[#JombloTraveller] Halo

#1
Bulan Juni sudah berjalan setengahnya.
Siang ini di kantin beberapa temanku ribut-ribut, hanya karena dua hari lalu hujan deras mengguyur kota ini.
“Gilaak, Hujan Bulan Juni-nya Sapardi Djoko Damono bener-bener kejadian!”
“Iyaaa ih gue suka banget bau hujan tuuh, apa tuh namanya lupa-lupa inget gue?”
“Petrichor,” sahutku pendek.
“Naah iyaa bener Lira, petrikor! Baunya sedeeeep.” Aku tak terlalu menanggapi. Apaan sih, namanya juga alam nih lagi kacau. Global Warming. Ya udah biasa aja lah. Mana ada hubungannya sama sajak sastrawan terkenal itu. Ya enggak, lah. Beliau juga bukan peramal kan, bisa tau gitu Juni tahun sekian bakal ada hujan, padahal biasanya kering kerontang.
“Lir, kamu buka puasa pertama besok mau bareng siapa?” Tanya Eri mengagetkanku.
“Eh? Nggak.. nggak tahulah, Er. Paling aku ikut kajian tuh di Masjid Al Huda biar dapet takjil gratis.”
“Duileeee, jomblo sholihah banget Lu!” Kata Jia sambil berteriak.
Spontan aku menimpuk Jia dengan pulpen. “Aduh! Lira kebiasaan, deeh.” Kata Jia sambil meringis kesakitan.
“Kamu sih pake ngatain jomblo sholihah segala,”
“Wee itu fakta! Sejak putus sama si ITU kan kamu jadi menutup diri gitu, Lir. C’mon baby, please open your heart.” Aku hanya memeletkan lidah.

Soal kejombloan, baiklah, aku nggak akan menutup-nutupi atau mengelak. Baiklah, aku jomblo. So, why? Soal takdir dan nasib memang beda tipis. Sejak putus dari dia-yang-namanya-tak-mau-kusebut-lagi, (disingkat DYNTMKL) dua tahun silam, aku memutuskan menjomblo hingga waktu yang ditentukan… Oleh Allah, jelas! Sampai cinta yang hakiki mempertemukanku dengan si dia yang sebenarnya, gitu kata satu pengajian yang pernah aku ikutin. Jomblo nggak bikin aku merana terus menatap hujan dengan sendu, oh maaf aku sudah pernah melakukannya dua tahun lalu ketika DYNTMKL itu menghilang.

Seminggu sudah cukup membuat aku kehabisan air mata dan kertas untuk menulis puisi yang menyayat hati layaknya pisau. Dan maaf saja, aku nggak akan mengulangi itu atau meneruskan itu. Capek! Dua tahun aku ngapain? Selesaikan kuliah, main-main, kerja di penerbitan, ikut pengajian-pengajian yang ustadznya keren, dan lain lain. Jodoh gimana? Nantilah, belum nemu tuh yang se-visi misi. Kata salah satu ustadz, jodoh itu bakal ketemu dengan cara yang tidak kita duga. Bisa jadi sekantor, pernah satu organisasi, satu kampus, atau bahkan nggak pernah ketemu sama sekali sebelumnya. Tapi yang terakhir aku masih belum bisa percaya, sih. Ih gimana bisa? Belum pernah ketemu sama sekali tapi nikah? Hellooo, Nabi Muhammad aja kenal Khadijah dulu lama sebelum mereka nikah, Bro! Tapi ya entahlah. Mungkin aku memang harus banyak belajar biar bisa jawab pertanyaanku sendiri.

Aku melirik jam di tangan kiri. “Jia, Eri, aku balik dulu, ya! Mau selesein kerjaan biar nggak lembur hari ini. Besok udah puasa, jangan lupa.” Kata ku sambil beres-beres tas. “Yoii, bangunin gue sahur ya, Lir! Misscall ampe gue kesel juga boleh,” balas Jia
“Ogaah, suruh tuh bangunin cowokmu! Masa kalah ama jomblo, sih!” Aku tertawa sambil pergi meninggalkan Jia dan Eri yang mencari barang untuk dilempar ke arahku. Aku melangkah sambil menatap langit yang cerah. Hari ini, hujan tidak turun.

[to be continued]

——–
Ini dia, tulisan pertama saya di proyek #JombloTraveller. Keroyokan sama Miss Radita n Mr Rezha, ini bakal jadi proyek keroyokan  pertama saya. Kyaaaa ><
So excited?? Ikuti terus ceritanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s