Di Ujung Jalan

Jalanan mulai sepi, keramaian jam-jam pulang kerja mulai berkurang. Aku melangkahkan kaki sedikit lebih cepat, mengusir semua benak yang tetiba menghampiri fikiranku. Bagunan ruko di kanan jalan. Persawahan di kiri jalan. Angin yang sedikit mengacak rambutku.

Tidak bisa, fikiran itu masih saja menari. Berjalan bersama setiap dua hari sekali, di sore hari. Kegemaranku, juga dia tentunya. Ah tidak, kegemarannya yang kemudian menular padaku. Sampai pada saat ini, aku tak bisa meninggalkan kebiasaan itu. Sembari membicarakan hal-hal yang entah penting atau tidak.

Aku seperti mendengar suaranya sekarang.

Tidak! Aku menggelengkan kepala keras. Aku sudah berusaha selama ini untuk mengusir semua tentangnya. Mengusir suara, langkah kaki, cara tertawa, cara berlari, semuanya. Siapapun tahu, aku berusaha untuk kebahagiaan untuknya. Dan semua orang juga tahu, semua sudah berakhir. Semua orang?

“Bukan jodohmu, Le..” kata ibuk begitu.

“Udahlah Mas, perempuan di dunia banyak. Lebih banyak daripada laki-laki malang kayak kamu ini, Mas,” curang, Dede meledekku dengan analoginya yang cerdas.

“Wake up, Bro!” sembur Anji, yang benar-benar menyemburku dengan air soda ketika aku mulai bertingkah laku macam patah hati tak berkesudahan.

Iya, aku kan memang berusaha, tidak diam memeluk lutut tiap pagi atau memandangi langit setiap hujan datang. Aku mengalihkan duniaku dari dia dengan semua aktifitasku. Sumpah, betapapun sialannya kalimat “derajat tertinggi mencintai adalah merelakannya bahagia”, aku lebih setuju dengan kalimat “kebohongan paling nyata adalah ungkapan tadi”. Halo? Mana ada yang tiba-tiba ikhlas begitu?

Sebentar, ini aku melangkah kemana? Kenapa bukan ke arah rumahku?

Aku berhenti tiba-tiba. Mendadak linglung melihat ke sekelilingku. Aku menggeleng keras. Tidak mungkin!

Di ujung sana, ada rumahnya yang (dulu) beratap genting merah. Kali ini tidak, telah banyak tambahan bangunan “darurat” di sana.

Aku lupa. Besok dia menikah, entah dengan laki-laki siapa.

Undangan darinya sudah sebulan lalu aku bakar di tungku tanpa melihat isinya.

–selesai–


Tema : Lapang Dada – Sheila On 7

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s