Interlude?

pexels-photo-91413

Tik tok tik tok

Tak ada yang mendengar selain diri kita sendiri. Diam-diam kita menghitung jarak, lalu hari. Tidak demi apapun, kecuali setiap milisekon yang kita jalani. Di antara itu denting yang benar-benar sunyi.

Seperti ada yang hilang, lalu tidak kita hiraukan. Nomina verba adjektiva, melangsakkan dirinya dalam hampa. Habis kata, istirahat semua kata.

Namun, siapa lagi yang akan peduli. Selama itu kamu? Selama itu aku?

**


 

Akhirnya mengisi blog lagi, setelah …. lama ya. Dan, sekalinya ngisi kok begini? Yasudahlah. Inilah usaha menulis diantara tumpukan kerjaan. Harusnya aku tidak boleh kalah. Begitu, bukan?

Jogja, 25 Mei 17

Langkah-Langkah April

challengeapril

“Aku ingin baca banyak buku.”

Kukatakan itu dengan penuh sesal. Sekalipun secangkir teh hijau sudah berhasil menghangati tenggorokan dan perut, rasanya bayangan buku-buku tak terselesaikan masih membeku di ingatanku.

Maret mengincarku tanpa ampun. Seperti bayangan, dia mengikutiku kemanapun aku pergi ketika cahaya menghambur. Lalu meninggalkanku sendirian dan sunyi ketika cahaya mengabur.

“Tanggal-tanggal di April sudah hampir penuh, aku tidak tahu kapan aku memiliki diriku sendiri.”

Satu-persatu angka dikelilingi tinta hitam dan sebuah keterangan. Aneh seperti polkadot yang berselang-seling. Ini tidak akan pernah selesai. Ini sebuah langkah, jangan-jangan.

Padahal Maret sudah berlalu, tetapi bayangannya masih terasa melingkupi. Jejak langkah yang kutinggalkan rasanya masih pelan-pelan menapaki April.

“Tidak. Aku cuma mau baca banyak buku,” sahutku sambil tersedu.

Manusia Biasa

At the very first time, aku mengaku mengagumi sosok² itu. Terlebih yang selama ini di sekitar lingkaranku. Well, I’m not in that circle, but I know them. Sosok² yang bersahaja, selalu berjuang, do everything in a good way. Aku mengagumi itu.
Hingga pada akhirnya, beberapa hari ini aku berinteraksi dengan yang lebih luas, lebih jauh, lebih lama. 

Sepertinya Tuhan mau beritahu aku, “Hey sadarilah, mereka manusia. Sama sepertimu, sama seperti yang lain. Lihat bagaimana mereka berkata, bagaimana mereka menggunakan otak mereka, bagaimana mereka menghormati sesama.”

Manusia. Kami tidak ada beda. Tidak ada manusia berhati malaikat, putih bersih dari alpa. Dari mereka aku belajar bersabar. Mau apa lagi selain itu? 

Aku semakin mengerti, manusia tetaplah manusia. Kadang ego dijunjung tinggi, kadang ketaatan tidak dibarengi dengan penghormatan, kadang lidah tidak menjaga hati.

Semoga Allah kuatkan hati-hati kalian, aku, dan kita semua 🙂

Membedah Ikan

Membedah “Semua  Ikan di Langit”

Semalam, bertepatan dengan malam Minggu, aku menyengajakan diri datang ke kegiatan rutin sebuah komunitas. Namanya Klub Buku Yogyakarta (KBY). Aku baru gabung sekitar 2 pekan di komunitas ini. Diskusi pekan lalu aku nggak bisa hadir karena suatu hal. Alhamdulillah diskusi pekan ini aku bisa datang.

Pekan ini, Bengong Bersama KBY (BBK) membedah buku “Semua Ikan di Langit” karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (YEAH! Aku berhasil nulis namanya dengan benar dalam sekali ketik!) yang jadi pemenang lomba penulisan novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016.

Hasil gambar untuk semua ikan di langit

via goodreads.com

Penasaran, akhirnya kami membedah buku itu, di bawah lindungan atap Libera Coffee. Diawali oleh Kak Moo, akhirnya diskusi bergulir meningkahi hujan (dan angin) yang sesekali datang.

Ada yang menyampaikan sisi religi, ada yang menyampaikan sisi gaya bahasa, ada yang menyampaikan jenis penceritaan yang dipakai, dan lain-lain. Setiap orang punya interpretasi dan pendapat masing-masing. Ada juga yang cuma bengong (sesuai nama acaranya!) karena belum baca itu buku. Hahaha.

DSC01269

pas diskusi

Dan ya, buku ini awesome banget! Membahas banyak hal dalam satu hal (piye kui). Banyak pula hal-hal yang terlihat sederhana namun banyak makna. Atau hal yang rumit namun sederhana. Tapi perlu diingat, ini buku fiksi. Kekadang orang suka nyebelin kalo baca buku fiksi.

“Apaan sih ngayal banget ceritanya!”

Yah, namanya buku fiksi, bos. Pengarang ya  ngayal, lah! Ndobos, istilahnya, kalo kata bosque.

Ohya, tadi malam juga aku pesan kopi Toraja (iye, anaknya ga kuat  kalo nge-robusta) pake V60. Dan aku bengong ketika dikasih sebacam botol kek gini buat nampung kopinya, ahahahaaa.

DSC01271

kopi !!

Dugaanku, kopi ini diseduh dengan air bersuhu di atas 90. Puanaasss. Hahaha. Rasa asem yang medium, kusukaaaa banget. Nggak terlalu asem, tapi masih kuat. Ada aroma dan rasa lain selain asam. Tapi karena lidahku belum peka jadi aku ngga bisa jelasin hahaha. Enak-lah pokoknya! Harganya juga cuma 13rb.

Asik juga kedai kopi ini, banyak buku! Banyak banget! Dan aku ngiler karena buku-buku yang aku pengen baca ada banyak di sini huhuhu. Okey maz aku bakal balik lagi eheheh.

Sekian liputan tadi malam!

Puisi Puisi

WhatsApp Image 2017-03-22 at 11.35.08.jpeg

Ternyata aku cuma punya 2 buku puisi ini. Kebanyakan buku puisi, aku pinjam dari perpustakaan.

Hujan Bulan Juni, kurasa masih jadi buku beliau yang terlaris. Ya, kan?

Nah buku itu, aku masih inget banget ceritanya.

Buku puisi Hujan Bulan Juni ini, aku nggak beli sendiri. Seorang teman, sebut saja H, memberikannya padaku. Awalnya, H tanya ke aku apa puisinya Pak Sapardi bagus menurutku? Bagus bangetlah, kujawab. Kebetulan waktu itu aku sudah punya novel Hujan Bulan Juni, jadi aku juga bilang ke dia ceritanya tentang apa. Ternyata selidik punya selidik, dia mau belikan buat gebetannya 😄

Beberapa hari setelah itu, dia tanya ke aku lagi. “Pi, mau enggak aku kasih buku puisi Hujan Bulan Juni?” Ya jelas aku maulah. Dikasihlah buku puisi dan novelnya ke aku. Dapet 2 ! Hahaha.

Ternyata, gebetannya lagi naksir buku lain, bukan buku itu padahal dia udah telanjur beli. LoL 😀

 

Menyembuhkan Luka ala Puthut EA

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

[sebuah review gadungan]

WhatsApp Image puthut ea

Judul Buku : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Penulis : Puthut EA

Penyunting : Eka Kurniawan

Jumlah halaman : 263

Penerbit : Buku Mojok

Aku, seseorang yang tengah patah hati dari cinta, dan berusaha menyembuhkan luka. Caranya-seperti banyak quote  yang bertebaran di dunia maya- adalah menemukan cinta yang baru. Tetapi kenyataannya, jatuh bangun kehidupan cinta “Aku” justru makin membuatnya trauma dengan cinta.

Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi, biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya. (hal 8)

Sejujurnya, ini adalah buku pertama Puthut EA yang saya baca. Saya memutuskan membeli buku ini karena (1) judulnya dan (2) format novel. Setahu saya, Puthut lebih banyak menelurkan buku kumpulan cerpen, jadi saya memilih buku ini. Semata-mata karena saya lagi pingin baca novel (dan pas diskonan pula).

Novel ini bahasanya ringan dan ngalir. Tidak menggunakan kosakata dan diksi belibet. Saya menikmati setiap kata sembari mengimajinasikan dalam kepala. Kondisi tokoh utama yang mengenaskan, bisa jelas terasa. Begitupun dengan perempuan-perempuan yang hadir dalam kehidupan cintanya, tak pernah tepat waktu.

Move on, jelas bukan pekerjaan mudah. It’s hard but you can. Ada kenangan dan rindu yang siap-siap menikam. Tanpa aba-aba. Hal itu cukup membuat “aku” frustrasi hingga menenggelamkan diri dengan alkohol dan psikotropika. Badannya jadi sering sakit dan demam mendadak.

Kenangan itu seperti kubangan lumpur hidup. Tanpa sadar kita telah terperosok di dalamnya, dan ketika kita mencoba untuk keluar dari kubangan itu, ia semakin menyedot masuk. (hal 173)

Walaupun alurnya maju-mundur, saya tetap bisa menikmati novel ini. Mengetahui apa yang terjadi dan mengapa begitu secara komprehensif. Pun bagaimana “aku” mengobati lukanya, membuat saya juga tertarik melakukan hal itu. Penasaran. Namun saya sampai di akhir tetap tidak menemukan siapa sih nama si tokoh aku ini?

Nah, sepertinya novel ini memang bersumber dari kisah nyata. Di bab “Kania, Perempuan Itu” tokoh “aku” menceritakan pertemuannya dengan Puthut EA, Eka Kurniawan,dkk dan rencana Puthut menovelkan kisah “aku”.  Di halaman Ucapan Terima Kasih saya juga menemukan nama-nama tersebut.

Ingatlah, salah satu tugasku yang paling menyenangkan adalah mencoba memberi harga pada berbagai peristiwa, juga hal-hal yang sepintas dianggap tidak menyenangkan. (hal 246)

Jadi Bung N, bisakah kau ajari saya menyembuhkan luka?

 

~Jogja, ditengah lagu2 NDX 

Menggenggam Kunang-kunang

Kunang-kunang enggan terbang. Mungkin dia pikir, percuma mengalahkan lampu yang lebih dulu gemerlap tanpa aba-aba. Kunang-kunang enggan berperang. Dengan cahaya yang tak seberapa, dia tahu akan kalah begitu saja. Tak dianggap, sekilas lalu, lalu hilang.

Ada yang termangu di tepi saung. Menanti merah senja perlahan menghitam. Ada gelombang sesak yang menunggu  waktu untuk menghantam sudut mata.

Dia ingin kunang-kunang. Dia lelah dengan gerlap cahaya lampu. Dia merindukan kesederhanaan.

Kunang-kunang beranjak terbang. Masih enggan. Namun dia harus. Sekalipun nyala lampu begitu mengganggu.

Langkah kaki menjauhi saung. Pelan, penuh dengan pikiran yang bingung. Dia melihat kunang-kunang. Lemah terbangnya, muram cahayanya. Kunang-kunang berhenti. Lalu menatapi dua bola mata kelam. Rautnya penuh ragu dan luka. Dia yang mendamba sederhana. Dia yang menginginkan kunang-kunang saja yang bercahaya. Lalu dia, dengan tangan kanan menggapai kunang-kunang. Hap!

Kunang-kunang terdiam, dia tergenggam. Ada yang mengharapkannya datang. Hatinya temaram.