tugas PSDAL pertama

eng ing eeeng .. *udah kaya gayanya si tm2000 nih saya -.- *

kali ini saya akan kultwitkan ,eh salah,  saya akan postingkan tentang tugas mata kuliah Pengelolaaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSDAL) beberapa waktu lalu. tumben amaaat?? iya nih, biar blog ini gak dibilang blog curhatan mulu :p sekalian bagi2 ilmu gitu kan yaa sapa tau lagia ada yg butuh. atau ntar para adek2 tingkat kalo dapet tugas ini jadi bisa nengok di blog aku hahahah 😀

ceritanya, kami -pake kata kami, soalnya aku berdua sama seorang cowok yang dipartnerkan dengan paksa oleh ketua kelas, mustinya 3 orang, tapi akhirnya cuma berdua karena ternyata yang satu orang itu gak ambil matkul ini, heuh.- diminta analisis tentang kasus penambangan pasir besi di pesisir Kulonprogo. udah lama sih tapi masih oke kok kasusnya kalo mau dibahas. soalnya ada unsur politis2 nya gitu, ngeri ngeri sedaaaap 😀 ._.v

udah deh, cekidot aja  >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Analisis Kasus Penambangan Pasir Besi di Pesisir Kulonprogo

Beberapa waktu lampau, masyarakat Kulonprogo dikejutkan dengan keputusan Pemda setempat terkait dengan perizinan penambangan pasir di pesisir Kulonprogo yang diduga mengandung besi kepada PT Jogja Magasa Iron (JMI). Hal ini menimbulkan reaksi yang cukup keras di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Bahkan terjadi demo besar-besaran yang melibatkan tidak hanya warga Kulonprogo namun juga masyarakat di luar Kulonprogo. Mengapa hal itu terjadi? Apa penyebabnya? Siapakah dalang dibalik semua ini? Dalam artikel ini, kami akan mengulas tentang kasus penambangan pasir ini.

Sebelum tahun 1980-an, kawasan pasir pesisir tidak bernilai ekonomis apapun. Wilayahnya gersang sehingga warga masyarakat tidak tertarik untuk mengembangkannya. Namun sejak 1980, kawasan pasir pesisir ini mulai dijadikan lahan pertanian. Kegiatan mencoba bercocok tanam di atas lahan pasir berkembang pesat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas, perkembangan teknik pengairan dan pemupukan membuat hasil panen cabe, melon dan semangka semakin baik dan banyak. Bersamaan dengan itu pula, jumlah masyarakat yang ikut bercocok tanam bertambah pula. Puncaknya, awal tahun 2003 terjadi pertanian masif di pesisir Kabupaten Kulonprogo. Lahan pasir di pesisir Kabupaten Kulonprogo berubah menjadi lahan pertanian yang subur.  Bahkan kawasan ini menjadi lahan pertanian massif untuk tanaman Buah Naga.

Di awal tahun 2005, masyarakat mulai mendengar isu mengenai rencana penambangan pasir besi di pesisir Kulonprogo. Namun awalnya masyarakat tidak memperdulikan hal tersebut karena memang belum ada kejelasan informasi langsung dari Pemda. Namun ketika tahun 2006, permasalahan mulai mencuat kembali. Warga dibuat resah karena beberapa pihak menginformasikan bahwa Pemda akan melakukan penambangan tanpa adanya transparansi dengan pihak warga. Mulailah gelombang protes melanda Kulonprogo terlebih oleh para petani yang merasa dirugikan dengan adanya penambangan di kawasan pasir pesisir ini.

Dari kasus diatas, kami membuat analisis mengenai penyebab dan dampak penambangan pasir besi di wilayah pesisir Kulonprogo ini. Dalam pengamatan kami, kegiatan penambangan pasir besi memiliki kelebihan serta kekurangan yang tidak bisa dipungkiri. Secara umum pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-butiran dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin. mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit, Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan ubahan dari magnetit dan ilmenit. Mineral bijih pasir besi terutama berasal dari batuan basaltik dan andesitic vulkanik. Kegunaannya pasir besi ini selain untuk industri logam besi juga telah banyak dimanfaatkan pada industri semen. Secara ekonomi, penambangan pasir besi bisa meningkatkan pendapatan APBD Kulonprogo jika diolah dengan maksimal. Selain itu, aktivitas penambangan yang jelas jelas memerlukan banyak Sumber Daya Manusia (SDM) akan menarik masyarakat sekitar untuk bergabung dengan kegiatan penambangan.

Akan tetapi, kegiatan penambangan pasir besi ini tidak dapat dipungkiri akan memberikan dampak negatif dalam perkembangannya. Dalam pengamatan kami, dampak negatif tersebut bisa terjadi di 3 segmen. Pertama karena proyek tersebut mengancam kelestarian lingkungan pesisir sebagai ekosistem maupun penahan gelombang laut. Kedua karena proyek tersebut akan menggusur mata pencaharian petani lahan pantai yang selama ini menggantungkan hidupnya dari pertanian di kawasan tambang. Ketiga karena belum jelas apakah tambang tersebut akan menguntungkan bagi rakyat Kulon Progo secara luas.

Dalam bidang SDA sendiri, selama ini proyek pertambangan yang terjadi di Indonesia banyak menuai kontroversi. AMDAL yang disusun tidak pernah secara gamblang dikerjakan. Seakan hanya menjadi sebuah pencitraan agar proyek pertambangannya terkesan ramah lingkungan. Padahal kita tahu bahwa tanah tanah yang sudah tidak dipergunakan akan ditinggalkan begitu saja menghasilkan lubang-lubang yang menganga begitu besar. Ini sangat penting, karena  terutama  semua pertambangan menyebabkan perubahan bentang alam (morfologi dan  topografi ). Jika tingkat perubahan itu sampai melampaui daya dukung lingkungan, maka kegiatan itu akan  menciptakan kerusakan lingkungan.

Tanah menjadi tidak subur lagi. Akan timbul  tanah gersang/gurun, tanah akan bersifat asam  dan kehilangan sumber air. Bahkan meningkatkan potensi banjir bandang dan tanah longsor pada waktu hujan turun. Air tambang asam yang beracun yang jika dialirkan ke laut akan merusak ekosistem dan sumber daya pesisir dan laut.Karena itu, jelas menjadi kemendesakan umum bahwa  aspek lingkungan itu memang harus dikaji. Potensi Dampak Lingkungan/AMDAL harus diadakan seperti yang disyaratkan dalam PP 27 tahun 1999 dan UU 32/Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Penegelolaan Lingkungan Hidup.

Pihak kesultanan yang selama ini dianggap mengayomi warga Jogja dan sekitarnya diharap bisa membantu warga pun ternyata bisa saja tunduk pada kuasa swasta. Hal ini bisa ditarik benang merah antara pihak kesultanan dan pihak swasta yakni PT JMI. Menurut data yang kami dapatkan bahwa perusahaan PT Jogja Magasa Iron (PT JMI) yang merupakan anak perusahaan dari PT Jogja Magasa Mining adalah perusahaan penguasa politik di Provinsi Yogyakarta, yaitu kesultanan dan pakualaman.

Walaupun, kesultanan dan pakualaman memiliki andil yang besar dalam meng-goal kan penambangan ini, pihak kraton dan pakualaman pun tetap didikte oleh pihak asing yang memiliki sebagian besar saham yang berada di perusahaan tersebut, atau setidaknya 70% dari saham keseluruhan, rincianKomposisi kepemilikan saham PT Jogja Magasa Iron adalah PT Jogja Magasa Mining (Indonesia) sebesar 30% dan Indo Mines Limited (Australia) sebesar 70%.

Akhir dari tulisan kami merujuk pada sebuah solusi yang kami tawarkan. Ketika memang sudah diputuskan akan diadakannya kegiatan penambangan di kawasan pesisir Kulonprogo, maka harus ada penjagaan agar SDA tetap lestari. Janji yang diberikan untuk tetap menjaga kelestraian SDA. Janji untuk melakukan monitoring. Janji untuk tetap berkontribusi besar kepada masyarakat yang awalnya merasa dirugikan. Selain itu, kami juga menawarkan solusi agar Pemda bersama PT JMI untuk menjaga komitmen dan merealisasikannya. Jika ada janji namun tanpa komitmen, maka yang ada adalah masyarakat yang dirugikan. Baik secara ekonomi, social, politik, maupun lingkungan. Masyarakat yang akan merasakan langsung dampaknya.

Sumber :

  1. http://hardidbullier.blogspot.com/2011/11/analisis-kasus-penambangan-pasir-besi.html (diakses pada tanggal 14 September 2012 pukul 08:26pm)
  2. http://cakarzamanindonesia.blogspot.com/2012/05/konflik-penambangan-pasir-besi-kulon.html (diakses pada tanggal 14 September 2012 pukul 08:17 pm)
  3. http://www.sesawi.net/2012/01/11/menakar-dampak-lingkungan-fisik-sosial-akibat-penambangan-pasir-besi-2/ (diakses pada tanggal 14 September 2012  pukul 09:51 pm)
  4. http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/02/23/serial-konflik-tambang-pasir-besi-di-kulon-progo/  (diakses pada tanggal 14 September 2012 pukul 08:57 pm)

Ditulis oleh :

Yudhono Prakoso       11/320120/TK/389**

Luthfi Izzaty               11/319011/TK/381**

15 thoughts on “tugas PSDAL pertama

Leave a Reply to Triyoga Adi perdana Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s