Menggenggam Kunang-kunang

Kunang-kunang enggan terbang. Mungkin dia pikir, percuma mengalahkan lampu yang lebih dulu gemerlap tanpa aba-aba. Kunang-kunang enggan berperang. Dengan cahaya yang tak seberapa, dia tahu akan kalah begitu saja. Tak dianggap, sekilas lalu, lalu hilang.

Ada yang termangu di tepi saung. Menanti merah senja perlahan menghitam. Ada gelombang sesak yang menunggu  waktu untuk menghantam sudut mata.

Dia ingin kunang-kunang. Dia lelah dengan gerlap cahaya lampu. Dia merindukan kesederhanaan.

Kunang-kunang beranjak terbang. Masih enggan. Namun dia harus. Sekalipun nyala lampu begitu mengganggu.

Langkah kaki menjauhi saung. Pelan, penuh dengan pikiran yang bingung. Dia melihat kunang-kunang. Lemah terbangnya, muram cahayanya. Kunang-kunang berhenti. Lalu menatapi dua bola mata kelam. Rautnya penuh ragu dan luka. Dia yang mendamba sederhana. Dia yang menginginkan kunang-kunang saja yang bercahaya. Lalu dia, dengan tangan kanan menggapai kunang-kunang. Hap!

Kunang-kunang terdiam, dia tergenggam. Ada yang mengharapkannya datang. Hatinya temaram.