Cinta Matahari

photo from : fiksi.kompasiana.com

“Saya selalu ajarkan kalian untuk mencintai ibarat matahari,” ujarnya memecah keheningan kelas pagi ini.

Aku dan puluhan mahasiswa lain hanya senyum-senyum aneh. Yah, si Bapak ngomongin cinta lagi, deh.

Beliau melanjutkan,”Lihat cinta matahari pada bunga. Dia begitu ikhlas memberikan sinarnya, semata agar bunga bisa melakukan fotosintesis dan tumbuh cantik. Lalu, ketika bunga sudah memekarkan mahkotanya, bunga justru menari bersama lebah dan kumbang. Apakah matahari marah lalu menghukum bunga? Tidak. Dia tetap memancarkan sinarnya.”

Seisi kelas mulai kasak-kusuk. Maklumlah, gejolak anak muda yang kadang masih bingung membedakan antara cinta atau nafsu.

“Lalu lihat juga, cinta matahari pada rembulan. Kalian tahu siapa yang membuat rembulan purnama bercahaya begitu cantik? Iya, matahari. Matahari dengan iklas memberikan sinarnya pada bulan agar ia mempesona. Tetapi ketika bulan purnama, siapa yang manusia bilang cantik? Bulan, bukan? Lalu apakah matahari marah? Kesal? Tidak. Bahkan matahari justru konsisten setiap bulan purnama, membiaskan cahayanya pada rembulan yang terlihat begitu indah.”

Aku tertegun. Tidak menyangka Pak Dosen kali ini akan membicarakan cinta. Hari ini memang pertemuan kami terakhir di semester ini. Sampai beliau mengatakan berkali kali ‘kalian sudah ada di dalam hati saya, dan saya tak akan membiarkan kalian keluar dari sana‘ yang membuat kami semua bengong. Bingung.

“Karena hakikat cinta adalah memberi,” beliau masih melanjutkan. Kelas mulai ramai. Sebagian mengangguk-angguk. Sebagian lagi mungkin saling bertanya-tanya, kok bapaknya mellow banget ya hari ini?

Karena cinta adalah memberi. Saya tetiba teringat pada salah satu tulisan Anis Matta.

Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi tanpa henti. Begitulah cinta yang terurai jadi laku. Ukuran interigasi cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati… terkembang dalam kata… terurai dalam laku… kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata… Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku.

(Anis Matta ; dalam Serial Cinta)

Itu pula yang orangtua kita lakukan, bukan? Memberi tanpa berharap meminta kembali?

Memberilah. Memberilah. Berikan semuanya. Pada cinta. Pada cinta. Pun ketika kau mengaku mencintai dakwah.

KPFT Sayap Timur – Utara,

menjelang ashar

*) Diikutkan dalam #NulisRandom2015 #Day3 more info >> @nulisbuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s