Ajari Aku Cinta

Aku baru saja menjejakkan kaki ke lantai yang masih sangat dingin itu. Aku merapatkan jaketku, menghalau dinginnya udara sehabis hujan deras semalaman. Suasana mustek masih sepi. Aku awalnya tak berencana ke sini. Ah tapi entahlah, tiba tiba aku sudah berada di pelatarannya. Entah apa yang membuatku melangkah ke bangunan yang terlalu besar untuk disebut musholla ini. Sering tiba-tiba ada kekuatan yang membuatku lupa tujuan ke kampus. Bukannya ke kelas malah ke mustek.

mustek kala itu

Baru saja aku tersenyum karena merasa paling awal menapakkan kaki di mustek pagi ini, tiba tiba seseorang menepuk pundakku,
“Mas, tumben pagi-pagi sudah datang. Kuliah pagi ya,Mas?” Ternyata sudah ada yang lebih dulu datang dari aku.
“Oalah, Mbah Djiman… Ndak kok mbah. Cuma kangen mustek aja hehehe,” Jawabku sekenanya. Memang tanpa alasan aku datang. Apa semua harus butuh alasan?
“Wah lha kok apik tenan ,Mas iki alesane hahaha,” aku nyengir. Apalagi melihat deretan gigi beliau yang beberapa sudah tanggal. Nggemesin tapi kasihan.
“Simbah bersihin atas dulu ya, Mas. Kalo mau sholat dibawah dulu saja, sudah simbah bersihkan tadi. Ati ati itu sendalnya diparkir yang bener. Nanti ilang lho ,Mas.”
“Oh nggih Mbah.. nggih.. masih pagi ini Mbah, masak ada yang mau nyolong sandal?”
“Waah yo sopo ngerti Mas. Hahaha. Mbah ke atas dulu ya..”
“Nggih,Mbah…”
Aku mengamati sosok yang kini melangkah ke lantai 2 musholla. Duh sobat, kau akan merasa iba ketika melihatnya pertama kali. Tubuhnya sudah renta. Usianya? Entahlah beliau sendiri tak ingat. Taksiranku sekitar 80-an tahun. Hampir seumuran Mbah Kakung ku di kampung halaman. Langkahnya tertatih namun tangkas. Mungkin karena beliau ini kemana mana jalan kaki. Aku pernah melihatnya di dekat Fakultas Kehutanan sana, berjalan menantang panasnya matahari yang juga menyengatku yang tengah memacu sepeda ontelku. Parasnya tegas namun sambutannya ramah. Beliau bisa hafal muka-muka mahasiswa baru dan lama. Ingatannya sangat kuat. Beberapa kali beliau bercerita tentang alumni teknik yang begini dan begitu.
Beliau tau dan ingat setiap jengkal mustek. Bagaimana tidak? Sudah belasan, bahkan puluhan tahun beliau setia mengayomi mustek. Apa beliau tak pernah merasa lelah? Apa tak pernah mengeluh bosan? Ah, Sobat, kau pasti tak percaya mendengar pengakuannya kepada kakak tingkatku kala itu.

“Nggak ada kata capek sampai Simbah nanti kembali ke Allah. Capek, lelah, itu nanti cuma Gusti Allah yang bisa ganti. “ Sang kakak tingkatku sampai menitikkan air mata!

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara Simbah. Seperti tengah menghardik seseorang. Aku nyengir lagi. Pasti ada mahasiswi yang sudah datang dan sedang dinasehati beliau. Cara beliau terkenal keras. Tidak boleh, ya tidak boleh. Namun beliau sering memberi masukan masukan untuk generasi KMT yang secara tidak langsung juga bertanggung jawab menjaga keharmonisan mustek.

2 menit kemudian mahasiswi ini turun. Mukanya cemas. Entah takut entah ngerti dengan apa yang dikatakan simbah. Di parkiran, aku iseng menyapanya dari dalam,
“Ada apa, Re?”
“Pagi-pagi aku udah kena omel Mbah Djiman. Shock aku.”
“Tentang apa?”
“Itu…banyak yang suka ninggalin botol air mineral di tempat sholat putri. Ya bukan aku sih pelakunya, tapi karena cuma aku yang disitu yaudah kena deh. Mana lagi stress lagi deadline tugas. Pada ngga ngerasa apa buang buang sampah sembarangan. Di mustek lagi! Kan ngga enak sama Allah..” Resa, teman satu kelompok ospekku ini nyerocos.

“Yeee kok kamu jadi ngomelnya ke aku.. Yaudah dibikin pengumuman gitu kek, apa kek. Kamu juga, respek dong sama mustek. Apalagi bagian putri tuh. Kalo ada sampah ya dibuang. Kalo kotor ya disapu. Jangan nungguin siapa yang piket. Masa sampe harus mbah Djiman yang bersihin..”
“Iya..iya… udah ah aku mau ke jurusan aja. Deadline nih. Yo, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam..”

Aku duduk selonjoran di lantai 1. Lantainya dingin, sedingin matahari pagi ini yang masih enggan memancarkan sinarnya. Menatapi ‘taman’ mustek yang masih belum mekar bunga-bunganya. Taman yang sengaja dibuat sendiri oleh Mbah Djiman, demi memperindah mustek. Beberapa kali aku memergoki beliau sedang berdiskusi dengan beberapa anak arsitektur yang kebetulan lewat. Tanah di samping mustek yang dulunya hanya tanah kosong, sekarang berubah menjadi taman kecil yang tertata. Kapan Simbah menyusun bebatuan itu sedemikian apiknya? Siapa yang membantu beliau?

Tiba-tiba terbersit rasa malu. Aku malu pada diriku sendiri. Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Hanya datang dan pergi begitu saja. Sholat dhuha, kuliah, sholat dhuhur, kuliah, rapat, diskusi. Kapan aku pernah memperhatikan kondisi mustek? Hanya ketika jadwalku untuk piket, hanya ketika ada Gardening, hanya ketika…. Aaaaahh…
Betapa mulianya seseorang seperti Mbah Djiman. Yang tak kenal rasa capek, bosan, lelah, untuk mengurus kebutuhan musholla sebesar ini. Menyiapkan tikar untuk sholat Jum’at yang selalu membludak. Membenarkan keran air wudhu putri yang kerap tiba-tiba mati. Mengepel lantai demi kenyamanan jama’ah setiap pagi. Mengingatkan kami yang sering lalai menjaga kebersihan.
Beliau mengajari kami tentang cinta yang sesungguhya. Melakukan apa apa hanya untuk-Nya. Mengerti di setiap denyut nadi sebenarnya cinta. Menjalani sesuatu yang telah beliau anggap seperti takdir. Mencintai rumah Illahi dengan sepenuh hati. Mencintai tanpa ada sedikitpun keinginan untuk mengih janji. Beliau sepenuhnya mengerti. Bahwa Sang Kekasih pasti menepati janji-Nya. Memberi semua apa yang dimintanya. Walau mungkin tidak kali ini. Walau mungkin tidak juga detik ini. hanya saja beliau mengajari kita untuk tetap memahami. Untaian kasih Nya terpastikan sampai dengan rezeki Nya. Dan kelak jika saatnya bertemu dengan Sang Pencipta. Yakini Dia selalu memberinya yang terbaik.
Aku jadi terpikir sesuatu, apa yang bisa kami beri untuk beliau?

——————————————————————————————————————–

fiksi tapi nyata,

selembar kisah untuk Mbah Djiman, semoga Allah merahmati engkau 🙂

2 thoughts on “Ajari Aku Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s