Bubar First Generation

image

Alhamdulillah stelah taun kemarin gak kumpul2, taun ini ketemu lagi atas prakarsa dan paksaan afkarul.
Walopun cuma bentar, naik kereta ke solo jam 2 dan balik jogja jam 8 tapi lumayan mengobati kerinduan sama generasi pertama smait NH ini 😘
See you on top, guys! :):)

image

Fokus sama...

Menulis Non Fiksi

image

Jangan berharap banyak! Tertawaku ditengah pesan-pesan whatsapp yang bertumpuk. Aku meringis, sedikit nyeri sebenarnya, tetapi begitulah kadang nasib tak seperti yang kita inginkan.

Hari ini pengumuman sebuah perlombaan essay. Aku memutuskan mendaftarkan diri beberapa hari yang lalu. Bergegas mencari sumber dan data, lalu membahasnya menjadi sebuah essay yang kupikir agak menarik. Dan ternyata aku kalah dari peserta-peserta lain.

Sejujurnya apa yang aku lakukan murni gambling. Sekian tahun aku berkutat dengan naskah fiksi. Menulis cerpen, flash fiction, fanfiksi, prosa, dan lain sebagainya. Menulis non fiksi? Hmm, sepertinya hanya keperluan seperti resensi atau berita singkat. Selain itu bisa dikatakan aku nihil.

Makanya kenapa aku memang belum bisa berharap banyak dengan naskah non fiksi-ku. Terlalu singkat untuk sebuah pembelajaran. Menulis, itu sebuah proses yang sangat panjang. Bahkan untuk cerpen dua halaman sekalipun. Apalagi naskah non fiksi. Aku sendiri belajar, dari sebuah kegagalan yang tidak jarang menimpa, justru sebuah momen yang menjadi evaluasi.

Kegagalan akan membawamu pada introspeksi. Dalam menulis juga seperti itu. Kamu akan tahu betapa kurangnya karya kamu dibanding pemenang. Kamu akan tahu dimana kelemahannya. Dan itu akan memacumu untuk berkarya yang lebih baik lagi.

Penulis profesional adalah amatir yang tidak pernah berhenti menulis.

Tepi Waduk Gajah Mungkur, 19 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day5

Tertawa

Bahwa kekecewaan yang menggumpal, awalnya memang menyakitkan hati. Begitupun, tanpa adanya kejelasan, membuat kita semakin jeri. Tetapi baru selanjutnya aku menyadari, tawa bebas yang kamu sampaikan bisa langsung mengurai kesedihan. Binar matamu yang lugas, bisa langsung menenangkan.

Selanjutnya aku tahu, bahwa percuma saja menyimpan kecewa. Karena manusia tempatnya lupa. Karena manusia memang begitu cepat bolak balik hatinya.

Aku sendiri bahagia, setidaknya aku bisa menghabiskan waktu bersama. Walau sebentar, tetap saja meresap rasanya. Walau tidak lama, aku tetap bisa tertawa.

Tertawalah, karena dengan itu kamu buat hariku mendadak bahagia.

Jogja, 17 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day3

Tidak Selamanya

image

“Maybe you will leave me someday, but our memories don’t.” (Izzaty, 2016)

Selarik kalimat yang aku tulis di akun twitter dan juga facebook-ku tetiba menjadi viral. Agaknya, kalimat itu menyinggung perasaan sebagian besar teman-temanku. Baper, kata mereka.

Tetapi aku sendiri baru menemukan kalimat itu -tentu saja hasil kontemplasiku- semalam. Aku mengingat beberapa perjalanan “persahabatan” yang aku lalui sendiri. Beberapa masih sejati, lebih banyak lagi yang kandas menepi. Dan mulailah aku menyalahkan diri sendiri.

Aku kah yang membuat mereka sakit hati? Ucapanku yang kasar kah? Perilakuku yang tak sopan kah? Tulisanku yang sarkas kah?

Well, kuberitahu saja. Tidak akan ada yang abadi. Entah bagaimanapun kamu menjaganya mati-matian. Persahabatan, cinta, usia.

“Hati bertemu hati tidak lagi sejati,” kata Farid  FSTVLST.

Lebih lagi ketika kamu mulai berusia, maksudku usiamu bertambah, tentu saja. Lingkaran pertemanan, pergaulan, jejaring anggota, akan berubah seiring usia, waktu, serta minatmu. Jadi ayolah, tidak perlu mendramatisir sebuah perpisahan.

Sudah kukatakan lagi, kamu mungkin akan meninggalkanku suatu hari, tapi memori kita tidak. Maha Besar Allah yang memberi kita memori. Sehingga aku bisa mengingat memori tentang kamu. Seberapapun menyenangkan, seberapapun menyedihkan.

Pun jika memori yang kuingat adalah ketika aku menyakiti hati kamu, lalu aku bisa apa?

Jogja, 16 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day2

Palung #6

image

Akulah sunyi
yang menjelma sebait puisi
Menari bersama purnama sebuah elegi
nyata, tergores setiap lariknya
Akulah sunyi
yang bergerak bersama rembulan
Terkadang terang
lebih sering tenggelam
Dalam kedua matamu

Jogja, 15 Juni 2016

*tulisan ini dibuat untuk #TantanganHujanKarya1437H
#Day1

Palung #5

image

Bahwa sungguh, angin lebih mengerti tentang apa-apa yang tidak terkata. Menghembus perlahan, menusuk ruang dan waktu. Melebur bersama jarak, melintasi perasaan yang berarak. Maka ceritakan padaku, mana yang menjelma gigilku pada kamu.

  Jogja, 8 Ramadan 1437 H

Ditakdirkan Berbeda

Selamat jelang malam!

Alhamdulillah, hari ini tepat sudah 7 hari Ramadan berjalan. Setiap tahun, pasti ada sesuatu yang berbeda. Ya nggak mungkin lah, kalau Ramadan  kita berjalan gitu-gitu aja. Masa sejak awal masuk kuliah jadi Pasukan Pemburu Takjil (PPT) mulu? Peningkatan dong sekarang jadi Pasukan Pemberi Takjil, hahaha 😀 *piss

Dan memang, persoalan berbeda ini terjadi pula denganku. Cukup berbeda dari Ramadan sebelumnya, aku memang harus berpuas diri nggak ikut kajian sore di masjid-masjid sembari nunggu buka puasa gratis. Karena di tahun ini, Alhamdulillah kedai juga buka jelang masuk waktu buka puasa. Jadi ketimbang aku pulang malam-malam aku pilih jaga sore. Ya akhirnya itu harus dibayar dengan nggak ikut kajian sore.  Continue reading

Sudah Juni

[no pic]

Well, lagi lagi aku harus nulis maaf di blog ini. Bener bener sebulan aku off dari nulis! Sigh. Menyebalkan. Aku sendiri sebal lihat blog terbengkalai. Tapi gimana? Ngatur waktu emang susah ya. Duh duh… ((eugh ini grup kopi ramai sekali, ngga bisa konsen nulis kan jadinya))

Sedikit menyesal juga. Kenapa kalau pas lagi shift di kedai nggak nulis? Ya karena nggak akan konsen sih. Gimanapun aku kalau nulis butuh waktu dan kesendirian *tsahh. Lha kalo di kedai? Yang ada berantem mulu sama yang lain. Kalo engga gara-gara rame pesenan, atau ntah cekcok apalah. Jadi mustahil konsen di depan laptop hahaha.

Baiklah, Juni sudah datang. Dan semua orang bilang Hujan Bulan Juni tak hanya ada di puisi Sapardi. Apalagi? Skripsiku juga belum kelar, padahal ditarget sama dosen….. ah gitulah pokoknya. Iya bakal aku kerjain, kok. Jadi fokus Ramadhan taun ini juga kelarin skripsi. Ahey! Bismillah… Pokoknya kalau ke kedai siap siap ngerjain skripsi juga. Apalagi kalo ada wifi pasti asik yah. *ditampol bos*

Lalu?

Ramadhan nanti bakal fokus skripsi. It’s a must. Tapi aku tetep akan usahakan blogging. Pulang ke rumah keduaku. Iya aku tau nggak ada yang bakal nanyain juga “Kok lama gak posting, Fi?” Elah ngarep banget sih ada yang nanya begitu.

But, I’ve said that : menulis itu menenangkan. Bagaimana bisa, kamu memuntahkan ide yang liar tumbuh di otak? Jelas, menuliskannya, kan?

Sekarang, aku beritahu satu hal. Menulis itu terkadang menyebalkan. Lho? Kok bisa? Tunggu saja. Postinganku selanjutnya.

==========================================

ps : Ost membikin tulisan ini adalah The Script – Nothing