Senja Sarjana

“Terimakasih,” katamu sambil tersenyum haru.

“Untuk apa?” tanyaku datar.

“Untuk semuanya. Terimakasih sudah menemaniku dari awal hingga detik terakhir,”

Aku tak tahu, apakah aku harus langsung memelukmu, atau menjabat tanganmu, atau tertawa. Sepersekian detik kemudian aku hanya mengulas senyum tipis.

“Sama-sama,”

Sebegitu berartinyakah?

Setahuku, yang kulakukan hanya diam. Diam mendengarmu bercerita. Diam mencerna penjelasan teorimu yang luar biasa tak aku pahami juga. Diam menatapmu berlatih presentasi. Diam menemanimu di sudut kafe, melihatmu belajar demi detik ini. Dan sesekali tertawa dengan ekspresimu ketika meminum es coklat yang sangat kental coklatnya itu.

Sebegitu berartinyakah?

Rupanya akulah yang semestinya menghaturkan terimakasih padamu. Terimakasih menganggapku sedemikian berarti.

Senja ini, selamat sarjana, Sobat 🙂

*pict from bravopowderdrink.com