Surat

Ari menemukan surat lagi di bangkunya. Segila ini Rey mengejarnya. Masih mending sampai bangku sekolah saja. Ini dia di bangku kuliah! Bagaimana bisa Rey tau kursi ini bakal ia duduki? Sial, rutuk Ari.

Ari memungut surat beramplop pink itu. Tolonglah… sudah puluhan dan mungkin ratusan surat Rey yang dia terima. Ari rasanya mau marah sekali. Tapi Ari tau, Rey hanya perlu disadarkan. Entah bagaimana caranya. Dan, barang barang unik pemberian Rey sejak zaman sekolah dulu, Ari sudah bungkus semua di kardus yang dia tinggal di rumah. Ari heran. Bagaimana Rey bisa masuk universitas yang sama pula. Untung beda jurusan. Matilah aku, pikir Ari.

Seorang gadis berkerudung masuk kelas, mengagetkan Ari. Namun dia lega begitu tau, gadis itu Alya.

“Kenapa kamu? Pucet amat pagi-pagi gini, Ri, ” sapa Alya.
“Pusing Al. Rey kirim surat lagi buat aku…” Alya mendelik.
“Hlaaah ngeri kali diaaa… Belum kamu jelasin juga ke dia kondisi kalian begini? Nggak mungkin, Ri!”

Ari menghembuskan nafas keras, “Aku nggak bisa juga nyakitin hati Rey, Alya… Dia anaknya baik banget.”

Mahasiswa mulai berdatangan. Ari buru buru menyimpan surat dari Rey. Alya duduk di sebelah Ari. Dia mengamati Ari dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Padahal kamu ganteng juga enggak, Ri. Apa coba yang bikin Rey suka sama kamu? Rey kan macho gitu. Rajin banget fitness katamu. Hahahaa..”

Ari mengangkat bahu. Dia harus segera memikirkan cara menyadarkan Rey. Mereka sama sama lelaki. -end-

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s