Memilih Kasih

Sebenarnya aku memang sedang bermasalah dengan sebuah grup WhatsApp. Kurasa, satu-satunya cara adalah menyunyikan segala notifikasi dari grup itu. Mungkin aku saja yang sensitif, tetapi segala macam kabar seperti hantu bagiku -dan bagi banyak orang di luar sana jika mereka tahu.

Aku tidak menginspirasi, sama sekali. Segala macam kegagalan dan ketidakberhasilanku tidak layak diapresiasi, aku tahu pasti. Sedangkan grup itu berisi keberhasilan, keindahan, kesuksesan, gilang gemilang, prestasi. Aku iri? Entahlah, mungkin iya. Mungkin juga bukan iri, lebih tepatnya, ironi. Aku pernah pada posisi itu, dan aku tahu bagaimana rasanya dielu-elukan. Aku paham bagaimana bangganya menjadi inspirator. Tetapi aku tahu, harusnya bukan hanya aku.

Ah, hatimu mungkin sedang kotor saja, Pi. Bukankah wajar jika prestasi menjadi hal penting? Iya, wajar. Yang tidak wajar adalah bagaimana mereka memandang orang di luar grup itu. Sedikit membuatku muak, sebenarnya. Tipis sekali respeknya, seakan tidak penting. Seakan cuma ilusi.

Ah, bersabar sedikit. Nanti kau bisa pergi, tanpa perlu menjadi musuh dalam selimut, tanpa perlu menjadi musang berbulu domba.

Ah, kenapa aku jahat sekali?

 

 

Photo byΒ Jacob KiesowΒ onΒ Unsplash

Advertisements

2 thoughts on “Memilih Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s