Protected: Bagaimana Ini?

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Tumbuh

IMG_20171020_095845

Tidak wangi seperti mawar, tidak cantik seperti bunga matahari. Hanya beberapa orang yang menyadari indahmu, lalu mengabadikannya.

IMG_20171020_102627

Terus bertumbuh dan berharap, agar suatu saat langit berkenan. Selalu.

Mengasing di Hestek

Tiba-tiba aku kangen cappuccino. Sudah hampir setengah tahun ini aku berhenti minum kopi cantik itu. Bukan aku sok kuat dengan cuma minum kopi hitam, bukan. Tapi aku memang nggak bisa minum susu busa seperti cappuccino ini.

Aku memutuskan pergi -pulang maksudku, dari kantor setelah maghrib. Sebelumnya aku berniat lembur paling tidak sampai setelah Isya. Lagi-lagi, semua orang sudah menghilang setelah Maghrib dan aku nggak mau ditemani yang tak terlihat.

Hestek Kopi jadi tujuanku petang ini. Tidak terlalu jauh dari rumah, dan suasananya hening di dalam. Walaupun Jakal sedang sangat padat, Hestek tetap hening. Dan aku suka itu. Hestek memberi rasa nyaman, pun dengan kenangan² yang pernah hadir di sana. Kursi mana yang pernah aku duduki, meja mana yang pernah dipakai diskusi, bahkan nyala bara rokok pengunjung di bagian luarpun tidak menggangguku sama sekali.

Mengasing, mungkin lebih tepat kukatakan. Sengaja aku tidak mengajak sesiapa. Hanya ajakan kecil di sebuah grup yang tidak ditanggapi ((aku sudah biasa)) siang harinya. Aku ingin menghindari orang² yang kukenal, aku sedang tidak ingin membuka percakapan. Aku cuma ingin membaca, menyeruput kopi, dan mendengarkan musik latar kedai kopi ini.

Sudah lama aku tidak menikmati masa-masa seperti ini. Rasanya, sudah lama aku tidak mengasing dan membuat waktu untuk diri sendiri. Mengenangkan segala hal, mengimaji buku yang sedang kubaca, menggoyangkan kaki dari lagu daftar putar kedai, dan merindukan kamu. Tentunya.
Latepost, diujung malam.

Memilih Kasih

Sebenarnya aku memang sedang bermasalah dengan sebuah grup WhatsApp. Kurasa, satu-satunya cara adalah menyunyikan segala notifikasi dari grup itu. Mungkin aku saja yang sensitif, tetapi segala macam kabar seperti hantu bagiku -dan bagi banyak orang di luar sana jika mereka tahu.

Aku tidak menginspirasi, sama sekali. Segala macam kegagalan dan ketidakberhasilanku tidak layak diapresiasi, aku tahu pasti. Sedangkan grup itu berisi keberhasilan, keindahan, kesuksesan, gilang gemilang, prestasi. Aku iri? Entahlah, mungkin iya. Mungkin juga bukan iri, lebih tepatnya, ironi. Aku pernah pada posisi itu, dan aku tahu bagaimana rasanya dielu-elukan. Aku paham bagaimana bangganya menjadi inspirator. Tetapi aku tahu, harusnya bukan hanya aku.

Ah, hatimu mungkin sedang kotor saja, Pi. Bukankah wajar jika prestasi menjadi hal penting? Iya, wajar. Yang tidak wajar adalah bagaimana mereka memandang orang di luar grup itu. Sedikit membuatku muak, sebenarnya. Tipis sekali respeknya, seakan tidak penting. Seakan cuma ilusi.

Ah, bersabar sedikit. Nanti kau bisa pergi, tanpa perlu menjadi musuh dalam selimut, tanpa perlu menjadi musang berbulu domba.

Ah, kenapa aku jahat sekali?

 

 

Photo by Jacob Kiesow on Unsplash