Aku Ingin Menyapamu

Aku ingin menyapamu.

Sungguh, aku tak sanggup lagi. Tak sanggup dengan hanya menatap tak sengaja kedua manik hitammu. Kelam. Sangat hitam. Dan aku terpesona hingga paru-paru terhenti menghisap udara. Sesak. Aku tak sanggup. Batinku luruh. Entah berapa kali kau, melakukan itu. Melakukan hal yang sama, menatap mataku dengan cepatnya. Mungkin aku yang naïf, menganggap ini semua suatu tanda. Ataukah aku yang harus menerima dengan lapang, bahwa ternyata ini hanya ilusi belaka.

 

Aku ingin menyapamu.

Dalam sebuah keterdiaman yang membeku. Menatapi sisi hati masing-masing yang lain dengan kaku. Aku dengan bodoh masih menanti sebuah kata yang kiranya kan mengalir tanpa kau sadari. Sial. Ternyata aku masih saja tak bisa memahami. Bahwa kebisuan itu hanya untukku. Mengalunkan nada kepahitan yang menelan jiwa. Terlalu indah untuk aku pahami. Bahwa memang sekarang bukan saatnya memaksamu berkata. Namun masih saja, aku tak mampu meredam sesak yang tumpah ruah di dada. Continue reading