Bagaimana Perasaanku tentang Filosofi Kopi 2?

Gambar terkait

cr : womantalk.com

Disclaimer : Ini bukan review, cuma curhatan penonton dan penikmat karya.

Sekalipun Gala Premiere Filosofi Kopi 2 (Filkop 2) diadakan di Jogja juga, aku nggak bisa nonton waktu gala. Entah kenapa, gala, pernah jadi pengalaman yang buruk buatku. Bukan buruk juga sih, tapi rasanya aku nggak mau mengulagi lagi ikutan gala premiere (walaupun gratis), hehe.

Aku nonton Filkop 2 di hari pertama penayangan, 13 Juni 2017. Ok, sorry nggak ada bukti foto potongan tiket karena tiketnya dibuang temen nontonku dengan polosnya. Astaga, nggak bisa dikoleksi -_-

Kurasa, segala ekspresi ada di mukaku selama nonton film ini. Untung gelap, jadi ga pada liat aku mewek-mewek di beberapa adegan. HA-HA. Mulai dari senyum-senyum, ketawa ngakak, air mata merembes, sampe teriak histeris (ga keluar suara, cuma mangap-mangap dengan mata berbinar) waktu Bang Farid Stevy (FSTVLST) nongol. Sekali lagi, enggak keliatan karena gelap. Untunglah…

Memang, alur cerita di Filkop 2 ini makin kompleks. Twist-twist nya pun, keren. Masih tentang masa lalu, persahabatan Ben-Jody, ditambah bumbu cinta yang lebih kuat dari Filkop 1. Ben ini galak-galak kalo lagi jatuh cintrong udah macam ada pawangnya. Wkwkwk. Diturutinlah segala apa kata si doi. Aku KZL tapi ya begitulah manusia, kan? Haha.

Suka sama konflik batin yang dialami Ben. Bukan, bukan aku suka Ben punya masalah! Tapi, ekspresinya Chicco ajaib banget! Bener-bener hancur, marah, gelisah, keliatan dia punya konflik batin yang hebat.

Brie ini ngeselin, tapi manis. OK. Aku jadi Ben kayanya juga KZL ga karu-karuan. Kata-kata PRESISI-nya itu bikin jungkir balik. Yaaaa, aku memang ga pandai-pandai nyeduh juga. Tapi kurasa Ben bener. Nyeduh kopi bukan urusan matematik, nyeduh kopi itu lebih kayak meditasi.

Beberapa kali ngobrol sama brewer di kafe-kafe, mayoritas dari mereka nggak patok matematis kayak Brie. Kenapa? Bagi yang udah paham, karena tiap kopi itu beda. Beda cara nyeduh, beda rasa. Beda varietas, bahkan punya cara sendiri-sendiri kapan kenikmatannya keluar.

Uwopoooo malah bahas proses seduh XD

Balik lagi ke film~ Aku sejujurnya kurang sreg sama penyelesaian akhirnya. Gimana, ya? Semacam kecepetan, gitu. “Ha? Udah gini?” -gitulah tanyaku dalam hati. Penyelesaian konfliknya memang melegakan. Ulala banget~ Bikin pengen.

Satu yang aku sukaaaaa banget dari film ini adalah soundtracks-nya! Di awal udah ditampar sama Zona Nyaman-nya Fourtwnty. Bahkan sampai sekarang kalo jelang renungan malam sebelum tidur, aku sering keinget lirik-liriknya.

Bekerja bersama hati, kita ini insan bukan seekor sapi…

Lagu-lagu sewaktu tour Toraja juga cocok banget! Lah apa itu judulnya aku juga lupa. Lagu pas Ben-Brie (ini dua orang gimana kalo namanya digabung jadi Brien aja sih HAHA) juga cocok, Aku Tenang-nya Fourtwnty. Pas lagunya Banda Neira muncul, udah makin nggak kuat lagi. Jadi pengen meluk guling…

Ohya, kali aja ada yang penasaran apa judul lagu-lagu di Ost Filosofi Kopi 2 ini :

  1. Sahabat Sejati – Ben&Jody
  2. Zona Nyaman – Fourtwnty
  3. Aku Tenang – Fourtwnty
  4. Coffee – Leanna Rachel
  5. In The Beginning – Leanna Rachel
  6. Hari Terakhir Peradaban – FSTVLST
  7. Alone In The Dark – Will Cookson
  8. Open Road – Gede Robi
  9. Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti – Banda Neira
  10. Filosofi dan Logika – Glenn Fredly
  11. Derai Terindah – Suar Nasution

Nonton Filkop 2, bikin aku mikir dan merasa beberapa hal sih. Ya, soal mimpi yang tertahan, karena banyak faktor. Soal bagaimana selama ini memaknai kata “kerja”, biar enggak kayak sapi. Tentang persahabatan, yang…yah.. begitulah. Terlalu banyak yang sudah dilalui, nggak semua terasa sejati. Trus bagaimana berdamai dengan bayang masa lalu, bagaimana menyelesaikan persoalan dengan dewasa.

Kuncinya; enggak egois. Ben, Jody, Tara, Brie, punya karakter dan keinginan masing-masing. Coba kalau semua egoisnya keluar dan nggak mau berdamai atau ngalah? Iya, Gak jadi film nya. Wakakak. Maksudku, ya masalah itu bakal berlarut dan bukan tidak mungkin ada hati-hati yang hancur dan nggak bisa balik lagi. Fhuuu~~

Udah ngelanturnya ah, meja belakangku udah mulai nyetel Via Vallen. Udah ngga bisa konsen nulis yang sendu-sendu. Saatnya…. ikutan nyanyi HAHAHA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s