Seribu Alasan Untuk Mencintai (Klub) Sepakbola

thumbnail

Apa alasan utama anda mencintai sebuah klub sepakbola? Dari daerah yang samakah? Faktor sejarah klub tersebutkah? Apakah karena ada pemain pujaan di sana? Apa sajalah: sah.

Berpuluh-puluh tahun silam, faktor geografis menjadi satu-satunya alasan untuk mendukung klub tertentu. Misalnya kalau anda tinggal di Liverpool, maka kemungkinannya adalah pendukung Liverpool, Everton atau Tranmere. Kalau anda berasal dari London timur, maka hampir pasti West Ham adalah klub anda. London utara kalau bukan Arsenal ya Tottenham. London barat ada Chelsea, Fulham atau QPR. Birmingham ada Birmingham dan Aston Villa. Di kawasan Manchester tentu saja ada United, City, Bolton, Oldham, dan Bury sebagai pilihan-pilihannya.

Di Inggris, Manchester United kemungkinan adalah klub pertama yang membongkar batasan geografis ini. Bukan lewat rancangan, melainkan lewat nahas yang mengenaskan: kecelakaan pesawat di Munich tahun 1958.

Separuh tim yang disebut sebagai “Busby Babes” — atau anak-anak asuhan (Matt) Busby — tewas. Dua di antara yang selamat tidak pernah bermain bola lagi. Padahal tim ini sedang menuju kematangan. Mereka menang kompetisi liga utama tahun 1955/56, 56/57, dan kemungkinan akan memenangi yang ketiga kalinya tahun itu.

Mereka mulai menggetarkan Eropa. Tahun sebelumnya, sebagai anak bawang, mereka sudah mencapai semifinal apa yang sekarang di sebut Liga Champions. Ketika kecelakaan terjadi, lagi-lagi mereka baru saja sampai ke semifinal. Klub-klub Eropa saat itu tidak tahu cara menghadapi kemunculan Busby Babes yang bermain penuh imajinasi remaja yang menginjak dewasa, bergairah, bertenaga, cepat, sekaligus berketrampilan tinggi.

Busby Babes diperkirakan akan mendominasi sepakbola Inggris dan Eropa untuk bertahun-tahun ke depan. Mereka-lah yang membuka mimpi, bahwa yang dinamakan Treble bisa dicapai. Tetapi kecelakaan itu memusnahkan semuanya. Dan yang berduka bukan hanya Manchester United tetapi seluruh Inggris, (bahkan Inggris Raya), karena waktu itu pilar tim nasional Inggris separuhnya ada di klub ini. Musnah pula mimpi Inggris untuk bisa menjadi juara Piala Dunia.

Tragedi itu menjadi tragedi nasional. Selama berminggu-minggu menjadi berita utama radio dan media cetak Inggris. Duka nasional yang mengalir menjadi sungai kesedihan dan kemudian lautan simpati. Ketika simpati itu berubah menjadi imajinasi akan mimpi yang tak akan pernah terwujud, lahirlah Manchester United baru, dengan pendukung mengurat mengakar di seluruh negeri. Batasan geografis itu runtuh sudah. 

Berpuluh-puluh tahun kemudian, ketika era komersial sepakbola menjadi bagian kental persepakbolaan Inggris, Manchester United menenggak keuntungan dari tragedi itu karena mereka mempunyai pendukung di mana-mana, terbesar di Inggris Raya. Tragedi Munich itu diceritakan turun temurun layaknya legenda oleh para pendukungnya di seluruh negeri. Hingga kemudian Manchester United menjadi klub Inggris pertama yang menjadi juara Liga Champions di tahun 1968, cerita itu masih mendominasi dunia sepakbola amatir anak-anak di Inggris.

Klub kedua yang meruntuhkan batas geografis ini adalah Liverpool. Klub inilah yang pertama merasakan manfaat televisi untuk meluaskan jaringan pendukungnya. Selama tahun 1970-an dan 1980-an merekalah raja dirajanya persepakbolaan Inggris (dan juga Eropa). Dalam hitungan dua dekade itu mereka memenangi kompetisi liga utama 11 kali, 3 Piala FA, 4 Piala Liga, 2 Piala UEFA, dan 4 Liga Champions. Semuanya ada di televisi. Setidaknya, untuk pertandingan yang penting dan menentukan.

Bukan sekadar pertandingannya, tetapi berita seputar kesuksesan Liverpool juga menjadi santapan sehari-hari. Wajar saja. Bukankah tragedi, kisah sukses, dan segala hal yang di luar kewajaran selalu menjadi cerita yang mengasyikkan untuk dikonsumsi dan memantik imajinasi?

Dominasi yang tak terbantahkan ini menelusup ke imajinasi anak-anak penggemar bola yang dibesarkan di masa-masa itu. Anak-anak rupanya suka dan secara instingtif mengasosiasikan diri dengan kemenangan. Dari Southampton di ujung selatan hingga Newcastle di ujung utara, di setiap kota, selalu ada pendukung Liverpool dalam jumlah besar. Kepopuleran mereka menusuk daerah-daerah tradisional milik klub-klub besar. Ini menjawab keheranan saya ketika pertama kali datang untuk menetap di Inggris hampir 16 tahun silam, mengapa teman-teman seusia saya (di kantor) banyak yang menjadi pendukung Liverpool, padahal mereka tidak berasal dari kota itu.

Tentu saja penyebab seseorang mendukung klub tertentu tidaklah kemudian harus karena faktor-faktor di atas. Yang tertulis di atas adalah yang bisa terjelaskan. Sementara penyebab lain bisa bermacam-macam dan bagi saya terkadang misterius.

Ada yang berawal mula karena pemain favoritnya bermain di klub tertentu. Dan ketika pemain tersebut meninggalkan klub yang bersangkutan, kesetiaan pendukung itu tetap bertahan. Ada yang berawal karena menyukai pelatihnya. Ada yang berawal karena suka dengan nama klub. Ada yang suka dengan sejarah klub. Mungkin permainan menggiurkan. Mungkin kasihan melihat klub yang sengsara kalah terus menerus. Dan di era sepakbola komersial, banyak yang menjadi pendukung klub tertentu karena agresivitas klub untuk merekruit pendukung baru. Semua sah-sah saja. Seperti jatuh cinta, ada sekian ribu macam pemantiknya.

Kalau tidak, bagaimana kita bisa menjelaskan, mengapa di Indonesia misalnya, ada penggemar klub-klub Eropa yang sedemikian fanatiknya. Kajian sejarah, sosiologis, psikologis, antropologis atau apapun namanya, akan kerepotan untuk dengan masuk akal menjelaskannya.

Pernah saya mendapat e-mail sekian tahun silam dari seorang penggemar bola yang mengatakan ia mendukung sebuah klub di Eropa karena tulisan saya. Saya sampai terheran-heran karena tentu saja saya bukan bermaksud merekrut pendukung untuk klub tersebut (dan saya tidak pernah menjadi bagian dari klub manapun). Saya tidak pernah membalasnya.

Apapun alasannya, anda telah jatuh cinta dan menjadi mendukung sebuah klub. Dan di era sepakbola komersial itu berarti anda menjadi pasar. Anda menjadi konsumen. Anda menghabiskan banyak waktu, tenaga dan uang untuk ikut menghidupi klub yang anda puja. Dari yang namanya cindera mata hingga menonton sepakbola (bahkan sekadar lewat televisi), semuanya menguntungkan klub yang anda dukung. Harga sebuah cinta.

Dan menjadi pendukung klub sepakbola itu lebih parah dari terjebak dalam perkawinan yang mengesalkan: anda tidak bisa selingkuh.

taken from : http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2013/03/19/132317/2197843/1489/seribu-alasan-untuk-mencintai–klub–sepakbola

16299748296l

2 thoughts on “Seribu Alasan Untuk Mencintai (Klub) Sepakbola

Leave a Reply to peta Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s