2016 Dalam Aksara [D31]

Dua ribu enam belas .. tahun yang begitu membekas. Ketika mengawalinya aku tidak begitu banyak ekspektasi, tetapi akhirnya diujung tahun ini aku merasa semuanya pas. Aku tahu di 2015 semua serba abu-abu, begitu mengakhiri 2016 aku melihat banyak yang menjadi jelas. 

Awal tahun aku masih berkutat dengan mata kuliah usang yang tidak  kunjung aku selesaikan. Teman-teman sudah banyak yang berkarya selepas kuliah, aku bahkan masih rebutan kelas dengan adik tingkat semester pertama. Namun ada peluang lain yang tidak disangka, membangun sebuah usaha wedang kopi yang aku gandrungi. 

Maka sampai tengah tahun aku berjibaku, bertemu orang-orang baru, menambah ilmu, menyentuh hati-hati yang baru. 

Sampai Agustus datang, aku tersadar aku harus menyelesaikan kuliah. Entah bagaimana caranya. Aku sejujurnya sudah malu pada diriku sendiri. I just wanna finish what I started. Banyak hal kulakukan; skripsian, bolak balik BPN, setiap malam nongkrong di kedai, pulang-pulang begadang, segala jenis rapat dan agenda.

Ada hati-hati yang harus dimengerti, ada ego-ego yang harus dipangkas rapi, ada raga-raga yang menuntut sepi, ada harapan yang tidak bisa harus terpenuhi, ada cinta yang harus dijaga rapi…

Akhirnya aku lulus di November. Aku bahkan tidak bisa menangis, aku hanya diam. Begini rasanya. Begini akhirnya, perjuangan selama bertahun-tahun yang memerangkapku dalam ruangan berisi seribu wisudawan. Aku banyak diam. Bukan menertawai joke “wisuda adalah perubahan status dari mahasiswa menjadi pengangguran”, karena di hari setelah wisuda, aku harus masuk kerja. Tanpa liburan, tanpa syukuran, tanpa euforia kelulusan.

Aku langsung menghadapi dunia pasca kampus penuh tantangan. Pergi pagi, pulang malam, punggung pegal, mata lelah, tapi entah kenapa aku merasa bahagia saja.

Hingga Desember hampir berakhir. Aku masih seperti ini. Menyemangati jiwa-jiwa di ujung salah satu mimpi mereka, menjaga kesehatan diri dan pikiran, menyejuki diri sendiri, menjaga tawa dan membebat luka yang terlanjur menganga. 

Meski terkadang aku memilih menepi, bersama pena dan kertas bergaris, memerangkap mimpi, bercerita cinta, mengeluhkan kesah, tanpa berharap pada apa apa. 

Hanya aku, kertas, dan pena.

Seperti saat ini.
Hari terakhir 2016 

Sebuah Alasan [D30]

Sebenarnya mau aku panjang-panjangkan judul postingan ini seperti; Sebuah Alasan Kenapa Ngeblog Dan Alhamdulillah Desember Mau Kelar Juga. 

Apaan, sih😅

Halo. Namaku luthfi izzaty. Sesuai dengan alamat blog ini. Dulu aku sempat pakai alamat lutphantomhive, tapi gegara banyak yang protes (siapa, deh?) karena susah spelling-nya, jadi aku ganti pakai nama asliku. Ternyata spelling nya tetep susah. (Yha!) 😅😅

Headerku, bertuliskan Izzatyzone. Alay? Emang. Itu bahasa gawul sejak SMA sih. Zona-nya Izzaty gitu maksudnya. Aku tuan rumah blog ini, jadi jangan macem-macem, yak. 😛😛

Time to refresh my mind : udah jelas kan. Aku terlalu gila sama dunia ini dan aku pengen refreshing. Blog memberiku ruang untuk penyegaran. Menulis memberiku kekuatan untuk bertahan di dunia yang penuh kegilaan ini.

Aku mulai ngeblog sejak SMA.kalaulah friendster digolongkan sebagai blog, berarti sejak SMP 😂 *maksa

Pelajaran di sekolahku yang rada unik, mengharuskan setiap murid punya blog. Bahkan sampai ada tutorialnya di satu jam pelajaran. Waktu itu aku pakai Blogspot yang tingkat kerumitan HTML nya lumayan menyesakkan dada anak SMA. Mana aku tau ada wordpress? Hahaha.

Sejak saat itu aku ngeblog, karena seperti menemukan rumah keduaku. Aku bebas berekspresi apa saja. Ketika teman2 ribut dengan Facebook-nya, aku tidak peduli dan memilih dunia blogging untuk menulis semuanya. Nulis apa saja yang pengen aku tulis. Quote, prosa, puisi, fiksi, rangkuman pelajaran, curcolan, kode-kodean, dll. Sempat vakum saat dekat UAN sebenernya.

Ketika kuliah, aku mengaktifkan lagi blog yang penuh laba-laba dan eek tokek. Karena terlalu alay dan mengenaskan, aku hide juga itu blog. HAHAHAHA. Akhirnya aku pindah rumah ke wordpress dengan segala kemudahan dan ke-simpel-an nya. I found a new home. 

It’s been 8 years. Menurut catatanku begitu. Tidak ada yang menuntutku, tidak ada yang menyuruhku, tidak ada yang memotivasiku. I just fall in love with blogging, dear. ❤

Semoga kamu tahu, semoga kamu mengerti. Iya, kamu.