[review] Film Filosofi Kopi

 

filkop1

Judul : Filosofi Kopi

Cast : Chicco Jerikho (Ben), Rio Dewanto (Jody), Julie Estelle (El)

Sutradara : Angga  Sasongko

Script writer : Jenny Jusuf

Saya berkenalan dengan “Filosofi Kopi” memang baru. Sekitar November 2014 lalu. Filosofi Kopi adalah salah satu cerpen milik Dewi “Dee” Lestari yang dibukukan dengan judul buku yang sama. Seketika setelah saya menamatkan, saya jatuh hati dengan cerita itu. Soalnya saya suka banget sama kopi. Hueheheheee. Akhirnya saya banyak searching dan nemuin kalau cerita itu bakal di-film-kan! Waw! Otomatis saya excited banget! Dari cerpen, jadi film! Anti mainstream tuh hahaha, biasanya kan novel ke film. Ya nggak? 😀

Akhirnya setelah penantian sekian lama, film Filosofi Kopi rilis 9 April 2015 kemarin. Yeay, saya nggak peduli ada film lain (yang katanya) bagus di bioskop. Meskipun lagi musim ujian, tetep dah, tancap gas ke bioskop bareng 3 temen saya di tanggal 13 April 2015. And Here we go~

Sedikit sinopsis….

Ben, seorang barista kafe yang dia beri nama “Filosofi Kopi” menyuguhkan berbagai macam kopi dengan filosofi masing-masing. Ben ini barista lumayan idealis, saya pikir, karena dia menolak adanya wifi di kafe, dan sangat memperhatikan kualitas kopi yang dia jual. Berbeda denga Jody, sebagai manajer kafe yang dibebani utang 800 juta peninggalan ayahnya, Jody berperan sebagai Paman Gober, si bebek tua yang pelit dan cermat. Filosofi Kopi berkembang dan terkenal karena keunikannya dalam menyajikan kopi. Di setiap kopi yang disuguhkan selalu ada filosofi yang diberikan.

Di saat yang genting, datang seorang pengusaha kaya kebanyakan duit, menantang Ben untuk membuat kopi paling enak yang akan menentukan kelanjutan tendernya. Dia menjanjikan 100 juta untuk Ben. Ben menyanggupi dengan syarat bukan 100 juta tetapi 1 Milyar! Jika kalah? Maka Ben yang akan membayar 1 Milyar kepada Om om tersebut.

Ben membutuhkan waktu 2 pekan untuk meracik kopi blend dengan berbagai macam kopi yang dia kumpulkan (*yang tentunya dengan wajah sebelnya Jody waktu tender biji kopi). Begitu berhasil menemukan (*ini saya suka banget deg deg-an nya pas kru kafe nyicipin kopi itu :3) dia jual-lah kopi yang dinamai “Ben’s Perfecto” itu di kafe. Sampai kemudian datanglah El, seorang Q-Grader (pencicip cita rasa kopi) bersertifikasi internasional yang mewawancarai Jody untuk Ben’s Perfecto. Namun El mengatakan Ben’s Perfecto kopi yang enak saja, bukan paling enak. Masih kalah sama kopi tiwus, kata El. Di sana-lah Ben mulai meradang, tidak terima masterpiece-nya direndahkan. Dan pencarian kopi tiwus pun dimulai, dengan menghadirkan polemik serta kenangan masa lalu.

Review

Saya suka pendalaman karakter Ben dan Jody. Sangat dalam. Persahabatan mereka seperti nyata! Saya suka banget bercandanya mereka. Dialog mereka lancar alami, tidak seperti dibuat-buat. Bagaimana mereka berselisih paham setiap diskusi, namun mereka benar2 saling memahami. Lewat tatapan mata saja, anda bakal tau mereka seperhatian apa satu sama lain. Suka banget deh!

Lalu untuk latar, landskap perkebunan kopi nya saya suka banget. Latar waktu yang menjelaskan kenapa ada Ben dan Jody yang seperti itu juga. Pendalaman karakternya justru lebih terlihat ketika masa lalu mereka masing-masing terkuak. Pun dengan El. Nangis bombay deh waktu kisah Ben sama orangtuanya. Asli nangisss T____T

Secara umum, saya kagum dengan bagaimana Kak Jenny mengeksplorasi cerita pendek sehingga menjadi sebuah film berdurasi nyaris 2 jam ini. Pendetilan adegannya tidak terasa kaku dan memperkaya suasana. Ohya, walaupun film ini didukung brand kopi terkenal, tetapi kemunculan logonya tidak memaksa dan cukup unik. Hehe…

Namun, tak ada gading yang tak retak

Saya memiliki beberapa catatan mengenai film ini juga. Pertama, sebuah detil kecil namun sangat mengganggu saya adalah; Ben perokok aktif. Dimanapun dan kapanpun. Itu sangat mengganggu saya. Setahu saya, pecinta kopi apalagi barista, nggak akan ngerokok se-addict itu. Karena lidahnya akan terpapar tembakau, dan kemampuan untuk merasakan aroma dan citarasa kopi akan menurun. Selain itu, karena kopi sangat sensitif terhadap bau, maka kopi yang diracik, disangrai, atau bahkan yang dibiarkan saja, jika terpapar bau rokok, maka rasa kopi tersebut akan berbeda dengan yang natural. Saya kurang tau apa motif Om Angga dengan adegan rokok berkali-kali ini.

Kedua, peran El sebagai Q Grader hendaknya bisa menjelaskan kenapa tiwus disebut sebagai kopi terbaik. Akan tetapi latar belakang El sebagai Q Grader malah kurang terasa. Yah maklum, ini kan film, penonton nggak tau juga rasa tiwus kaya apa. Dengan penjelasan seorang Q Grader, mungkin justru bisa membayangkan seperti apa nikmatnya kopi tiwus. Harum dan gurih seperti Aceh Gayo, atau earthy dan asam seperti Toraja ataukah sedikit fruity seperti Flores Bajawa yang saya suka? Masih misteri kopi tiwus ini 😀

Namun bagaimanapun, saya menyarakankan bagi anda semua, yang ngaku pecinta kopi maupun yang bukan, untuk menonton film ini. Kualitas bagus beneran deh film ini. Mengambil perspektif yang sama sekali berbeda dengan film lain di Indonesia. Kopi, sebagai komoditas Indonesia terbesar ketiga sedunia, malah kurang diperhatikan kualitas dan pengolahan dari hulu ke hilirnya.

 

Ah, satu lagi. Gara-gara perkataan El ke Ben tentang cinta ataukah ambisi dalam pengolahan kopi, saya jadi berfikir sesuatu. Sebenarnya apa yang selama ini kita lakukan, kita anggap sebagai “cinta” ataukah hanya “ambisi” semata?

“Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.”

“Gue nggak pernah bercanda soal kopi.”

Filosofi Kopi Tubruk : Kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona.
Filosofi Cappuccino : Keseimbangan dan keindahan adalah syarat mutlak keberhasilan.
Filosofi Tiwus : Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.
Filosofi Macchiato : Sendirian atau berdampingan hidup sepatutnya tetap penuh arti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s