Negeri di Balik Kabut -part 1

Meringis  aku merasakan panas yang menggigit kulit di Jogja ini. Aiiissshhh… panas betul Jogja ,ya Allah …. Dan tiba tiba aku mersakan kangen yang dalam terhadap rasa dingin menusuk tulang itu. Pikiranku mengembara, terbang bersama kenangan yang rapi tersimpan dalam memori otak ku yang terlampau besar ini.

            Jum’at, 11 Mei 2012

Suara teriakan membahana ketika kami datang dengan susah payah setelah menapaki jalanan berbatu cadas dengan tebing di kanan dan jurang di sebelah kiri. Lantas mereka berebut mencium tangan kami. Seketika aku tertegun. Sampai seperti ini kah? Lalu malu malu mereka menyebutkan nama mereka. Aku tersenyum, dengan otak yang bekerja ekstra untuk menghafal nama mereka. Dan sejenak aku membatin, “Allah…aku kuat ngga yaa disini 3 hari…”

Maka hari pertama kucoba menjalani dengan keyakinan dan basmalah. Dan terkejut terkagum meihat sambutan mereka semua. Dengan wajah yang memerah karena malu dan melirik lirik kanan kiri takut salah, bergantian adek adek kecilku “manggung”. Dan aku nyaris tak bisa menyembunyika rasa terkejut karena mereka! Wow saja, aku baru kenal nasyid “Bingkai Kehidupan” dan “Merah Saga” itu masuk SMA loh. Dan mereka sudah lancar menyanyikannya! Subhanallah, militan banget euy! Acara tak berhenti sampai disitu ternyata! Sesi sambutan dan perkenalan menjadi ajang gokil-gokil an dan si ketua KKD habis mengerjai kami semua, ckckck.

Kak Aziz dan Kak As’ad tak ragu membagi info dengan aku dan teman teman KKD yang di Batur. Sekedar info saja, pada awalnya yang datang KKD di Batur cuma aku, maryam, iqlimah, majid, trias, taufik. Namun justru dalam keterbatasan member itu kami merasakan kekeluargaan yang dekat. Maka tanpa adanya konsep acara yang jelas karena kami memang ditempatkan di desa ini dengan tiba tiba, kami segera membuat acara untuk keesokan harinya. Susah memang, kami hanya berenam. Dengan dana yang tak memadai pula. Akhirnya kami memutuskan untuk berbaur saja dengan masyarakat dusun. Kami merasakan, hal itu satu satunya cara yang efektif ditengah keterbatasan kami.

Sabtu, 12 Mei 2012

Meski dingin masih mencambuki tangan dan kaki, aku menapaki jalan dari homestay menuju masjid yang tak begitu jauh. Aku merapatkan jaket yang malah terasa semakin dingin. Semalam nyaris tak bisa tidur aku. Dingin nya angin musim kemarau benar benar menyiksa seluruh tubuh! Menggigil tiada henti dan mencoba mencari apapun untuk menghangatkan badan. Brrrrrrr…… pantas saja Kak Aziz menertawai kami kemarin sore. Katanya,”Wah, kalian kesini pas musim kemarau. Rasakan aja nanti malem..”

Di masjid aku melihat adik adik telah selesai melaksanakan sholat subuh. Hmm, cukup banyak juga yang ikut sholat berjama’ah. Mata mereka masih merah. Setelah itu, kucoba mendekati mereka. Kata Kak Aziz, setiap habis sholat subuh mereka harus muroja’ah hafalan mereka. And who knows… hafalan mereka sangat SSUUUPPERRRR !!! Juz 30 sudah mereka tuntaskan! Dalam umur dan keterbatasan di daerah terpencil seperti itu …..hemmm…. Aku sendiri merasa tertampar, mengingat hafalanku yang nggak maju maju. Malah justru bolong bolong gara gara ngga di muroja’ah. Astagfirullah …. Akhirnya aku mendengar muroja’ah mereka dan tertampaaaarr sekali! Lancar bangeeeet euuyy!!

Selepas murojaah dan maen maen singkat, kami pun berpisah. Yep. Saatnya mereka untuk sekolah. Akupun beranjak menuju homestay. Lapaaaarrr…. Jadi mau tak mau kami harus memasak sendiri. Okay then, apa yang kita punya untuk makan pagi ini? Baru aku ingat, yah…..kami tak punya apa apa. Kemarin pun lupa hendak membeli lauk. Kemana pula iqlimah dan maryam? Huft, di saat tak ada sinyal dan sangat butuh makan begini malah tak ada mereka. Aku bingung di depan tumpukan barang barang kami. Tiba tiba iqlimah muncul dan mulailah kami memasak bahan makanan yang seadanya. Maryam pun datang pula dengan arifah. Yap tambah satu member lagi, untunglah.

Selepas mengisi perut dengan seadanya, kami mulai bergerak keluar homestay. Plan A, kami mau ikut ke ladang tempat dimana masyarakat mengurus kebunnya atau sekadar ‘ngarit’ cari rumput buat ternak di rumah. And who knows, perjalanan ke ladang sungguh berat,boy! Harus mendaki dan menuruni bukit yang licin. Tak terbayang jika sedang musim hujan, sudah pasti tak terhitung berapa kali aku bakal tergelincir. Sepulang dari ladang, kami pun berencana untuk survey tempat FAS esok hari. Eh tak disangka kami diminta mampir di sebuah rumah. Akhirnya beberapa dari kami menuruti ajakan tuan rumah. Dan tenyata, tuan rumah tersebut adalah mantan Kadus sebelumnya. Dan berutunglah kami bisa mengorek info lebih banyak J.

Selepas main main ke rumah rumah warga dan survey sejenak, kami balik ke homestay untuk masak dan makan siang plus bersih bersih diri. Setelah itu kami mengajak adik adik TPA untuk main main. Tetapi jelas main mainnya ini cerdas. Mereka kami suruh menuliskan cita cita mereka. Dan Subhanallah sekali, cita cita mereka kebanyakan ingin menjadi hafidz/ah dan ustadz/ah! J Setelah agenda main main dengan adik adik saatnya kami menyasar untuk ibu ibu. Kami adakan lomba masak. Awalnya kami pikir akan sederhana saja karena mendadak. Tetapi ternyata tidak! Para ibu justru sangat meriah dan masakannya supeeeerrrr enaaaaaaaaaakk hehehehe.

Malamnya setelah kami berpuyeng puyeng menentukan siapa yang menang karena semua masakannya enak enak, akhirnya kami makan masakan itu bersama sama dengan  adik adik dan warga. Selesai makan kami pun nonton bareng film “denias”. Dan kami pun segera briefing untuk acara FAS esok hari.

 

—to be continued—

2 thoughts on “Negeri di Balik Kabut -part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s