Menang

Semua orang menangis, tak terkecuali Kenny. Padahal Kenny bersumpah tak akan sekalipun menangis karena laki-laki itu. laki-laki yang biasa dia -dan seisi stadion- panggil dengan Pak Gombong. Kenny bersumpah untuk membenci semua yang ada pada diri laki-laki itu.

Semua orang menangis. Pun Kenny ketika menlihat banner raksasa di kiri stadion. Tulisan “We Love Pak Gombong” terpampang dengan foto Pak Gombong sedang tertawa lepas. Kenny semakin menangis. Rasanya dia baru sekali melihat Pak Gombong tertawa lepas. Waktu Kenny berhasil membuat gol kemenangan di detik-detik terakhir piala nasional.

Semua orang takut dengan cara Pak Gombong melatih tim Kenny. Kasar, dingin, keras. Itu kata mereka. Tapi semua terbantahkan dengan berbagai kemenangan yang berhasil disabet tim sepakbola itu. Kenny yang setiap hari kena semprot karena terlambat dan alasan kedisiplinan lainnya, pun tetiba merasa kehilangan yang sangat.

“Pak Gombong, kami menang malam ini. Membawa kemenangan untuk bangsa kita. Mengalahkan musuh bebuyutan kita,” bisik Kenny sambil menunduk. Pelan Kenny mengangkat kedua tangannya ke angkasa. Mengacungkan dua jari telunjuknya. Sambil menatap ke atas.

Semua orang terpana. Semua orang tau Kenny paling tidak menyukai Pak Gombong. Tapi semua orang dalam stadion lama-lama luluh. Mengikuti acungan Kenny. Semua orang mengepalkan tangan dan mengacungkan telunjuknya ke langit. Dan menengadah. Semua orang haru.

Pak Gombong telah meninggal sebulan yang lalu, kecelakaan hebat tertabrak truk tronton karena mengejar Kenny yang lari dari stadion mengancam keluar dari tim. Semua orang tahu itu.

 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Amplop

“Aku nyerah, Kak! Tuhan nggak adil sama aku!” sungut Rien sambil melempar gadget terbarunya ke sofa. Yang selanjutnya terlempar adalah tubuh kurusnya di samping ku.

“Iphone-mu buat Kakak aja, jangan dibuang,” ujarku datar sambil memungut Iphone yang baru dibeli 3 hari lalu. Rien mulai menangis. Awalnya aku tak peduli. Tapi kelamaan semakin keras. Tukang siomay yang kebetulan lewat sampai melongok ke arah rumah. Saat itu aku baru menyadari betapa keras tangisan Rien.

“Tuhan nggak adil sama aku, Kak! Naskahku ditolak 15 penerbit! Aku nggak lolos SBMPTN! Sinta makin jauh dari aku sejak kenal Awan! Aku nggak bisa kuliah tahun ini, Kak! Aku anak yang baik kan, Kak? Aku nggak bodoh kan, Kak?” seru Rien diantara tangisnya.

“Rien, kamu nggak boleh nyalahin Tuhan sedikitpun. Nggak boleh, Rien. Kakak tau kamu anak baik, kamu pintar, jauh lebih pintar dari Kakak. Tulisan-tulisan kamu bagus, udah kayak penulis pro. Kamu kurang apa coba?” Aku mengelus pundaknya.

“Rien kurang beruntung, Kak….”

“Nggak, bukan seperti itu. Rien cuma kurang sabar nunggu keputusan dari Tuhan.. Siapa tau, Dia lagi siapin rencana paling bagus buat Rien. Rencana yang sebenernya Rien butuhkan, bukan cuma Rien inginkan,” Aku tersenyum.

“Tapi nggak kayak gini, Kak.. Rien capek.. Rien udah kayak nggak punya tujuan lagi besok mau ngapain..”

“Rien harus punya tujuan. Rancang ulang rencana kamu. Tata ulang jadwal kamu. Apalagi setelah ada ini-” Kataku sambil mengulurkan amplop cokelat yang baru kuterima 10 menit sebelum dia datang.

Rien merebutnya, menyobek penutupnya, lalu membaca isinya. Dua detik dia mengerjap ke arahku. Aku tersenyum, jahil. Dia tersenyum. Rien memelukku erat. Tangisnya pecah kali ini.

Amplop itu menyatakan dia diterima di sebuah Universitas di London, kota impiannya selama ini.

 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku