Beberapa Pekan Ini

Begitu banyak yang sudah saya lewati beberapa pekan terakhir ini. Sayang sekali, saya melewati itu semua tanpa menuliskannya. Menyedihkan, bukan? 

Saya menghadiri pernikahan seorang sahabat sekolah, sangat mengharukan dengan lantunan ArRahman mempelai pria memenuhi langit cerah pagi Ahad lalu. Saya mendengarkan cerita-cerita perihal perasaan, passion, masa depan, dan juga kebimbangan. Baiklah, usia 20an memang pekat dengan kegalauan arah hidup serta tujuannya. Saya mengikuti kelas menyeduh kopi yang baik dan sharing bersama para petani kopi bersama teman teman ngopi saya. Saya melakoni peran saya sebagai mahasiswa tingkat akhir, dengan segenggam kertas berjudul SKRIPSI, saya belum tahu kapan ini berakhir. Secepatnya, saya tahu. Saya mengerjakan beberapa tulisan fiksi untuk dilombakan, dan beberapa project bersama di sebuah platform kepenulisan. 

Yang terakhir itu, saya kira saya memang ketinggalan untuk belajar “menulis karya tulis yang baik”. Beberapa kali draft saya dikembalikan dengan catatan yang tidak sedikit. Dosen pembimbing saya selalu menekankan bahwa penulisan kalimat saya serampangan, kurang elaboratif. Saya tertegun, ternyata kebiasaan menulis fiksi saya tidak begitu membantu? Yah, ketika menulis fiksi, satu dua kata itu sudah bisa menjadi kalimat. It’s a big difference. Saya tidak menyesali apapun, saya memang harus belajar menulis lagi. Menulis serius. Ah, kalimat barusan pasti kurang panjang karena cuma dua kata?

Masih dari Jogja, dimana semua ini bermula. Akhir bulan kemerdekaan.