SMS pagi itu..

Di sebuah pagi yang kelam .

Aku mencoba . merangkai kata, dan mengirimkannya padamu, sobat. Lama tak bersua walau dengan dunia maya karna kesibukan kita. Tak hanya padamu. Ku ingat itu. Mungkin yah, hanya beberapa baris kata, yang semoga mengingatkan kita semua. Lalu aku tersentak.

Kau. Hanya membalas dengan beberapa kata. Tapi itu cukup membuat ku tak tenang. Cukup membuatku tergoyahkan.

“sori, ini siapa?”

Aku terdiam menganga. Luka itu. Kembali timbul untuk sekian kalinya, luka yang pernah kau buat beberapa waktu lalu. Melupakan ku. Itu yang kamu mau? Ketika dunia baru tlah membelai anganmu. Lalu melupakanku? Dunia lama yang kau tinggalkan begitu saja. Tanpa kata-kata. Tanpa air mata. Tanpa suara.

Brak! Kubanting hp murahanku. Aku duduk di tepi kasur dengan wajah pias. Jadi begini.  Skema kehidupan yang kau kembangkan sendiri. Terpaksa lupa, atau memaksakan diri untuk lupa? Jantungku berdetak tak karuan. Sungguh. Ada apa ini. Kau membuatku tidak tenang. Sobat… apa aku harus berkata padamu bahwa ini aku? Ataukah aku hanya diam saja menahan sakit atas perlakuanmu sampai kau ingat itu nomor hp ku? Aku tersenyum pahit. Terlalu linglung memutuskan bagaimana.

Semoga hanya kau yang lupa. Semoga aku tetap ingat padamu. Ingat saat perjuangan kita bersama. Ingat saat aku menangis karena mu. Menangis yang entah aku kesal,aku sedih atau apapun itu yang kau tak melihatku menangis. Ku ingat itu.

Dan aku tertawa sambil meneteskan air mata …..

Goresan ini hanya sebuah arti. Bahwa aku akan mengingatmu. Membenamkan jiwamu di antara neutron otakku. Merasakan jiwamu di relung hatiku. Semoga. Semoga bukan hanya janji semata.

* I will rewrite it again, our story will not end

I will bury the fact that reality is seeping into my skin for now

I rewrite it once again, the start beginning with you and I smiling happily

In case you will leave me, the background is a small room without an exit*

#B2ST-Fiction(joker’s rap)#

su’udzan lagi ?

Kenapa harus su’udzon ?

Satu waktu aku termangu. Tersentak melihat kenyataan yang ada. Ternyata prasangka buruk itu sudah merajalela di antara kita sodara-sodara !! lalu kenapa kita bisa su’udzan kalau belum kroscek atau Tanya ke yang bersangkutan? Aku punya cerita yang semoga bisa mengingatnkan kita agar tak mudah su’udzan .

“ jadi ceritanya begini. Satu pagi itu, kami “terpaksa” masuk kampus untuk mengambl kartu ujian akhir semester di bagian pengajaran. Setelah beberapa minggu di serbu tugas besar. Secara otomatis kami kumpul di lobi lantai 1. Ada yang belajar, ada yang ngobrolin tugas besar yang udah lewat, ada ayng nggosip, ada juga yang galau laporan fieldtripnya belum dibagiin karena bahan uas ada di situ. Nah singkat cerita beberapa temenku ngambil laporan fieldtrip ke asdos geologi di JTGL. Dateng2 dia bawa bertumpuk-tumpuk laporan. 93×2= 186 laporan lah. Nah seperti adat mahasiswa manapun yang kalo laporannya di bagiin pasti langsung merubung dan mengacak2 laporan2 itu. Ada temen di sampingku yang iseng2 membaca laporan milik X. tulisannya super duper baguuus banget. Rapi nan indah. Nilai laporannya pun juga bagus. Secara spontan entah kenapa, temenku itu langsung berkata ,”ni si X pasti laporannya dibikinin nih. Tulisannya masa iya sebagus ini.” Wek !! aku langsung tersentak. Spontan aku minta kertas laporan itu dan tanpa ngomong apa apa aku langsung membuka lembaran2 terakhir dimana catatan asli yang di acc asdos harus dilampirkan. Aku tersentak. Tak seperti catatanku maupun temen2 pada waktu fieldtrip kacau dan ngga jelas, catatan si X sangaaat rapi !!! padahal itu catatan langsung pas pengamatan !! aku langsung tau kalo laporan ini dia buat sendiri tanpa minta tolong ditulisin orang lain. Laporan itu aku kasih ke temenku tadi ,”Ngawur banget kamu ngomongnya,dia itu bikin sendiri yo. Itu emang tulisannya dia yang rapi. Kalo ngga percaya liat punya dia yang acc-an. Itu kan waktu kita catet langsung pas di lapangan.” Dia langsung baca yang acc-an dan terdiam. Aku tersenyum. “
Yah. Begitulah. Fenomena su’udzan yang sudah meluas. Astaghfirullahal adzim… semoga menjadi pelajaran untuk kita agar ngga gampang su’udzan sama orang lain.