su’udzan lagi ?

Kenapa harus su’udzon ?

Satu waktu aku termangu. Tersentak melihat kenyataan yang ada. Ternyata prasangka buruk itu sudah merajalela di antara kita sodara-sodara !! lalu kenapa kita bisa su’udzan kalau belum kroscek atau Tanya ke yang bersangkutan? Aku punya cerita yang semoga bisa mengingatnkan kita agar tak mudah su’udzan .

“ jadi ceritanya begini. Satu pagi itu, kami “terpaksa” masuk kampus untuk mengambl kartu ujian akhir semester di bagian pengajaran. Setelah beberapa minggu di serbu tugas besar. Secara otomatis kami kumpul di lobi lantai 1. Ada yang belajar, ada yang ngobrolin tugas besar yang udah lewat, ada ayng nggosip, ada juga yang galau laporan fieldtripnya belum dibagiin karena bahan uas ada di situ. Nah singkat cerita beberapa temenku ngambil laporan fieldtrip ke asdos geologi di JTGL. Dateng2 dia bawa bertumpuk-tumpuk laporan. 93×2= 186 laporan lah. Nah seperti adat mahasiswa manapun yang kalo laporannya di bagiin pasti langsung merubung dan mengacak2 laporan2 itu. Ada temen di sampingku yang iseng2 membaca laporan milik X. tulisannya super duper baguuus banget. Rapi nan indah. Nilai laporannya pun juga bagus. Secara spontan entah kenapa, temenku itu langsung berkata ,”ni si X pasti laporannya dibikinin nih. Tulisannya masa iya sebagus ini.” Wek !! aku langsung tersentak. Spontan aku minta kertas laporan itu dan tanpa ngomong apa apa aku langsung membuka lembaran2 terakhir dimana catatan asli yang di acc asdos harus dilampirkan. Aku tersentak. Tak seperti catatanku maupun temen2 pada waktu fieldtrip kacau dan ngga jelas, catatan si X sangaaat rapi !!! padahal itu catatan langsung pas pengamatan !! aku langsung tau kalo laporan ini dia buat sendiri tanpa minta tolong ditulisin orang lain. Laporan itu aku kasih ke temenku tadi ,”Ngawur banget kamu ngomongnya,dia itu bikin sendiri yo. Itu emang tulisannya dia yang rapi. Kalo ngga percaya liat punya dia yang acc-an. Itu kan waktu kita catet langsung pas di lapangan.” Dia langsung baca yang acc-an dan terdiam. Aku tersenyum. “
Yah. Begitulah. Fenomena su’udzan yang sudah meluas. Astaghfirullahal adzim… semoga menjadi pelajaran untuk kita agar ngga gampang su’udzan sama orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s