[resensi] Mei Hwa (Dan Sang Pelintas Zaman)

IMG_20150309_203428

Judul     : Mei Hwa (Dan Sang Pelintas Zaman)

Penulis : Afifah Afra

Penyunting : Ayu Wulan

Penerbit : Indiva

Tebal     : 368 halaman

Tahun Terbit : 2014

“Jika ada sesuatu yang membinasakan

sekaligus menghidupkan,

dia adalah Cinta”

Membaca karya Mbak Afra selalu membuat saya berdebar penasaran. Novel De Winst dan De Liefde menjadi salah satu novel sejarah favorit saya. Penceritaan tokoh, alur, bahkan orisinalitas sejarahnya sangat mengagumkan. Sehingga, ketika novel Mei Hwa kembali hadir di pasaran, tidak menunggu waktu lama bagi saya untuk menikmati karya ini. Ekspektasi saya terhadap karya berlatar sejarah milik Mbak Afra selalu tinggi mengingat detil sejarahnya yang selalu melewati riset yang tidak sebentar.

Begitu juga dengan novel Mei Hwa ini. Membaca prolognya saja sudah membuat kening saya berkerut-kerut (ini yang saya suka!). Metafora nya begitu memikat. Penyebutan “kayu” untuk seorang manusia yang telah makan asam garam kehidupan membuat saya bertanya-tanya, “Apa yang terjadi?” dan inilah yang kemudian menggerakkan saya membaca lembaran-lembaran berikutnya.

Kisah tentang Cempaka, gadis Tionghoa yang menjadi mahasiswi cerdas di kampus Fakultas Kedokteran UNS. Mengenal Firdaus Yusuf yang kala itu menjabat sebagai ketua senat mahasiswa di kampus yang sama, membuat Cempaka merasakan gelombang-gelombang perasaan yang mendera hatinya. Namun, kisruh politik 1998 membuat semuanya berubah. Cempaka yang memiliki nama asli Mei Hwa ini depresi setelah keluarga, harta, dan harga dirinya, dicabik-cabik oleh segerombolan bejat yang mengatasnamakan diri mereka “reformasi”. Terlebih karena ia seorang Tionghoa, dimana etnis ini memang seringkali menjadi kambing hitam dalam sebuah percaturan politik di negeri ini.

“Sebuah perubahan, mungkin memang membutuhkan tumbal.” –hlm. 103

Mei Hwa frustrasi. Baginya kini, mahasiswa adalah penyebab dari semua ini. Kevokalan mahasiswa terhadap rezim Soeharto memporak-porandakan kehidupannya. Adapun Firdaus, kini dibencinya setengah mati. Mei Hwa lari dari RSJ tempatnya dirawat. Ia kemudian ke Solo, sebagai penumpang gelap disebuah kereta dan turun di stasiun Jebres. Di sanalah, ia bertemu “Kayu”. Seorang tua yang telah melewati tiga zaman di negeri ini. Seorang yang kemudian diceritakan secara apik oleh Mbak Afra sebagai Sekar Ayu Kusumastuti.

Sekar Ayu merupakan pribumi yang dilahirkan dari seorang wanita Jawa dan lelaki saudagar keturunan Arab ketika Belanda masih menguasai Solo, tepatnya 1936 silam. Kebencian nenek  Ayu terhadap Muhdor, ayahnya, membuat Sunarsih berbahagia ketika Harjanto yang bekerja di pemerintahan meminang ibu  Ayu yang ditinggal mati oleh suaminya karena penyakit. Sekar Ayu tumbuh dengan pendidikan barat ala “Papi”-nya. Malang tak dapat ditolak, Jepang mengambil alih kekuasaan setelah Perang Dunia II. Harjanto dijebloskan ke penjara, ibu Sekar Ayu dijadikan jugun ianfu, dan Ayu sendiri melarikan diri.

Hidup Ayu selanjutnya sangat berat. Diperkosa tentara Jepang pengidap pedofilia, dijadikan Geisha,pergi ke Jepang, dan akhirnya bisa kembali ke Indonesia lagi berkat bantuan seorang baik bernama  Tuan Harada. Di Indonesia, Ayu kembali pada Kakeknya, ayah dari Muhdhor, Kyai Murong. Pertemuannya dengan Purnomo, Prakoso, dan Ustad Ahmad, kembali mewarnai hidup Ayu. Ayu bergabung dengan Gerwani, mengikuti cinta revolusi ala Prakoso, namun mengandung anak Purnomo yang akhirnya diasuh Ustad Ahmad sebagai suami sah-nya. Genderang perang ditabuh. Penyerbuan Partai Komunis ke pesantren Kyai Murong yang melibatkan Ayu dan Prakoso, melumatkan seisi pondok termasuk Kyai Murong. Beruntung, Ustadz Ahmad berhasil menyelamatkan anak Ayu, Khairul Annam. Sedangkan Ayu menganggap Annam telah mati terbakar dalam peristiwa mengenaskan itu.

Bertahun kemudian, Sekar Ayu ditangkap sebagai tapol Gerwani. Setelah bebas dengan bantuan seorang Sersan, ia bertemu dengan Purnomo. Nahas, Purnomo hanya menganggapnya sebagai masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam. Ayu pun dibuang ke laut selatan nan ganas. Wajahnya nan cantik serta kemolekan tubuhnya sudah berubah seperti monster mengerikan ketika ditemukan oleh seorang nelayan. Ayu tinggal dengan lelaki itu hingga Aki Jaya, lelaki itu, menghembuskan nafas terakhirnya. Ayu pun tak tau lagi harus kemana. Ia kemudian kembali ke Pesantren Murong yang sudah seperti kompleks berhantu pasca kejadian penyerbuan itu. Di sana pun ia ditangkap lagi dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan sebagai Gerwani yang menyebarkan paham komunis. Sepuluh tahun kemudian ia bebas dan menggelandang di jalanan Kota Solo.

Di Solo inilah, Mbah Murong alias Sekar Ayu bertemu dengan Mei Hwa yang gila. “Kapas”, begitu Mbah Murong menyebut Mei Hwa. Mereka menjalanikerasnya hidup di jalanan. Hingga akhirnya, Firdaus berhasil menemukan Mei Hwa yang sedang sakit di gubuk mereka. Dari sinilah, cerita Mei Hwa berlanjut. Firdaus merawatnya di rumah sakit, sementara Zak, kakak Mei Hwa juga bertemu kembali dengannya. Zak yang sudah lama tidak terlihat, menyampaikan pada Mei Hwa bahwa Firdaus ingin melamar Mei Hwa. Awalnya Mei Hwa tak berkenan, sehubung dengan masa lalunya sebagai korban perkosaan. Akan tetapi, ketulusan Firdaus dan keluarganya membuat Mei Hwa luluh dan menjadi muallaf.

Pada hari pernikahan Firdaus dan Mei Hwa, semua terbongkar. Sekar Ayu melihat Purnomo, Khoirul Annam, dan Ustadz Ahmad dengan tali temali yang rumit dijabarkan. Pertemuan inilah yang menggenapkan misteri hidup Sekar Ayu.

Meski terlihat kebetulan, Mbak Afra menceritakan kejadian itu seperti sebuah twist. Para pembaca akan berteriak gemas dan memahami alur yang sebenarnya terjadi. Namun hal ini terangkum apik dalam novel beralur flashback ini. Hanya saja, menurut saya, lakon Sekar Ayu seharusnya justru bisa menjadi lakon utama mengingat novel ini didominasi oleh kehidupan Sekar Ayu. Keindahan novel ini terletak pada metafora dan bahasanya, sehingga pembaca akan terbuai dan terpana.

Novel ini sayang untuk dilewatkan. Banyak sekali nasihat yang tersurat dan tersirat dalam novel ini. Pencarian makna hidup, menasbihkan kesyukuran, penyesalan tak berujung, dan banyak ajaran baik yang tertulis apik dalam 368 lembar halaman.

“Hati, ya..kecemerlangan kalbulah yang membuat seseorang layak dikatakan sebagai sosok mulia ataupun hina.” -hlm 352

Selamat membaca!

*Resensi ini diikutsertakan dalam ajang Lomba Resensi Buku FLP http://flp.or.id/2015/02/16/lomba-resensi-buku-flp/

3 thoughts on “[resensi] Mei Hwa (Dan Sang Pelintas Zaman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s