Quatervois Clavis [D18]

Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas. Kotaku memang unik. Di sini, kami menggunakan benar-benar 24 jam dalam satu lingkaran jam. Kalau kalian hanya memiliki 12 angka, kami memiliki 24 angka. Aku melangkah sedikit cepat menyusuri tepian Sungai Bengawan, menuju Taman Kota. Ada yang menungguku di sana, semoga aku tidak terlambat.

“Kamu terlambat 2 menit.” Suara itu menghentikan langkahku. Aku melihat ke depan dan menemukan seraut wajah jengkel yang dihiasi rambut coklat kemerahan. Outer hitam dengan dress biru dongker selutut dan sepatu kets putih melengkapi penampilannya.

“Maaf, Kyna. Kamu tahu aku sibuk belakangan ini.” Aku menghempaskan tubuh ke bangku hijau di belakang Kyna.

“Bukan alasan untuk kemudian benar-benar tidak pulang ke rumah, Darren.” Kyna mendelik dan duduk di depanku. Aku tersenyum sinis.

“Aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah. As a man, Kyn. Aku tidak akan menarik kata-kataku.”

“Beda pandangan politik tidak harus menghancurkan keluarga kita sendiri, Darren! Mengalahlah sedikit pada Papa, ingat dari kecil siapa yang menghidupi kita. Kamu bahkan menyusu dengan uang yang Papa dapatkan dari permainan politiknya!” Kyna menatapku tajam.

“Memangnya aku bisa diam saja ketika aku tahu siapa teman-teman Papa di balik pemerintahannyaa? Tidak, Kyn. Aku bisa dianggap berkhianat kepada bangsa ini.”

“Kamu mau jadi pahlawan?”

Aku tergelak. Kyna menyedekapkan tangan di depan dada. Rambut sebahunya beriak ketika angin melewati kami berdua. Kyna bukan lagi gadis kecil yang bisa aku bungkam dengan sebatang cokelat ketika dulu aku kabur dari rumah. Pergi dari rumah adalah keahlianku, walaupun aku akan menyerah dan kembali. Tetapi tidak kali ini, aku benar-benar pergi setelah Papa menuduhku melakukan kecurangan politik untuk menjegal langkahnya menjadi Kepala Dewan Kota. Kami bertengkar hebat selama 2 jam dan baru berakhir ketika aku memutuskan pergi dari rumah.

“Hei, Darren. Katakan padaku, dimana rasa terimakasihmu pada Papa sampai kamu bisa sebesar ini dan hidup enak seperti ini. Tiba-tiba kamu menyerang Papa dan mengatakan hal-hal buruk selama Papa menjadi negarawan. Kamu kira kamu ini siapa?”

Cengiranku bertambah lebar,”Negarawan katamu? Oh ayolah, Kyna. Siapa yang menyuruh aku sekolah di Ilmu Politik dan Pemerintahan, coba? Papa. Kenapa? Ya karena Papa mau mewariskan jabatan politiknya untukku nanti. Bagaimana mungkin? Nothing impossible, Kyn. Orang-orang di belakang Papa itu, aku tau semua track record-nya. Itulah kenapa aku menolak satu gerbong dengan Papa. Aku tidak bermaksud menjegal Papa, tapi Papa menganggap seperti itu. Aku mundur, Kyn.” Aku mengambil sekaleng minuman ringan dari dalam tas ransel dan meneguknya.

“Kamu sok tau, Darren.” Kyna beranjak sembari mengatakan itu.

“Mau kemana?”

“Ikut aku, aku tunjukkan sesuatu.” Kyna lebih dulu berbalik, berjalan menuju matahari terbenam.

“Hei.” Setengah berlari aku mengikuti Kyna yang berjalan lebar. Sejak lari adalah jiwanya, Kyna tidak pernah membuang waktu dengan melangkah pelan.

Kami berjalan dalam diam, menyusuri beberapa bangunan kota. Melewati Bank Sentral, menuju Stadion Kota, kemudian berbelok di salah satu gang.

“Kyna, mau kemana ini sebenarnya?” Aku menyenggol Kyna pelan.

“Aku tidak tahu apakah ini akan mengubah pandanganmu atau tidak, yang jelas aku menemukan ini sepekan lalu, tiga hari setelah kamu pergi.”

“Soal Papa?” Kyna hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas.

Kami sampai di depan sebuah gedung 2 lantai. Jaraknya sedikit lebih jauh daripada bangunan di sekitarnya. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat bahwa bangunan itu terawat dan memiliki aktivitas di dalamnya.

Aku menoleh mendapati plang besar di sisi kanan bangunan berwarna coklat putih ini. Tulisan dengan font Arial memadati plang itu.

“Sekolah Harapan. Apa ini, Kyn?” Kyna tersenyum, melangkah masuk lobby gedung dan bersiap memberikan penjelasan kepadaku.

“Darren Clavis, tiga menit lagi kamu maju ke podium. Now it’s your turn, jangan sia-siakan itu.” Suara Andrea menarikku dari kepingan fragmen sepuluh tahun lalu. Aku tergeragap dan melempar senyum padanya. Jarum jam di dinding menunjuk angka 18.

Aku bangkit dari sofa menuju cermin, seraut wajah yang sangat mirip Papa hadir di sana. Penjelasan Kyna waktu itu membuatku berpikir banyak dan kembali ke rumah untuk menemui Papa. Papa ternyata membangun sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu. Tidak hanya itu, Papa memberikan modal kepada orang-orang yang selama ini termarginalkan bahkan dari hidupku. Aku pernah bilang kalau Papa bersama komplotannya melakukan banyak kecurangan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan membuat kebijakan-kebijakan pro-kontra ketika menjadi Ketua Dewan Kota. Yang kudapatkan justru sebaliknya.

“Papa tau, Papa salah karena bergabung dengan mereka. Papa hanya tidak ingin membiarkan mereka berkuasa tanpa bisa berbuat apa-apa. Melawan mereka, tidak semudah yang kamu bayangkan. Itulah kenapa Papa bergabung dengan mereka untuk membangun semua hal yang kamu sebutkan tadi. Membersihkan rumah tidak bisa hanya dengan melihat dari luar dan menyumpahinya, Clavis. Kita harus masuk, membawa amunisi kebersihan dan bergerak. Papa tau semua itu penuh dengan resiko, itulah kenapa Papa butuh kamu nantinya untuk bersama Papa. Pun ketika kamu sekarang memang berseberangan dengan Papa, tidak ada masalah bagi Papa. Kamu hanya harus berjanji, berkuasalah dan jangan seperti mereka.”

Kata-kata Papa malam itu setelah seharian bersama Kyna, kembali terlintas. Aku merapikan setelan jasku. Malam ini giliranku, Pa. Aku menjadi Wali Kota.

–end–


  • tema hari ini: lanjutin kalimat pertama di novel George Orwell. Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas.
  • gezz, sebenarnya aku lagi nyelesein cerpen lain. Tapi lupa ada tema ini buat challenge hari ini. Yasudah ini aku buat nyaris  tanpa semedi, hiks.
  • Mohon komentarnyaaa, kritiknyaaa, sarannyaaa. Aku tau ini bukan “my best” tapi ide ini pernah menjadi ide dasar draft awal salah satu novelku yang nggak jadi-jadi karena cuma mentok  di outline doang dan tentunya dengan masalah yang lebih kompleks  dari sekedar ini. Ulala~
  • Quatervois : titik balik seseorang dalam pemikiran ataupun tindakannya

14 thoughts on “Quatervois Clavis [D18]

  1. Wawa says:

    Aku ngerasa udah pas sih komposisinya Za.. dari segi alur juga jelas… cuma mungkin emosi di awal itu yang kurang kelihatan.. tapi kalo cerita ini sendiri, udah pas..

  2. nabilamiski says:

    Aku akhirnya bacaa 😁 hore.
    Tema konfliknya menarik, eh tapi untuk tulisan pendek kayaknya tokohnya cukup banyak yaa pii.
    Aku jujur belum bisa bedain siapa itu kyna, andreas, clavis. Yang aku kenal cuma papa wkwk. Mungkin karena awalnya konflik novel yaa 😀

  3. nabilamiski says:

    Sama aku bingung ini latarnya dimana. Di awal ada deskripsi soal jam yg berbeda dari biasanya, habis itu ada tepian sungai bengawan. Habis itu namanya dan gaya bahasanya rada barat gitu 😅
    Tapi isi ceritanya bagus kook bu penulis.😁

Leave a Reply to Wawa Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s