Ada Yang Belum Mengerti Kalau Kamu Sudah Pergi

Berkali-kali aku mengecek jam di tangan kiriku. Berharap kuliah magister yang satu ini cepat selesai. Profesor Ferdinand masih asik bercerita tentang pengalamannya menjadi surveyor di Timur Tengah. Aku tak bilang aku salah ambil mata kuliah, tapi memang aku sedang tidak konsen hari ini. Sudah jam 03.00 pm dan aku masih terjebak di sini. Aku belum menyiapkan apapun untuk Azee. Aaaargh,aku frustasi!!

Sejam kemudian, kuliah selesai. Aku melesat keluar dari kampus, sesegera mungkin. Sebastian yang berteriak memanggil namaku tak kuhiraukan. Aku menyusuri jalan, setengah berlari menuju Glady’s Flower dan Clay’s Bakery. Kubeli setangkai mawar, dan sekotak kecil kue tart, lengkap dengan lilin berbentuk angka 25. Aku bersegera pulang ke apartemen sederhana milikku di blok seberang.

Sesampainya di apartemen, aku membuka jendela dan mengkoneksikan laptop yang kubawa dari Indonesia dengan internet. Bersyukurlah kuliah di London, jaringan internet dimana-mana mudah. Termasuk di apartemen mungil seperti ini.

“Lima belas menit lagi,” bisikku lirih.

Aku membuka akun Skype milikku, dan seperti tahun sebelumnya, akun Azee masih saja online di jam yang sama seperti sekarang. Aku tersenyum senang. Walau jauh, setidaknya aku akan mengucapkan selamat padanya. Kunyalakan lilin di atas kue dan mendekatkannya ke layar laptop.

05.00 pm

“Happy birthday, Azee!! Hey, tahun ini aku nggak telat, Zee!! Sehat ya Azee, aku pengen cepet pulang ketemu kamu, kangeeeen banget. Kamu jangan macem-macem aku tinggal kuliah di sini. Maaf ya belum bisa pulang, kuharap kamu mau nungguin kapan aku pulang,” Aku menyerocos gembira.

Layar Skype Azee berubah warna. Menampakkan seraut wajah bermata teduh. Aku sesak. Mataku mulai berlinangan air mata.

“Ristya… Apa kamu akan seperti ini terus selama bertahun-tahun?”

Kali ini tangisku pecah. Bunga mawar kuremas hingga hancur. Tante Dewi memandangku sedih.

“Azee sudah pergi menjemput surga, ikhlaskan dirimu, Ris… Tante tau ini tidak mudah. Tahun depan, jangan membuat perayaan ulang tahun Azee lagi, ya. Tante sayang kamu, Ris….”

Lalu layar akun Azee mati.

Aku menjerit. Kehilanganmu, belum sepenuhnya dimengerti hatiku.

–end–

#FF2in1 part 2 (Simple Plan – Jet Lag)

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com  di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Bintang Malam

“Boleh aku duduk di sini?”

Tanpa menunggu aku menjawab, kamu menjeplak di sebelah kananku, berbaring telentang bertelekan lengan. Aku tersenyum samar. Katanya tadi minta duduk aja, batinku geli.

“Bintangnya nggak keliatan ya, Ran. Aku rasanya pengen pulang kampung aja, kalau di rumah tuh bintangnya banyaaak banget dan kita kayak deket sama langit. Heeemm kereeen…”

Kamu bercerita lirih, seakan takut menggangguku. Tapi nada suaramu, ceria. Aku melirik dengan ekor mata, senyummu tak ada habisnya. Hey, aku terpesona lagi? Ah ya, aku terpikat padamu setiap detik, menit, jam, hari, bahkan tahun. Tapi toh kamu tak akan pernah tau. Aku yang cemen, belum siap kalau harus menjadikanmu kekasih. Hah, hidupku saja masih berantakan, beraninya aku mengambil tanggung jawab anak orang.

“Ran, ngelamun apa, sih? Diem aja dari tadi,” Kamu bangkit dan mencolek lengan ku.

“Emang aku mau ngelamun, Lin. Kamu tibatiba dateng, ngeganggu aja,” jawabku asal sambil memeletkan lidah. Kamu merengut. Aku tau kamu pura-pura.

Aku tertawa dan ikut bangkit. Menghadapmu yang sedang tersenyum lucu. Halo, binar di matamu kenapa begitu jelas?

“Seneng banget, habis dapet gaji tambahan?”

Kamu tertawa,”Bukaan, hehehee…”

“Terus?”

Bola matamu berputar-putar. Masih dengan senyum jenaka yang bahagia.

Kamu mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Kudekatkan corong kuping ke mulutmu. Kamu membisikkan sesuatu, seakan hanya aku yang boleh tau. Kata-kata itu begitu jelas, sejelas bintang di rumahmu yang kamu sebut tadi.

“Selamat ya,” Aku tersenyum manis sekali, cuma untukmu.

Kamu saking bahagianya mengangguk kencang lalu kembali berbaring telentang. Aku masih duduk bersila, menatap langit malam minggu yang cuma ada rembulan sabitnya.

“Arga melamarku jadi istrinya,” bisikmu tadi.

Aku ikut bahagia.

Tapi sedikit luka.

–end–

#FF2in1 part 1 (Yovie n Nuno- Malam Mingguku)

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Analisis Singkat Mengenai Perubahan UU No 27 th 2007 kepada UU No 1 th 2014

Pada tahun 2013 lalu, DPR-RI telah mengesahkan perubahan/ revisi UU No 27 th 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menjadi UU No 1 th 2014. Perubahan ini, disinyalir karena adanya penyalahgunaan HP-3 sehingga lahan pesisir tidak maksimal dalam pengelolaannya.

Namun apa saja pasal dan ayat yang di revisi dan bagaimana analisanya?

UU PWP-PK

Dari UU No 27 tahun 2007 yang direvisi adalah sebagai berikut:
Continue reading

Literasi Media, Pentingkah?

Gerakan Indonesia Cerdas Bermedia

8662143

Literasi media adalah sebuah kemampuan untuk memahami, menganalisis dan juga mengetahui bagaimana sebuah media/informasi dibuat dan diakses publik. Media membangun fakta yang ada di lapangan untuk kemudian mentransfernya menjadi sebuah makna/informasi kepada pembaca. Media juga memiliki kekuasaan untuk menyebarkan informasi dari objek yang satu ke objek lainnya. Perlahan namun pasti, media bertransformasi menjadi sebuah kekuatan baru yang dapat memengaruhi intelektualitas publik.

Mari kita umpamakan media sebagai makanan. Jurnalis layaknya seorang chef yang bertugas meracik dan meramu bahan-bahan makanan sehat menjadi menu makanan yang sehat dan menyehatkan pula. Kemampuan yang dimiliki chef untuk mengolah bahan makanan dengan baik, dapat menghasilkan sajian makanan dengan nilai gizi tinggi. Begitu pula halnya seorang jurnalis, jika mereka memiliki kemampuan/integritas mengolah fakta lapangan dengan baik maka mereka akan menghasilkan berita dengan nilai informasi yang berkualitas.

Selain mengetahui hal yang memengaruhi aspek pengolahan media seperti yang telah disinggung di atas, kita sebagai publik juga harus mampu memahami…

View original post 279 more words

Apakah Kamu Sudah Tidak Percaya..

image

Ahad kemarin, seorang mentor menyentak batinku dengan sebuah pertanyaan:

“Apakah kamu sudah tidak percaya lagi dengan rezeki Allah?”

Aku sedikit terperanjat, dan menit berikutnya ketika beliau menjelaskan, rasanya ada yang kalang kabut di benakku.

“Saya benar2 heran, ada saja saudara kita, yang meninggalkan dakwah karena mengejar karir, dengan dalih berutang budi. Ketika kuliah dakwah semangat, ketika sudah masuk dunia kerja seakan lupa apa tugas utamanya.”

Continue reading

Pelangi ^^

Sore ini aku melihat pelangi. Indah sekali. Aku melihatnya ketika semburatnya perlahan datang. Menghiasi langit senja yang gerimisnya masih menitik. Sengaja aku memperlambat laju motorku, dan menghentikannya di tepi jalan. Aku ingin melihatnya, menuju warna yang sempurna, lalu menghilang terbiaskan.

Detik demi detik berlalu, dan.. voila!  Sempurnalah warna pelangi. Aku saking senangnya sampai tertawa tertahan dan mengambil gambar pelangi indah itu. Saking jelasnya, aku sampai bisa menghitung warna yang nampak. Continue reading