banding

dan malam itu aku mataku terpaku pada satu paragraf dalam buku bersampul merah itu,

“Bagaimana membandingkan penderitaan? Tentu saja aku katakan tidak bisa. Aku kehilangan kamu, tetapi bagaimana aku bisa membandingkan diriku dengan banyak orang lain di barak-barak ini yang kehilangan istri, anak, masa depan, dan hidup? Tetapi mungkin jawabanku terlalu sederhana. Kalau penderitaan tak bisa dibandingkan, apa arti pengorbanan?”-Bhisma

Lama aku terdiam. memandangi deretan tinta hitam yang tak akan lari walau aku berseru padanya. merenungkan sesuatu yang entah, apa itu bisa disebut perenungan ataukah hanya sebatas lamunan tak tentu.
Continue reading