Never

“Apapun yang aku katakan, kamu masih mau jadi temanku kan, Han?” Tanya Rev kacau. Han tergelak.
“Woy Rev! Kita kenal udah 15 tahun!! Kaya ngga kenal aku aja lho kamu ini. Santai laaah.. Semua dosa dosamu aku juga tau, Rev. Dan masih jadi temenmu sampai sekarang. Hahahaa.. Rev.. Rev,” ujar Han sambil mengunyah coklat silver queen nya.
Matahari mulai condong ke barat. Tapi Han masih disini. Menemani Rev yang sejak tadi galau. Menggalaukan siapa, Han tak mau banyak mikir.

“Galau, Haaaan…”
“Ish udah dua jam ya aku denger rengekanmu itu. Siapa sih siapaa.. sok sok an galau segala ampe akut gini. Bilang aja sih ke orang nya.”

Rev menggeleng. Tapi dia bingung. Harus bilang apa ke Han. Kalau Han tau, dia bisa tinggalin Rev. Tapi Rev sudah tidak tahan.

“Kamu, Han.” Ucap Rev. Serius.
“Apa?” Han menelengkan kepala. Dahi nya berkerut. Cantik, batin Rev.
“Iya Han. Galau karena kamu,”
Han bingung. Bodoh, rutuk Rev. Rev lalu mengganti wajah seriusnya dengan cengiran super lebar.

“Hahahahaa panik amat wajahmu!! Acting doang actiiing..! Yakali Han..”
“Sialan kamu Rev. Kirain beneran. Awas aja kalo beneran. Tau deh yang nemenin kamu nongkrong lagi siapa,” mendengar Han bilang begitu, Rev langsung mensyukuri keputusannya.

Padahal sudah lama. Padahal sudah dalam. Tapi mungkin tidak sekarang. Mungkin lain kali. Mungkin tak akan pernah. Karena Han sudah punya suami.

*end*

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

30 sekon

Aku masih menggurat pagi dengan mendendangkan lagu. Jika ini pantas kau sebut lagu. Berjalan menyusuri gedung pencakar yang berlomba merobek langit. Seperti biasa. Tanpa seulas senyummu.

Dukk!!

“Ouch! maaf Kak,” seru seorang gadis yang tanpa sengaja menyenggol siku ku dengan tas nya saat berjalan cepat mendahuluiku.
Aku tersenyum sekilas. Deg!
Dia mirip kamu.

Dendang laguku terhenti. Dagu lancip itu, poni itu, mata itu… Tetiba semua jagat membeku. Pun aku. Entah kenapa. Padahal sudah bertahun lalu. Padahal sudah ratusan ribu detik lalu.

Aku tergagap. Merogoh ponsel. Mencari nomormu. Menekan tombol dial. Lalu mati.

Mati.
Seperti jasadmu.
*end*

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku