[#JombloTraveller] Pulang Taraweh

#3

Bintang malam hanya terlihat beberapa yang bertebaran. Bulan sabit baru muncul sedikit sekali. Aku kembali dari tarawih di Masjid Al Huda, dengan Devi yang berjalan sambil melantunkan ayat suci. Aku sedikit merenungi yang dikatakan penceramah tarawih tadi. Pak Rosyid, ketua RW di daerah kos kami yang saat itu menjadi penceramah. Beliau bukan penceramah kondang yang sering diundang di pengajian-pengajian apalagi televisi. Tetapi buatku, ceramah singkat beliau tadi benar-benar kena.

“Bulan Ramadhan ini hendaknya bisa menjadi bulan dimana kita bisa memaksimalkan ibadah kita. Bersyukurlah, karena ibadah wajib dilipatgandakan pahalanya. Ibadah sunnah pun pahalanya setara dengan ibadah wajib. Maka bulan Ramadhan bukan bulan latihan lagi. Bulan Ramadhan menjadi titik balik kita untuk berubah, lebih banyak beribadah, dan meraih sebaik-baik pahala serta pengampunan dari Allah atas dosa yang kita lakukan selama setahun silam. Akan tetapi banyak dari kita dan umat Nabi Muhammad yang justru lalai, menganggap Ramadhan sebagai bulan yang penuh keramaian dan malah kehilangan esensinya. Banyak yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi, dan lupa bahwa urusan akhirat lebih utama dari itu semua.”

Tetiba Devi menepuk bahuku, “Bengong aja, Ra.” Aku sedikit terlonjak dan nyengir.

“Nggak kok, Dev. Cuma keinget tadi yang Pak Rosyid bilang pas ceramah,” jawabku sambil menerawang ke depan.

“Hmm… Iya ya, ngejleb gitu nggak sih, Ra? Aku kesindir banget loh. Ngerasa belum bikin target apa-apa Ramadhan ini. Fyuh… Masih main-main, belum serius ibadahnya, ngaji belum lancar, pengetahuan agama juga gini-gini aja. Takut aja sih Ra, bisa jadi puasaku cuma dapet laper dan haus doang.”

Aku terdiam saja. Duh, sejujurnya Dev aku lebih parah dari kamu. Pakai hijab saja masih belajar banget, apalagi targetan ibadah Ramadhan.

“Tapi kamu keliatan semangat banget, Dev,” ujarku.

“Semangat itu harus, Ra. Masa iya belajar agama nggak semangat? Masa iya kita ngejar gajian bonus gede aja semangat, ngejar pahala Allah nggak semangat?”

Jleb.

“Ngaji yuk, Ra!”

“Hah?” aku bengong.

Kami sudah sampai di depan pintu gerbang kos. Devi berhenti dan menahanku untuk tidak masuk dulu.

“Iya, Ra. Mau enggak? Kita bikin targetan Ramadhan semampu kita, trus kita rajin deh yuk ikutan kajian di masjid-masjid sekitar sini! Kamu pulang kerja jam 4 sore, kan? Gimana, Ra?”

Aku melihat kilatan semangat di mata Devi. Yayaya, aku juga mau belajar agama Islam lebih dalam. Aku nggak mau gini terus. Aku mau bisa jadi sekolah pertama anakku nanti. Aku mau lebih baik dari sekarang. Aku tersenyum, manis sekali.

“Oke. Aku mau, Dev.”

“Yess!!” Devi mengepalkan tangannya. Aku tertawa.

“Berarti malam ini kita bikin targetan sama list kajian yang kita ikutin, yaa. Besok kita bisa mulai, tuh. Ajak aja temen kantormu kalau mereka mau. Kan lumayan Ra, belajarnya rame-rame.”

Wajah Eri dan Jia langsung muncul di otakku.

“Siaaap, Bos!”

Kami tertawa dan masuk kos dengan bergandengan tangan.

-to be continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s