Memberi Cahaya

426cb-pagi13

Di sebuah lobi disiang hari…

Kamu diam-diam menatapku yang sedang membaca. Menunggu waktu dimana salah satu teman kita akan mempresentasikan hasil penelitiannya. Aku begitu khusyu’ hingga tak menyadarimu.

“Kamu percaya nggak Fi, sebuah buku bisa mengubah hidup seseorang?”

Aku mendongak, mengalihkan mataku dari rangkaian kalimat sastra milik Sapardi Djoko Damono. Menyadari bahwa kalimat tanya itu ditujukan kepadaku, sepenuhnya.

“Ya, aku percaya,” jawabku sambil tersenyum.

“Orang itu adalah aku,” lanjutmu.

“Ceritakan,” pintaku sembari menutup Hujan Bulan Juni di tanganku. Continue reading

Senja Sarjana

“Terimakasih,” katamu sambil tersenyum haru.

“Untuk apa?” tanyaku datar.

“Untuk semuanya. Terimakasih sudah menemaniku dari awal hingga detik terakhir,”

Aku tak tahu, apakah aku harus langsung memelukmu, atau menjabat tanganmu, atau tertawa. Sepersekian detik kemudian aku hanya mengulas senyum tipis.

“Sama-sama,”

Sebegitu berartinyakah?

Setahuku, yang kulakukan hanya diam. Diam mendengarmu bercerita. Diam mencerna penjelasan teorimu yang luar biasa tak aku pahami juga. Diam menatapmu berlatih presentasi. Diam menemanimu di sudut kafe, melihatmu belajar demi detik ini. Dan sesekali tertawa dengan ekspresimu ketika meminum es coklat yang sangat kental coklatnya itu.

Sebegitu berartinyakah?

Rupanya akulah yang semestinya menghaturkan terimakasih padamu. Terimakasih menganggapku sedemikian berarti.

Senja ini, selamat sarjana, Sobat 🙂

*pict from bravopowderdrink.com