Mengasing di Hestek

Tiba-tiba aku kangen cappuccino. Sudah hampir setengah tahun ini aku berhenti minum kopi cantik itu. Bukan aku sok kuat dengan cuma minum kopi hitam, bukan. Tapi aku memang nggak bisa minum susu busa seperti cappuccino ini.

Aku memutuskan pergi -pulang maksudku, dari kantor setelah maghrib. Sebelumnya aku berniat lembur paling tidak sampai setelah Isya. Lagi-lagi, semua orang sudah menghilang setelah Maghrib dan aku nggak mau ditemani yang tak terlihat.

Hestek Kopi jadi tujuanku petang ini. Tidak terlalu jauh dari rumah, dan suasananya hening di dalam. Walaupun Jakal sedang sangat padat, Hestek tetap hening. Dan aku suka itu. Hestek memberi rasa nyaman, pun dengan kenanganยฒ yang pernah hadir di sana. Kursi mana yang pernah aku duduki, meja mana yang pernah dipakai diskusi, bahkan nyala bara rokok pengunjung di bagian luarpun tidak menggangguku sama sekali.

Mengasing, mungkin lebih tepat kukatakan. Sengaja aku tidak mengajak sesiapa. Hanya ajakan kecil di sebuah grup yang tidak ditanggapi ((aku sudah biasa)) siang harinya. Aku ingin menghindari orangยฒ yang kukenal, aku sedang tidak ingin membuka percakapan. Aku cuma ingin membaca, menyeruput kopi, dan mendengarkan musik latar kedai kopi ini.

Sudah lama aku tidak menikmati masa-masa seperti ini. Rasanya, sudah lama aku tidak mengasing dan membuat waktu untuk diri sendiri. Mengenangkan segala hal, mengimaji buku yang sedang kubaca, menggoyangkan kaki dari lagu daftar putar kedai, dan merindukan kamu. Tentunya.
Latepost, diujung malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s