[FlashFiction] A S A P

“Ayah, apakah kita harus memakai masker setiap hari?”

“Sabar, Sayang… Sebentar lagi pemerintah akan meredakan asap ini,”

“Aku ingin sekolah, Yah…”

Ayah memeluk Putri erat. Batinnya berharap agar kabut asap cepat berlalu. Sudah 4 pekan anaknya tidak bisa sekolah.

==::==

“Ini heran deh, asepnya nggak kelar-kelar kaya taun lalu! Pemerintah tuh ngapain aja, men!”

Raza memasang masker khusus yang ia beli di Singapura. Neli hanya menatapnya datar.

“Kalo yang punya perusahaan ditangkep, bokap lu masuk penjara.”

Raza terdiam.

==::==

“Sudah berapa titik yang padam?!”

“Tiga ratus tujuh puluh dua, Komandan!”

“Masih ada berapa lagi?!”

“Empat ratus lima belas lagi, Komandan!”

Tardji memijit pelipisnya. Benar-benar gawat. Kabut asap semakin menebal. Puluhan warga yang ia temui sudah menderita ISPA. Kelakuan para pengusaha ini keterlaluan!

“Baik, kita lakukan ini! Dua ratus pasukan bersama pemadam kebakaran! Padamkan semua titik api! Seratus pasukan bagikan masker dengan relawan! Seratus lima puluh pasukan evakuasi warga di sekitar lokasi kebakaran! Laksanakan!”

“Siap, laksanakan!”

==::==

Airin memandang keluar rumah, asap masih tebal. Ia menekuri buku diktatnya kembali. Tak lama kemudian ayahnya datang membawa secangkir kopi.

“Pa, kenapa harus bakar perkebunan? Tak ada cara lain untuk membuka lahan baru? Asap sebegini tebal, Pa. Kasihan masyarakat.”

“Diam dan belajarlah yang rajin, Kak. Besok kamu temukanlah alat untuk menghalau asap. Biar ayah tak pusing memikirkan desakan masyarakat.”

==::==

“Kamu dan teman-temanmu, suarakanlah rasa sakit rakyat. Jangan berhenti berteriak sampai pemerintah bertanggungjawab atas bencana asap ini. Aku tak bisa lantang sepertimu. Ingatkan pemimpin kita. Salurkan juga masker dan oksigen yang sudah kami kumpulkan.”

Hendro mengangguk.

“Aku disini, dan teman-teman lab ku. Kami sedang mencari cara agar asap bisa dihilangkan. Setidaknya kami juga mencoba membantu. Kita harus berbagi peran. Bukan saling meniadakan.”

HEADLINE NEWS:

Mahasiswa Universitas X Mampu Mengubah Asap Menjadi Udara Segar

Ribuan Mahasiswa Berkumpul di Istana Negara Mendesak Presiden Menghukum Pembakar Lahan

==::==

Koridor IGD lengang. Hanya ada isak tangis Ratmi yang memenuhi lorong. Ari duduk terpekur, penuh do’a. Sejurus kemudian, sekelompok dokter keluar ruangan. Ratmi menyongsong,

“Anak Ibu tidak bisa diselamatkan, paru-parunya penuh dengan asap.”

Ratmi meraung. Ari memeluk istrinya kencang.

“MATILAH KAMU YANG MEMBUNUH ANAKKU!”

==::==

“Bagaimana hasil pertemuan kalian dengan para Kades?” Wija mengisap rokok mahalnya.

“Beres, Pak. Besok sebelum matahari terbit, lahan di lokasi yang akan kita buka akan habis terbakar. Lahan yang kemarin sudah selesai, Pak.”

“Bagus, jangan sampai masyarakat tahu!”

“Siap, Pak!”

Tiba-tiba Wija mengerang memegangi jantungnya. Anak buahnya kelabakan. Sejurus kemudian dia anfal.

TAMAT

3 thoughts on “[FlashFiction] A S A P

Leave a Reply to Story of Repentance Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s