Ekosistem dan Sumber Daya Pesisir

Di beberapa postingan sebelum ini, saya sudah menjelaskan betapa Indonesia sangat panjang garis pantainya. Sebagai negara kepulauan, maka jelaslah jika garis pantainya pun sangat panjang. Sepanjang 95.181 km ! Waw.

Pernah ke pantai dong pasti? Apa saja yang bakal anda lihat di pantai?

Ombak? Yes! Terumbu Karang? Yap! Ikan? Yups! Mangrove? Benar! Ubur-ubur! Iyadeh bener juga.

Apalagi?

Nah, saya akan mengulas beberapa hal mengenai ekosistem dan sumberdaya pesisir nih sekarang.

Kawasan pesisir pantai tersusun oleh berbagai ekosistem yang dicirikan oleh sifat dan proses biotik dan abiotik yang jelas, satu sama lain tidak berdiri sendiri-sendiri, bahkan saling berkaitan (Nybakken, 1988). Wilayah pesisir merupakan wilayah yang unik karena ditemukan sebagai ekosistem mulai dari daerah pasang surut, estuary, hutan bakau, terumbu karang, padang lamun, estuaria dan sebagainya. Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara darat dan laut yang meliputi wilayah sekitar 8% permukaan bumi (Clark, 1996).

Untuk SDA hayati, ada 3 jenis ekosistem besar :

1. Hutan Mangrove

Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.
Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).
Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

2. Padang Lamun

Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan berbunga yang hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas.
Pertumbuhannya cepat kurang lebih 1.300 – 3.000 gr berat kering/m2/th. Padang lamun ini mempunya habitat dimana tempatnya bersuhu tropis atau subtropis. Padang lamun menyebar hampir di seluruh kawasan perairan pantai Indonesia.
Lamun menjadi makanan favorit ikan duyung (*bukan putri duyung yaaa haha). De Iongh et al. (1995) melaporkan jenis lamun Halodule uninervis merupakan makanan utama bagi dugong di perairan timur Ambon. Penelitian lain di perairan Sulawesi Selatan lebih memfokuskan bahwa duyung tidak hanya memakan daun lamun tapi juga rizom dan akar lamun yang merupakan sumber nutrisi utama bagi duyung (Erftemeijer et al., 1993).
3. Terumbu Karang

Adalah ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis­jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis­jenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis plankton dan jenis-jenis nekton.
Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem dengan tingkat keanekaragaman tinggi dimana di Wilayah Indonesia yang mempunyai sekitar 18% terumbu karang dunia, dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 2500 jenis ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis Moluska, dan 1500 jenis udang-udangan) merupakan ekosistem yang sangat kompleks.
Ekosistem terumbu karang dunia diperkirakan meliputi luas 600.000 km2, dengan batas sebaran di sekitar perairan dangkal laut tropis, antara 30 °LU dan 30 °LS. Terumbu karang dapat ditemukan di 109 negara di seluruh dunia, namun diduga sebagian besar dari ekosistem ini telah mengalami kerusakan. 😦

Untuk SDA non Hayati, ada banyak sekali yang menjadi kekayaan daerah pesisir;
1.Air Laut

2. Energi

3. Endapan Logam >> bisa dilakukan penambangan
4. Arus dan Gelombang >> untuk pembangkit listrik

Untuk pemanfaatannya haruslah dilakukan secara terpadu agar tidak timpang. Memanfaatkan SDA non hayati memang bisa terus menerus, yang perlu diperhatikan adalah kelangsungan hidup organisme hayati di laut. Sumber daya alam akan menjadi lebih bermanfaat jika dikelola dengan benar dan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya alam. Selain itu, pengelola SDA hendaknya bukan asing lagi, karena seharusnya diutamakan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri.


*) Luthfi Izzaty, Mahasiswa Teknik Geodesi UGM

*) sumber:

Ekosistem Pesisir Pantai

Yayasan Terumbu Karang Indonesia 

KEHATI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s