Raffan

“Kenapa kamu melakukan itu, Fan?”

Raffan menelan ludah. Ketenangan Ina malam ini justru membuatnya kelabakan. Raffan sangat tahu, Ina sangat sabar menghadapi semua hal yang berkaitan dengan hidupnya. Pun dengan Raffan, itulah kenapa Raffan meminangnya tiga bulan yang lalu.

“Em… maksudmu apa, Na?”

Ina tersenyum samar, “Bahkan tanpa melihatmu pun aku tahu kamu sedang gugup. Sebegitukah aku mengenalmu, Fan? Ternyata tidak, ya? Aku sudah kecolongan berapa kali?”

“Na… maafkan aku,”

“Hentikan semuanya. Atau aku akan laporkan kamu ke polisi, Raffan.” Ina menatap lurus-lurus jalanan di depannya.

Raffan melambatkan laju mobilnya. Dia tahu Ina marah besar. Ketenangan Ina ini tidak biasa. Ini ketenangan yang membawa bencana. Ina tidak pernah menarik kata-katanya. Polisi? Raffan bergidik membayangkan penjara yang menunggunya. Bagaimana Ina bisa tahu?

“Bagaimana kamu bisa tahu, Na?” tanya Raffan hati-hati. Nyawanya di tangan Ina sekarang.

“Kejahatan, sekecil apapun akan ketahuan, Raffan. Tidak perlu tanya bagaimana. Anggap saja aku tiba-tiba tahu semua kelakuanmu. Bagaimana kamu mendekati puluhan wanita karir yang cantik-cantik itu lalu menipu semua harta mereka. Aku tahu, Raffan.. Aku tahu.”

Raffan tersentak. Sial! Bagaimana dia bisa tahu? Aku melakukan semuanya dengan rapi!

“Aku melakukan semuanya demi kamu, Ina. Demi masa depan kita,” suara Raffan bergetar.

Ina tertawa. Tawa sinis yang membuat Raffan merinding. Ina menjebakku?

“Ternyata kamu punya niat baik walau caramu sejahat ini, ya? Aku tidak butuh semua itu, Raffan. Aku butuh tanggung jawabmu untuk semua kelakukanmu ini. Ke arah kantor polisi sekarang, ya?”

Ina tiba-tiba menengok ke arah Raffan. Senyumnya masih menghiasi. Entah senyum dengan makna apa itu, Raffan terlanjur bergidik. Padahal senyum itulah yang dulu membuatnya jatuh hati pada Ina.

Raffan gamang. Dia tidak mau hidup mendekam di penjara. Dia juga tidak mau kehilangan Ina. Raffan melajukan mobilnya dengan cepat.

“Raffan! Kamu mau kemana! Arah kantor polisi, Raffan!” Ina berteriak. Raffan tak peduli.

“Aku tidak mau kehilagan kamu, Ina! Kita harus selamanya bersama!”

“Raffan kamu gila! Putar balik sekarang!!” Ina berteriak-teriak ngeri. Ia mencengkeram tepian pintu mobil.

Raffan terdiam. Rahangnya kaku. Dia menabrakkan mobilnya ke pembatas jembatan. Dibawahnya sungai mengalir deras dan dalam.

“Raffan!!!!!”

Saat terakhir dia mendengar suara Ina.

–selesai–


Tema : Style – Taylor Swift

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

4 thoughts on “Raffan

Leave a Reply to alrisblog Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s