Hehehe. Ya kalau bukan kita sendiri yang berubah, gimana nasib kita bakal berubah kan, yaaa (inget QS Ar-Ra’d ayat 11) 😊😊
Jogja (udah ngga terlalu dingin)

09-08-18

Advertisements

Agustus 2018

Halo Agustus! Berteman, yuk! Bulan ini aku banyak melakukan keputusan besar. Dan berlaku seumur hidup! 

Ohya bulan Juli kemarin pun juga begitu. Melakukan keputusan besar yang berlaku seumur hidup pula. Ah benar, di awal tahun aku hanya merasa aku akan melakukan hal hal yang besar bagi hidupku. Hal yang berharga dan aku merasa akan mengubah sedikit banyak kehidupanku.

FIM 20 JOSS

FORUM INDONESIA MUDA 20

Iya! Aku ikut pelatihan FIM yang keanggotaannya seumur hidup! Menemukan keluarga baru, temanΒ² baru, inspirasi baru, semangat baru, dll! Bahagia dan seharusnya aku memanfaatkan kesempatan ini dgn baik, kan? πŸ˜‰ 

Agustus sudah datang. Semoga semuanya berjalan lancar. DegΒ² an? Pasti. Haha. Keputusan besar yang akan mengubah hampir seluruh pola hidupku ((yg selama ini berantakan)) πŸ™ˆ

Bismillah !!

July’s Crowd

Juli akan menjadi bulan yang sangat sibuk. Beberapa kegiatan di tengah Juli menyita berikut dengan pekerjaan2 sebelum hari H. Belum lagi persiapan beberapa event di akhir Juli dan Agustus. Ngelist daftarnya aja udah pengen nangis, Gusti…

Perihal kesibukan seharusnya sudah biasa. Yang membuat enggak biasa adalah cara orang-orang di dalamnya menghadapi. Berkomunikasi dengan kekuatan2 besar. Berjuang ngalahin ego diri sendiri, sabar ngadepin segala sesuatu ini.

Semoga ya, semoga. Semoga tetep bisa kalem walau porak poranda huhuhu.

πŸ˜‰

Palung #8

aku rindu;

remang kilaunya memburai

sepersekian hari jam detik milisekon

cuma kamu yang mengerti

aku juga;

melaju aksara tanpa temu

rindu itu

belum padam, Kasih

abadi.

Detoks Ponsel [13/30]

mobile-phone-samsung-music-39592

Aku pernah detoks ponsel.

Kira-kira dua tahun lalu, persis di awal tahun. Aku sedang menyelesaikan pengambilan data untuk skripsi. Menunda satu semester untuk mengerjakan skripsi adalah keputusan yang tidak main-main. Tetapi banyak hal berharga yang aku dapatkan terlepas dari terlambatnya aku daripada teman-temanku.

Proses pengambilan data sudah selesai. Aku hanya tinggal mengolah dan menuliskannya dalam bentuk draft skripsi. Nahas, tepat ketika hari aku harus kembali ke Jogja, aku ambruk. Gejala tipes dan vertigo rupanya berbangga hati bisa menumbangkanku. Aku harus bedrest selama 2 pekan di rumah.

Selama itu, aku hanya mengabari mentorku, dan teman kontrakanku kalau aku belum bisa kembali ke Jogja. Tidak ada yang tahu aku kenapa. Kebetulan paket dataku juga habis dan aku enggan beli lagi. Waktu itu aku berpikir, kenapa enggak sekalian aku detoks ponsel aja? Matikan ponsel, taruh dimanalah entah, lalu hidup secara alami tanpa bantuan ponsel sama sekali.

Aku berhasil, dan merasakan kualitas hidup yang sedemikian rupa menjadi meningkat. 

Ponsel cuma available untuk telepon dan sms. Dan itu menyenangkan! Maksudku, ayolah, seseorang yang rela menghabiskan pulsanya untuk menghubungimu tidak lewat media sosial, pastilah dia menganggapmu penting, kan? Hahaha. 

Dalam hati aku pengin melakukan hal itu lagi. Detoksifikasi internet dan media sosial. Menghindarkan diri dari hal-hal menyebalkan, informasi yang sedang ramai, membersihkan hati dari .. julid? Haha.

Lagian, siapa yang akan mencariku? 

Ibu Kita Kartini [11/30]

pexels-photo-258291

Aku sudah pernah cerita kesukaanku mendengarkan musik. Sepertinya gen musik terbentuk juga di tubuhku. Simbah dan Abi, adalah 2 orang yang sangat mempengaruhiku bagaimana aku suka musik dan bisa menerima berbagai genre musik dalam kepalaku.

Tapi aku enggak pernah mengembangkan potensi itu. Jadi hanya sekedar hobi dan kesenangan semata saja. Padahal kalau ditekuni, suaraku lumayan bagus lhoo. Jaman SMP mapel musikku dapat A karena suaraku bagus dan cocok sama lagunya, kata guru musikku yang terkenal killer itu hehehe. Kalau sekarang? Yasudah jangan ditanya lah, penyanyi spesialis solo singer di kamar gini. Sekedar upload hasil cover-an saja aku enggak bakal berani hihihi.

Dan yah, kemampuan musikalku sekarang hanya mentok di aku bisa mengingat lirik dan nada dengan cepat dan komprehensif ((alamak bahasane…)).

Ngomong-omong soal nada, ada satu judul lagu yang bahkan sampai segede inipun aku tetep ingat nada doremi-nya. Ini karena Umi, dulu jadi guru KTK ((sumpah KTK, do you remember, guys?? Kerajinan Tangan dan Kesenian!)) sewaktu aku SD. Waktu itu praktek keseniannya main piano dengan lagu Ibu Kita Kartini. Disuruhlah menghafal nada doremi-nya sampai hapal baru praktek di piano.

Do re mi fa sol mi do

La do si la sol

Fa la sol fa mi do

Re fa mi re do

Fa mi fa la sol la sol mi do

Mi re mi fa sol mi

Fa mi fa la sol la sol mi do

Mi re fa si re do

Hehe. Masih hafal kan πŸ˜€ Ya tapi cuma itu aja yang masih aku hafal sampai sekarang. Lagian, ada ya dari kalian yang enggak hafal nada lagu Ibu Kita Kartini??

 

Hari ke 11 dari #30HariBercerita

Lokasi Baru [10/30]

pexels-photo-140945

New year is a new workspace, for me. Per Januari 2018 ini meja kerjaku pindah ke lantai 1. Yah, jobku yang sedikit bergeser dari tahun lalu membuat workspaceku juga bergeser. 

Tempat baru, teman baru, kondisi yang sama sekali baru. Biarpun satu gedung, kebiasaan dan lingkungan kerja di lt 1 dan lt 2 pun berbeda. Kalau di lt 2 cenderung hening dan sibuk dengan kerjaan masing-masing meskipun kadang masih ngobrol, di lt 1 cenderung ramai dan sering banget ngobrol. Mulai urusan kerjaan sampai drama korea juga dibahas. 

Aku terbiasa kerja di kondisi yang hening. Setidaknya hening dari suara manusia. Kadang cuma suara musik, atau murottal,  atau malah tanpa suara. Jadi sekarang harus membiasakan diri untuk fokus di lingkungan hingar bingar obrolan ini. 

Ya karena tipe orangnya sudah berbeda, jadi sangat wajar, kan? 

Semoga aku bisa melewati masa adaptasi dengan baik. Lalu bisa menjalankan target-target 2018 dengan maksimal. Tidak lupa juga, hal-hal menyenangkan semacam ngeblog ini jangan sampai terlupakan lagi. Hehe.