Kamuflase

???????????????????????????????

“Jangan bersedih lagi,”kataku sambil melempar senyum padanya. Dia hanya melirikku sekilas.

“Sudah sejauh ini, dan aku tak mendapat apapun. Apa menurutmu aku harus jingkrak-jingkrak kesenangan? Gila kamu,”

“Aku tak menyarankan itu padamu, hei. Sudahlah, bagaimanapun kamu sudah berjuang. Masih banyak kesempatan lain, kan? Mungkin ini salah satu momentummu,”

“Lanjutkan, dan aku muak mendengar kamu berbusa seperti motivator sialan itu,”

Dia kemudian membuka botol minuman bersoda, untuk kedua kalinya. Aku diam saja. Percuma melarangnya yang sedang stress. Setidaknya, dia tak nekat merokok atau minuman keras seperti teman-temannya yang lain.

Malam baru saja menurunkan tirai hitamnya. Menampilkan gemerlap bintang bersama orchestra para jangkrik. Aku baru saja menemuinya, duduk di atas atap dengan minuman dingin. Menemaninya yang berbicara apa saja. Hampir setiap malam, dan aku sama sekali tak keberatan.

“Hm… By the way, tadi aku heran di kantor. Kamu tumben sms dulu kalau mau cerita. Biasanya juga kita ketemu di atas atap rumahmu begini, kan,” aku membuka ponsel yang tadi sempat kumatikan.

“Aku stress, Ning. Makanya tadi aku sudah nggak sanggup lagi nahan semuanya sendirian. Dan aku cuma ingat nomor ponselmu,”

Hening. Begitu mendadaknya hening itu hingga aku berkecamuk dengan fikiranku sendiri. Ya kah? Dia hanya mengingat nomor ponselku? Itulah kenapa dia meneleponku dan mengabarkan “kegagalan”-nya dengan suara yang lelah? Aku tahu seberapa panjang dan berat yang sudah dia lakukan selama ini. Makanya, hei, apa lagi yang bisa kamu katakan kepada seseorang yang sejak dulu kamu anggap paling hebat dengan semua ide dan perbuatannya ketika dia tetiba berkata ‘lelah’?

“Mungkin memang semua ini sia-sia, Ning.”

“Bagaimana mungkin, Rom? Kamu sendiri yang sudah mengajariku banyak hal tentang perjuangan. Kamu sendiri yang sudah berkali-kali mengingatkan aku kalau semua hal di dunia ini tak ada yang sia-sia. Bagaimana mungkin, Rom?”

“Aku cuma pura-pura,”

Jawaban singkatnya buatku kaget tak kepalang. Pura-pura? Semua yang dia lakukan? Semua yang dia katakan? Hanya pura-pura?

Matilah semua yang kamu tahu.

Mataku terpejam. Mengingat bertahun aku mengenalnya. Ternyata tak sedalam yang aku rasa. Romy, bagiku dialah motivator sialan itu. Membuatku terus bergerak menyambung hidup dan nyawaku. Karena dialah aku tak henti melangkahkan kaki. Walau aku sadar sekarang, dia kutinggalkan jauh di belakang. Aku melesat duluan, tak sopan. Dan dia, masih berjuang dengan semua senyuman dan semangat yang dia punya.

Dan sekarang dia lelah.

“Untuk apa, Rom? Kamu bisa cerita semua ke aku kan, kalau kamu lelah? Nggak perlu nunggu selama ini untuk bilang kamu sudah lelah,”

“Aku butuh kamuflase, Ning. Setidaknya, aku punya harapan. Aku sama sekali tidak ada masalah denganmu. Aku hanya mencoba menguatkan diriku sendiri, Ning. Berkali-kali gagal dalam penelitian akhir, awalnya tak masalah buatku. Tapi ini keterlaluan, Ning. Aku nggak akan bisa selesai!”

“Kamu akan berhasil,” kukatakan pelan hal itu. Walau aku tahu itu percuma, setidaknya aku bicara fakta. Dia tak pernah gagal melakukan yang dia mau.

“Kapan?!”

“Jangan jadi pengecut, Rom! Kamu ajarkan itu ke aku!” kataku sambil merebut botol di tangannya dan melemparkannya ke kebun.

Dia terdiam.

Aku juga.

Setidaknya kami sudah sama-sama tahu. Kami akan saling menguatkan.

 –selesai–


note : 492 words

cerita ini diikutsertakan dalam Giveaway Diverse Sides oleh Yanti Handia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s