Penginderaan Jauh dan Pengelolaan Wilayah Pesisir

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam beberapa postingan sebelumnya, bahwa Pengelolaan Wilayah Pesisir mutlak diperlukan khususnya bagi Indonesia. Dengan wilayah pesisir yang sangat luas, Indonesia mempunyai potensi besar bagi keberhasilan pengelolaan pesisir. Bagaimana tidak? Panjang garis pantainya saja mencapai 81.000 km (DKP, 2008). Dengan adanya hutan mangrove yang merupakan terluas didunia, terumbu karang yang eksotik, rumput laut yang terhampar dihampir sepanjang pantai, sumber perikanan  dan keadaan lahan yang relatif subur untuk pertanian membuat masalah pengelolaan pesisir ini semakin menjadi perhatian.

Dalam pengelolaannya, diperlukan teknologi serta data yang kontinyu untuk menggambarkan wilayah pesisir yang baik. Penggunaan teknologi Penginderaan Jauh (PJ) yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan salah satu metode yang banyak digunakan untuk memetakan dan mengetahui kondisi wilayah. Secara sederhana intergrasi antara penginderaan jauh dan SIG dapat memetakan kondisi wilayah pesisir sehingga dapat dipantau kondisinya.

Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan jalan menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap   obyek, daerah, atau gejala yang dikaji (Lillesand dan Kiefer, 1979). Sedangkan Sistem Informasi Geografi (SIG), adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000).

Penginderaan jauh, citra foto, citra satelit dapat dimanfaatkan sebagai sumberdata lingkungan abiotik (sumberdaya alam), lingkungan biotik (flora dan fauna), serta lingkungan budaya (bentuk penggunaan lahan). Dalam citra penginderaan jauh terdapat banyak informasi yang dapat direkam antara lain untuk pendekatan ekologikal, pendekatan spasial, serta pendekatan kompleksitas kewilayahan.Pemanfaatan data penginderaan jauh untuk perencanaan wilayah dapat melengkapi informasi peta yang sudah ada dan untuk menambahkan informasi terbaru, mengingat perkembangan suatu wilayah relatif berlangsung cepat sehingga sangat memerlukan data untuk monitoring dan evaluasi terhadap implementasi rencana tata ruang.

Contoh penggunaan data penginderaan jauh dalam pengelolaan pesisir :

  1. Mengindentifikasi berbagai macam objek di wilayah pesisir seperti rumput laut, terumbu karang, keadaan pasir, padang lamun, keberadaan mangrove, penggunaan lahan, serta sebaran vegetasi lainnya yang merupakan suatu ekosistem wilayah pesisir.
  2. Mengidentifikasi dan memetakan tumpahan minyak serta pencemaran di wilayah pesisir.
  3. Memetakan perubahan garis pantai.
  4. Deteksi daerah potensial penangkapan ikan.
  5. Identifikasi kelayakan lokasi untuk pengembangan, misalnya pariwisata dan budidaya perikanan.
  6. dan lain lain.

Penggunaan PJ memiliki beberapa kelebihan (+) dan kekurangan (-) :

(+) Citra menggambarkan obyek, daerah dan gejala di permukaan bumi dengan wujud dan letak obyek yang mirip dengan wujud dan letaknya di permukaan bumi, relatif lengkap, permanen dan meliputi daerah yang sangat luas.
(+) Karakteristik obyek yang tidak tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra, sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya.
(+) Pengambilan data di wilayah yang sama dapat dilakukan berulang-ulang sehingga analisis data dapat dilakukan tidak saja berdasarkan variasi spasial tetapi juga berdasarkan variasi temporal.
(+) Citra dapat dibuat secara tepat, meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara teresterial.
Periode pembuatan citra relatif pendek.
(-) Tidak semua parameter kelautan dan wilayah pesisir dapat dideteksi dengan teknologi penginderaan jauh. Hal ini disebabkan karena gelombang elektromagnetik mempunyai keterbatasan dalam membedakan benda yang satu dengan benda yang lain, tidak dapat menembus benda padat yang tidak transparan, daya tembus terhadap air yang terbatas.
(-) Akurasi data lebih rendah dibandingkan dengan metode pendataan lapangan yang disebabkan karena keterbatasan sifat gelombang elektromagnetik dan jarak yang jauh antara sensor dengan benda yang diamati.

—–(///)—–

Sumber :

PERENCANAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DAN DATA PENGINDERAAN JAUH >> https://mbojo.wordpress.com/2008/12/24/perencanaan-pengelolaan-wilayah-pesisir-dengan-memanfaatkan-sistem-informasi-geografi-dan-data-penginderaan-jauh/
Manajemen Sumberdaya Perairan >> http://sisteminformasisumberdayaperairan.blogspot.com/2014/04/aplikasi-pengindraan-jarak-jauh-dalam.html?m=1
Bappeda Prov Sulteng >> http://www.bappeda.sultengprov.go.id/berita/11-workshop-pengolahan-dan-pemanfaatan-data-penginderaan-jauh.html
Pemetaan Wilayah Laut >> http://praktekperpetaanunisba14.blogspot.com/2014/11/pemetaan-wilayah-laut.html


*) Oleh : Luthfi Izzaty | Mahasiswa Teknik Geodesi UGM | Blogger, Pecinta kopi spesialty, penyuka segala jenis musik.

*) Ditulis untuk memenuhi tugas Pengelolaan Wilayah Pesisir mengenai peran penginderaan jauh dalam pengelolaan pesisir. Look for us at #PesisirGdUGM

*) Diikutkan juga dalam event #NulisRandom2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s