Raffan

“Kenapa kamu melakukan itu, Fan?”

Raffan menelan ludah. Ketenangan Ina malam ini justru membuatnya kelabakan. Raffan sangat tahu, Ina sangat sabar menghadapi semua hal yang berkaitan dengan hidupnya. Pun dengan Raffan, itulah kenapa Raffan meminangnya tiga bulan yang lalu.

“Em… maksudmu apa, Na?”

Ina tersenyum samar, “Bahkan tanpa melihatmu pun aku tahu kamu sedang gugup. Sebegitukah aku mengenalmu, Fan? Ternyata tidak, ya? Aku sudah kecolongan berapa kali?”

“Na… maafkan aku,”
Continue reading

Di Ujung Jalan

Jalanan mulai sepi, keramaian jam-jam pulang kerja mulai berkurang. Aku melangkahkan kaki sedikit lebih cepat, mengusir semua benak yang tetiba menghampiri fikiranku. Bagunan ruko di kanan jalan. Persawahan di kiri jalan. Angin yang sedikit mengacak rambutku.

Tidak bisa, fikiran itu masih saja menari. Berjalan bersama setiap dua hari sekali, di sore hari. Kegemaranku, juga dia tentunya. Ah tidak, kegemarannya yang kemudian menular padaku. Sampai pada saat ini, aku tak bisa meninggalkan kebiasaan itu. Sembari membicarakan hal-hal yang entah penting atau tidak.

Aku seperti mendengar suaranya sekarang. Continue reading