Kahve [review]

 

KAHVE-crop

“Kamu sudah tahu, tapi menolak untuk tahu. Beberapa kamu memang tidak tahu, tapi kamu memutuskan untuk tidak mencari tahu.” 

Sudah lama saya tidak merasakan baca buku-tengah malam-delusi-tidak bisa tidur, seperti yang baru-baru ini saya alami. Kahve, sebuah novel milik Yuu Sasih yang saya pinjam dari Wardah, berhasil membuat saya delusi sepanjang malam dan baru bisa tidur nyenyak nyaris jam 3 pagi! Genre thriller yang biasanya saya jauhi ketika baca buku dan nonton film jadi saya abaikan begitu baca judulnya -KAHVE-.

“Kahve … Turkish coffee. Yang dibuat dengan metode khas Turki, spesialisasi kedai ini.”

Ditulis dengan POV orang ketiga, novel ini bermula ketika Kencana, mencari pencarian atas penyebab kematian sang kakak. Ia menemukan gambar Shamrock hasil “pembacaan” ampas kopi di buku harian Kakaknya yang kemudian membawa Kencana menuju kedai kopi yang dimaksud. Di sanalah ia bertemu Farran Sang Tasseografer, lalu kemudian di tengah perjalanannya bertemu dengan Rasy dan Linda. Sangat suka dengan alur bolak balik dan tumpukan teka teki yang disusun Yuu Sasih. Begitu pula dengan konflik yang dialami oleh Kencana -ia tidak suka dipanggil Nana- karena pribadinya yang tertutup dan menolak untuk mengingat segala hal yang tidak ingin dia ingat. Padahal dengan dia mengingat itulah misteri sebenarnya akan terpecahkan. Oh ya, dia berkali-kali pingsan jika tidak mau mengingat sesuatu yang sesungguhnya terjadi. Hmm saya sih masih penasaran dengan kabar Farran, terlebih ketika saya gugling arti dari Pohon Yew yang ada di pembacaan kopi Farran terakhir.

“Carpe diem. Teruslah berusaha, walau kepalamu yang keras bilang kalau hal itu mustahil.”

Aroma kopi begitu kental mewarnai alur cerita novel ini. Pekat, misterius, gelap, abstrak. Itulah yang saya rasakan ketika membuka halaman pertama, yang terus berlanjut hingga bab terakhir. Begitu pula dengan konsep tasseografi (oke, saya juga baru tau istilah ini) yang berupa cara pembacaan nasib lewat media ampas kopi. Penulis dengan apik memainkan plot, alur, karakter, dan twist dari setiap bab nya. Mungkin karena backgroundnya Psikolog, Penulis jadi bisa memainkan karakter yang mendalam dari setiap tokoh. Novel ini juga mengangkat isu gender yang memang menjadi tema penting di sini.

Novel ini cocok sekali anda nikmati sembari menyeruput kopi hitam 😉 Saya beri 4 dari 5 bintang untuk Kahve. Selamat membaca! [izzaty]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s