Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) 2013

Pendahuluan

Pembangunan jangka panjang nasional 2005 -2025 bertujuan untuk mewujudkan suatu keadaan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Salah satu hal penting dan mendesak untuk dilakukan pemerintah adalah menjamin ketersediaan dan keterbukaan informasi, serta pemanfatan sumberdaya alam yang seimbang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor dan wilayah. Kondisi tersebut akan dapat berjalan optimal manakala didukung oleh informasi, baik informasi spasial maupun informasi non spasial yang andal (accountable), berkelanjutan (continuable) dan mudah diakses (assessible).

System informasi spasial yang andal, berkelanjutan dan mudah diakses harus mengacu pada referensi tunggal agar dapat diintegrasikan. Sedangkan di Indonesia, setiap instansi merujuk pada Undang-Undang yang berbeda. Kementerian Kehutanan berpedoman pada UU No 41 Tahun 1999, Kementerian ESDM mengacu pada UU No 4 Tahun 2009, Pemerintah Daerah mengacu apda UU No 32 Tahun 2004 lalu juga ada UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan UU No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Sehingga Informasi Geospasial Tematik (IGT) tidak merujuk pada satu sumber rujukan peta dasar. Selama IGT tidak merujuk pada peta dasar yang dibangun oleh instansi yang berkompeten dan mempunyai kewenangan maka IGT akan menimbulkan kesimpangsiuran.

SRGI (Sistem Referensi Geospasial Indonesia) tunggal sangat diperlukan untuk mendukung kebijakan Satu Peta (One Map) bagi Indonesia  Dengan satu peta maka semua pelaksanaan pembangunan di Indonesia dapat berjalan serentak tanpa tumpang tindih kepentingan.

Pembahasan

Sistem referensi merupakan hal yang sangat penting dan utama dalam menentukan posisi baik di permukaan bumi maupun di atas/bawah permukaan bumi. Dalam faktanya, saat ini terdapat sistem referensi baru di Indonesia. Pemutakhiran sistem referensi ini perlu dilakukan mengingat di Indonesia merupakan wilayah dengan aktivitas tektonik yang aktif. Indonesia di keliling oleh lempeng aktif dunia yaitu lempeng Indo-Australia, Pasifik (lempeng teraktif), Eurasia, Filipina. Sistem referensi ini dikenal dengan nama Sistem Referensi Geospasial Indonesia (SRGI) 2013.

SRGI 2013, yaitu suatu sistem koordinat nasional yang konsisten dan kompatibel dengan sistem koordinat global. SRGI 2013 digunakan sebagai referensi tunggal dalam penyelenggaraan IG nasional.  Berbeda dengan datum geodesi sebelumnya, SRGI 2013 memperhitungkan aspek pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi. Keberadaan wilayah Indonesia pada zona deformasi kerak bumi akibat interaksi pergerakan lempeng tektonik dan aktivitas seismik mengakibatkan posisi suatu titik akan berubah sebagai fungsi waktu. Dengan menyertakan laju kecepatan pergerakan lempeng tektonik, deformasi kerak bumi dan informasi tanggal referensi waktu astronomi atau epoch, setiap perubahan posisi dapat direkontruksi dengan teliti.

Sebelumnya, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) yang kemudian bertransformasi menjadi BIG, sudah mengeluarkan sistem referensi koordinat seperti Indonesian Datum 1974(ID74) dan Datum Geodesi Nasional 1995 (DGN95). Dengan ID74 yang kemudian diperbaharui menjadi DGN95, semua kegiatan pemetaan diharapkan mengacu pada satu sistem referensi nasional yang sama. Namun sayang, pada praktiknya masih terdapat data atau peta lama yang dibuat dengan mengacu pada sistem referensi lama sehingga sebagian pihak tetap membuat peta dengan menggunakan sistem referensi tersebut sampai sekarang. Alhasil, IG dengan sistem referensi yang beragam menyebabkan sulitnya integrasi data serta tidak menyambungnya (tidak seamless) satu data dengan data yang lain.

Pemutakhiran sistem referensi geospasial merupakan hal yang sangat wajar mengingat perkembangan teknologi penentuan posisi pun sudah semakin teliti. Sistem referensi geospasial global yang menjadi acuan seluruh negara dalam mendefinisikan sistem referensi geospasial di negara masing-masing juga mengalami pemutakhiran dalam kurun waktu hampir setiap 5 tahun atau lebih cepat (Badan Informasi Geospasial).

SRGI 2013 akan mendefinisikan beberapa hal, yaitu :

  1. Sistem Referensi Koordinat yang mendefinisikan titik pusat sumbu koordinat, skala dan orientasinya. System referensi koordinat yang dimaksud merupakan system koordinat geosentrik 3 dimensi dengan ketentuan:
    1. Titik pusat system koordinat berimpit dengan pusat massa bumi sebagaimanadigunakan dalam ITRS.
    2. Satuan dari sistem koordinat berdasarkan Sistem Satuan Internasional (SI).
    3. Orientasi sistem koordinat bersifat equatorial, dimana sumbu  Z  searah  dengan  sumbu  rotasi  bumi,  sumbu  X adalah  perpotongan  bidang  equator  dengan garis bujur yang melalui greenwich(greenwich meridian),  dan sumbu Y berpotongan tegak lurus terhadap sumbu X dan Z pada bidang  equator  sesuai  dengan  kaidah  sistem  koordinat tangan kanan, sebagaimana digunakan dalam ITRS.
  2. Kerangka Referensi Koordinat, sebagai realisasi dari sistem referensi koordinat berupa Jaring Kontrol Geodesi Nasional. Kerangka referensi yang dimaksud merupakan realisasi  dari  Sistem  Referensi Koordinat, yaitu  berupa JKG dengan  nilai  koordinat  awal yang  didefinisikan  pada epoch 2012.0  tanggal  1  Januari 2012,  yang  terikat  kepada kerangka referensi global ITRF2008 atau hasil pemutakhirannya. JKG sendiri merupakan sebaran  titik  kontrol  geodesi  yang  terintegrasi dalam satu kerangka referensi. JKG yang dimaksud terdiri atas:

a. Sebaran stasiun pengamatan geodetik tetap/kontinu;

b. Sebarantitikpengamatan geodetik periodik; dan

c. Sebaran titik kontrol geodetik lainnya.

  1. Datum  Geodetik sebagaimana  dimaksud  menggunakan elipsoida  referensi World  Geodetic System  1984 (WGS84),  dimana  titik  pusat  elipsoida referensi  berimpit  dengan  titik  pusat  massa  bumi yang digunakan dalam ITRS. World  Geodetic  System  1984 (WGS84) memiliki nilai parameter:

Parameter

Notasi

Nilai

Setengah sumbu panjang elipsoida

A

6.378.137,0 meter
Setengah sumbu pendek elipsoida

B

6.356.752,314245 meter
Factor penggepengan bumi

1/f

298,257223563
Kecepatan sudut nominal rata-rata sumbu rotasi bumi

Ω

7.292.115 x 10-11 radian/detik
Konstanta gaya berat geosentrik (termasuk massa atmosfir bumi)

GM

3,986004418 x 1014 meter3/detik2
  1. Perubahan nilai koordinat terhadap waktu sebagai akibat dari pengaruh pergerakan lempeng tektonik merupakan vektor perubahan  nilai  koordinat sebagai fungsi  waktu  dari  suatu  titik  kontrol  geodesi  yang diakibatkan oleh pengaruh  pergerakan  lempeng  tektonik dan deformasi kerak bumi. Vektor perubahan nilai  koordinat sebagai  fungsi  waktu ditentukan berdasarkan pengamatan geodetik. Dalam  hal vektor perubahan  nilai  koordinat sebagai fungsi  waktu  tidak    dapat  ditentukan  berdasarkan pengamatan  geodetik  maka  digunakan  suatu model deformasi  kerak  bumi  yang  diturunkan  dari  pengamatan geodetik di sekitarnya. Vektor perubahan  nilai  koordinatsebagai  fungsi  waktu harus  segera  diperbarui apabila terjadi  pemutakhiran pemodelan  ITRS  yang  menjadi  rujukan  SRGI2013 maupun sebab-sebab lainnya. Vektor perubahan  nilai  koordinatsebagai  fungsi  waktu yang  mutakhir  harus  dapat  diakses  oleh  seluruh pengguna dengan mudah dan cepat.
  2. Sistem Referensi Geospasial Vertikal yang digunakan adalah geoid. Geoid diturunkan berdasarkan survey gaya berat yang terikat kepada Jaring Kontrol Geodesi (JKG). JKG yang dimaksud harus terikat kepada IGSN71 atau hasil pemutakhirannya. Dalam  hal  geoid  sebagaimana  dimaksud belum  tersedia  secara  memadai,  maka  dapat digunakan  permukaan  laut  rata-rata  setempat  yang ditentukan  berdasarkan  pengamatan  pasang  surut  laut selama  sekurang-kurangnya  18,6 (delapan  belas  koma enam) tahun. Dalam  hal  pengamatan  pasang  surut  laut  tidak  tersedia selama  periode  18,6 (delapan  belas  koma  enam) tahun maka  digunakan  kedudukan  muka  laut  rata-rata sementara  berdasarkan  pengamatan  pasang  surut  laut selama sekurang-kurangnya 1(satu) tahun.
  3. Garis Pantai nasional yang akurat dan terkini. Garis pantai adalah garis pertemuan antara daratan dan lautan yang dipengaruhi oleh pasang surut laut.  Garis pantai merupakan informasi dasar yang menjadi pondasi dalam penyediaan informasi geospasial lainnya, antara lain dalam:
    1. Navigasi/pelayaran.
    2. Penentuan dan penetapan eksistensi pulau-pulau.
    3. Perencanaan dan pengawasan pengelolaan lingkungan pantai/pesisir.
    4. Kebencanaan yang terjadi di wilayah pantai/pesisir.
    5. Penentuan dan pengelolaan dalam batas wilayah administrative.
    6. Perencanaan dan pengambilan keputusan berbasis spasial dalam kaitannya dengan lingkungan hidup di wilayah pantai/pesisir   lainnya.

Khusus untuk panjang garis pantai di Indonesia, hasil telaahan teknis pemetaan garis pantai yang dilakukan oleh tim kerja lintas instansi mendefinisikan bahwa panjang garis pantai Indonesia adalah sepanjang kurang lebih 99.093 km (tidak termasuk garis pulau dan danau). Sementara untuk jumlah pulau berdasarkan pendataan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi adalah 13.466 pulau (by name by address, belum by name by coordinate).

  1. Sistem dan Layanan berbasis web untuk mengakses SRGI 2013
    1. Nilai koordinat horisontal, vertikal dan gaya berat serta  deskripsi titik kontrol geodesi.
    2. Perubahan nilai koordinat terhadap fungsi waktu, sebagai koreksi akibat pengaruh pergerakan lempeng tektonik dan deformasi kerak bumi.
    3. Geoid dan konversi sistem tinggi.
    4. Petunjuk penggunaan SRGI 2013 dan berbagai informasi terkait.
    5. Aplikasi maupun tools yang memudahkan pengguna untuk menggunakan SRGI 2013.

Hal ini bisa dipelajari selanjutnya untuk pemutakhiran sistem referensi di Indonesia. Tentunya dinamika lempeng tektonik dan gejolak inti bumi pun akan memaksa kita sebagai simpatisan geospasial berpikir untuk mengikuti dinamika tersebut. Pergeseran kutub utara bumi pun salah satu fenomena besar yang akan berpengaruh pada sistem referensi global.

*Ahmad Khatib, Luthfi Izzaty, Annisa Mayangsari, Reza Ariesta Muhammad*

Referensi:

http://srgi.big.go.id/srgi/?p=13 (diakses tanggal 27 Februari 2014 10.02)

http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/ig-yang-terintegrasi-untuk-indonesia-yang-lebih-baik (diakses tanggal 27 Februari 2014 10.05)

http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/srgi-tunggal-untuk-one-map-policy(diakses tanggal 27 Februari 2014 10.10)

http://www.big.go.id/berita-surta/show/redam-konflik-penguasaan-lahan-badan-informasi-geospasial-susun-satu-peta-dasar (diakses tanggal 28 Februari 2014 10.00)

PERATURAN KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM REFERENSI GEOSPASIAL INDONESIA 2013. BIG (diakses tanggal 27 Februari 2014 11.00)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s