Terperangkap Kusumanegara

Jalanan Jogja hampir magrib kemarin itu syahdu. Mungkin efek dari hujan yang beberapa jam sebelumnya mengguyur. Atau mungkin mendung yang sama masih menggelayut, ditambah nyala lampu temaram, menunggu gelap datang sepenuhnya.

Aku menyusuri Jalan Kusumanegara, seperti hari-hari sebelumnya. Biasa saja, melalui perempatan SGM ke arah barat, lalu lurus menyusuri Pamela, DPD RI. Motor Beat sengaja aku jalankan pelan. Bukan karena apa-apa, mataku tidak lagi awas ketika hari mulai senja. Aku harus lebih berhati-hati.

Tiba-tiba saja, aku tersentak. Ada sesak yang menarik keluar ke permukaan. Tenggorokanku mendadak tercekat. Perasaan ini… familiar sekali. Dejavu?

Aku tidak tahu, aku berubah gelisah. Motor semakin pelan, dan pandanganku semakin tidak fokus. Apa ini?

Jangan menangis…

Tidak. Tidak. Tidak. Menangis bukan pilihan yang tepat, sementara aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sementara aku masih harus mengendali kuda besi ini sampai rumah.

Aku kenapa? Aku tidak tahu. Entahlah. Melewati Kusumanegara sore itu, seakan perangkap bagi perasaan-perasaan sendu yang tidak biasa. Ada sedikit haru menyergap merdu, tetapi aku masih saja tidak tahu. Mungkin aku memang sedang dejavu, tetapi untuk apa? Kapan ini pernah juga terjadi padaku? Haruskah di Kusumanegara?

Sepanjang sore itu, aku melaju dengan hening yang pening. Aku melihat tanpa tatap, aku mendengar tanpa teringat. Kosong. Hampa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s