A Great Man

Sore itu begitu indah. Langit Jogja menampakkan gerimis berbalut desiran angin yang lembut. Ahh waktu-waktu itulah yang memanjakanku untuk kembali menyulam aksara. Ya, kata demi kata ku gores menjadi karya sederhana, dan yang semoga bermanfaat bagi aku, kamu dan kita semua.

Sebenarnya tulisan ini adalah karena aku harus menyampaikan tentang maksud didalamnya, apapun itu. Dan ketika ku tengadahkan kepala ke arah sang surya, terbelisik cepat dalam imajinasi ku bagaimana bahwa sebenarnya matahari ini sama seperti matahari 14 abad yang lalu, tak ada yag berubah. Kendatipun aku tak hidup di zaman itu.



Entah benar atau salah, pikiran ku saat itu tergulir kepada “Siapa sosok gemilang di jauh silam itu?”. Percayalah, bukan atas motif agama ia ku “sanjung”, tapi lebih dari itu. Atas nama manusia, ia sosok luarbiasa. Kupikir, tak ada manusia sehebat dirinya. Tak ada sosok sebesar jasanya. Tak ada pribadi selembut akhlaqnya. Dan segala laku baik yang menyelimuti dirinya. Ahh, ia pesona. Sambutlah manusia besar itu, Muhammad.

Judul tulisan sederhana ini pun berangkat dari sana. Sebuah “lebel” yang ku kirimkan untuk sosoknya yang begitu besar. Pengorbanannya, jasanya, cinta yang ia luapkan, kasih sayang yang ia semai, kegagahan yang ia bangun, imperium yang dirikan, dan tak lupa, pengaruhnya untuk dunia. 5 kali penghadapan kita terhadap tuhan pastilah tak luput menyebut namanya (Selain tentunya Abi para Nabi, Ibrahim, semoga Allah merahmatinya). Pria kelahiran 12 Rabi’ul Awwal ini memilki gelar segudang yang melekat dalam dirinya. Al Amin, Al Quran berjalan, Abu Qashim, Shiddiq, dsb. Hal pada pribadi baiknya yang terbuktikan.

Ia muda, adalah sosok yang kuat. Bagiku, tak semua orang setegar pribadinya ketika salah satu manusia tersayangnya (yaitu orangtua) telah wafat dan meninggalkannya selamanya, dan ia hidup penuh kemandirian. Ia remaja, menjadi saudagar dengan jiwa entrepreneurship tertinggi yang pernah ada. hingga unta merah yang saat itu menjadi komoditi paling mewah ia persembahkan untuk istrinya, Khadijah. Ia dewasa adalah pemimpin paling gagah di dunia, hingga semua bangsa harus menengok padanya. Di usia yang matang itu, ia ulama sekaligus panglima perang, singa podium, politikus handal dan tentu saja pemimpin yang adil. Ia tua, ia hadirkan totalitas kecintaan pada Rabb dan generasi selanjutnya, hingga ia berkata dengan penekanan dan pengulangan, “Ummati Ummati Ummati”. Menunjukkan betapa besar perhatiannya terhadap ummat ini. Dan tak lupa, salah satu catatan terhebatnya tertoreh, usianya yang pendek mampu menghasilkan kurang lebih 2 miliar manusia yang meyakini risalahnya kini.

Berbicara keshalehannya, ahh rasanya perkataannya “jikalau matahari di letakkan di tangan kiriku dan bulan ditangan kananku, takkan pernah ku menyerah dalam memperjuangkan risalah ini hingga kemenangan menjadi milikku atau syahid menjemputku” menjadi bukti akan betapa takutnya ia kepada Allah, hanya kepada Allah! (koreksi yaa kalo ada konten yang salah -di perkataan itu) hee,

Atas faktor-faktor itulah yang menyebabkan tak heran baik muslim ataupun tidak, memahaminya sebagai sosok agung dengan kebesaran. Ku yakin, tak ada yang tak mengenal Role Model – The Empire of Madina. Melalui ini,  Ia yang letakkan dasar-dasar sebuah imperium yang menjadi kiblat keilmuwan kepemimpinan. Maka tak heran, Michael Heart dalam bukunya The 100, yang juga penembang lagu We will not go down untuk Palestina, menempatkan Nabi Muhammad sebagai manusia paling berpengaruh didunia, baik secara   –keshalehan–   pribadi, sosial, ekonomi, kepemimpinan, militer dan segalanya.

Ahh membicarakan ia adalah takkan ada habisnya. Tulisan lepas nan sederhana ini hanyalah sebuah curahan, dan yang kemudian mencoba membangkitkan kembali semangat kecintaan kita pada ummat ini. Ummat yang kini mudah tercerai-berai bagai buih tak berarti. Pun aku tak akan menyinggung terkait hadirnya film Fitna dan Innocent of Moslem sebagai upaya melecehkan Nabi. bukan berarti kemudian menjadi muslim apatis, sebab kurasa ia sudah tebukti sebagai manusia tanpa cacat.

Saya yakin, SAYA PERCAYA, bahwa ada manusia-manusia yang sengaja memperuncing kondisi ini dan sengaja melecehkan nabi.

Kini kita tahu, dan KITA MERASAKAN, sebagaimana sumpah yang termaktub dalam Al Quran, bahwa musuh-musuh Allah tak akan berhenti dan rela, sebelum kita mengikuti agama mereka.

Ia hadir sebagai pelita kehidupan.

Ia ulama sekaligus pemimpin peradaban.

Jasanya tak terkata, hadirnya untuk cinta.

Kau A Great Man, selamanya.

Jogjakarta, 13 Oktober 2012

Ahsan Ramadhan

taken from >> http://www.facebook.com/notes/ahsan-ramadhan/a-great-man/367545109993584?ref=notif&notif_t=note_tag

2 thoughts on “A Great Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s