Hidup Seperempat Abad

Tidak ada yang lebih mengerti dari diri kita sendiri bagaimana kita menjalani setiap hari dengan satu satu tenaga yang kita punyai. Mungkin kehidupan yang tidak begitu disukai atau diingini. Tetapi itu yang akan membentuk karakter kita, sikap kita, dan keputusan kita terhadap sesuatu.

Kemarin aku memutuskan berjalan kaki dari kantor ke kantor suami. Lumayan lah jaraknya sekitar 600m. Aku menghitung waktu, kira-kira menjelang maghrib aku akan sampai di sana. Aku berjalan dengan tenang, diiringi cuap-cuap penyiar radio favoritku di telinga kiri.

Ternyata benar kata masgun di sebuah acara bedah buku. Jalan kaki membuat kita sadar kalau selama ini kita melewatkan banyak hal. Aku baru tahu kalau di dekat kantor ada penjahit, padahal aku kemarin jauh-jauh ke Gejayan kalau harus menjahitkan baju karena enggak tahu lagi musti jahit dimana. Aku baru ngeh kalau ada distro muslim di jarak itu karena enggak awas kalau naik motor. Dan banyak hal lagi.

Mungkin begitu juga hidup. Selama ini kita menjalani hidup dengan tergesa. Tergesa mengerjakan tugas kantor, tergesa menuju agenda ini itu, tergesa menyiapkan sarapan pagi, dll. Mencoba menjalani hidup dengan selow dan melihat sekitar mungkin perlu juga. Bukankah kita ini insan bukan seekor sapi? ((itu lirik laguu btw))

Baiklah, aku tau setelah seperempat abad ini hidupku akan jaauh lebih cepat dan tergesa. Tapi enggak boleh membuat semuanya jadi blur kecuali apa yang aku lakukan, bukan begitu?

Melihat dengan mata jernih, adalah hal mungkin bisa aku coba.

Hei kamu, tetap bersamaku yaa 🙂

 

201193 ~ 201118

Menonton Crimes of Grindelwald!

Disclaimer : tulisan ini ungkapan perasaan, bukan ulasan. Pasti akan mengandung spoiler dan sopiler.

Yeay!! Nonton Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald di hari kedua penayangan akhirnya menuntunku kepada kenyataan lain daripada Credence.

Btw, kemarin nonton di CGV Transmart Maguwo dan itu RUAME BUANGET. Kukira semua orang disitu nonton TCOG dong yaaa. Ternyata nonton Burn The Stage alias Filmnya BTS (Bangtan Boys). Ya Gusti.. pantesan isinya bocil-bocil yang keliatannya anak SMA begitu wkwkwk.

Okai. Back to Newt Scamander. Gemesy sekali sama Newt yang enggak mau ke Prancis buat nyari Credence (jadi Credence selamat di film pertama dan kabur ke Prancis). Bahkan sampe Albus Dumbledore (yang keliatan gagah pada masa itu) minta dia berangkat pun teteup ngga mau. Dia bener-bener ogah sampai tau si Tina ada di sana juga dan dia langsung berangkat pakai portkey. Buat nyariin Tina. Bukan nyariin Credence. Semenyebalkan itu lelaki yang jatuh cintrong sama cewe HAHAHAHA. Continue reading

Butter Rice ala Luthfi

IMG_20181114_160147

Hellaaawww, kamu-kamu yang nyasar ke sini karena nyari menu nasi enak lewat gugel ataupun follower blog aku hihihi.

Beberapa waktu lalu di grup NSS (Nulis Suka-Suka) ada tema “resep masakan favoritmu”, dan waktu itu aku enggak ngeh (hahaha). Nah sekarang aku mau membagikan resep menu favorit aku yang aku sering bikin karena keterbatasan waktu dan bahan. Inimah tinggal cemplung2 seadanya ke rice cooker  hihi.

Namanya “Butter Rice ala Luthfi“.

Bahan:

  • Beras
  • Jagung dipritilin ((hadeh apadah namanya itulah..))
  • Kacang panjang potong kecil2
  • Wortel potong dadu kecil
  • Daun salam 1 lembar
  • Mentega 1 sdt
  • Ro*co 1/2 sdt
  • Lada secukupnya
  • Garam 1/2 sdt (atau bisa sesuai selera)

Cara bikin:

  1. Cuci beras, masukkan air sesuai takaran beras
  2. Masukkan ro*co, garam, daun salam, lada, aduk sampai rata
  3. Masak dalam rice cooker (jangan lupa pencet tombol cook nya!!11!!)
  4. Sementara beras dimasak menjadi nasi.. kacang panjang, wortel, jagung bisa direbus sebentar biar agak lunak
  5. Kalau rice cooker udah bunyi “klik” tandanya nasi mateng
  6. masukkan mentega dan sayuran yang direbus
  7. Aduk-aduk perlahan sampai rata
  8. Tutup rice cooker dan posisikan “warm” saja sekitar 5 menit
  9. Butter rice siap disajikan!

Untuk bahan sayurannya bisa menyesuaikan ya yang ada aja.

Nah lauknya tinggal goreng aja telur atau sosis atau apadeh yang disuka. Selamat makaaan~

 

Beneran Touring!!

Masih kerasaaa euforianyaa, deg-degannya, senengnya, hore-horenyaa touring perdana aku kali ini. Berawal dari masmas ganteng nan berbrewok yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami saya sendiri. Dia tiba-tiba ngajakin acara touringnya Masjid Jogokariyan. Namanya Jogja Hijrah Bikers. Tujuan ke Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3). Ya aku jelas mau, lah! Kesempatanku kapan lagi touring ulala begitu sama suami dan komunitas yang kece uhuy (ada Tadz Salim pula yekan).

Sehari sebelum berangkat udah ngeriwehin dah hahahaaa. Mulai dari air minum, bekal bensin seliter, snack, sepatu, pakaian yang dipakai, sampe tisu basah-pun :))

ahseyk~

Sabtu pagi (10-11-18) kami udah di Masjid Jogokariyan sebagai lokasi berangkat. Baru jam 7.30 tapi udah ramai orang. Briefing dan penataan emang dimulainya jam segitu sih. Nampak pula ustadz Salim A Fillah dalam balutan kaos rider, celana jins, dan sneakers gaul. Ampe bengong aku ga percayanya aku kalo itu ustadz Salim wkwk. Kirain bojoku salaman sama siapa kok yg disalamin nanya “Wah bulan madunya touring, nih?” Jebule ustadz Salim to wkwkwk.

Nahini ..

sama lakonnya~

Setelah dimulai dengan doa bersama ust Salim, rombongan bergerak beriringan, diiringi sama Voorijder. Dan baru kali ini aku naik motor diiringi patwal lengkap dengan uwiuwiuwiuu-nya hahahaayy. Daan, menyenangkan sekali duduk di boncengan sambil merekam ini itu. Melihat barisan yang seegitu panjang dan banyaknya, melihat bermacam-macam motor. Gak peduli moge, bison, vixion, motor bebek, beat sampai honda astrea 90’an juga ada. Subhanallah. Aku sama suami naik supra x 125 kecintaan suami yang sangat dia banggakan.

Menjelang dzuhur sampailah kami di PM3. Alhamdulillaah perjalanan lancar tanpa hambatan. Disuguhi pemandangan apik merapi merbabu yang kebetulan agak tertutup kabut, dan juga teh panas dan gorengan. Sambil melepas lelah kami saling menyapa dan mengobrol singkat.

Akupun mau tidak mau, terjebak di ruang nostalgia pada masa 2012 dimana aku dan teman-teman kampus pernah mengadakan Kuliah Kerja Dakwah alias KKD di tempat ini pula. Rasanya haruuu banget bisa balik ke sini lagi. Windusajan, Wonolelo, Batur, Gerimis, KKD. Seperti bianglala, kenangan itu berputar di otakku. Kangen anak-anak Gerimis kan jadinya.. Untung banget suami anak Gerimis juga yekan (apaaa hubungannyaaa, markonaaah).

uwuwuwuu

Dzuhur berkumandang, para lelaki sholat di Masjid dan para hijabers sholat di aula. Alhamdulillah selesai sholat langsung dihadapkan pada kudapan enak dan bergizi. Selepas itu acara dilanjutkan dengan kalimat2 dari pembina PM3 dan tak lupa pula materi yang dinanti dari ust Salim tentang Hijrah.

Modal orang hijrah (ringkasan singkat dari tausiyah ust Salim):

  1. Ikhlas meninggalkan sesuatu yang bersifat duniawi karena Allah. Menuju Allah.
  2. Tawakkal, bersandar pd Allah. cth : Abdurrahman bin Auf ketika hijrah ke Madinah
  3. Ta’allum, mau terus belajar
  4. Tawadhu’, tetap merasa rendah hati

Sekitar pukul 14.00 kami turun ke Jogja dengan kondisi hujan deras dari atas dan jarak pandang cuma sekitar 2m. Gusti Alhamdulillah diparingi selameeett :””)

Lelahnya baru kerasa pas udah di rumah. Senengnya masih kerasa sampe sekarang. Seneng bisa touring sama komunitas yang cocok di hati. Kalo kemaren ada yang komen gini “Agendanya ngapain mbak touring sampe sana? Gitu doang?” –ya terus mau ngapain dong, Gabriela? Salto-salto ke arah Merapi? Foto alay sampek batre lobet? Yakan ngga gitu~ It’s alla about feeling~ Ah kamu~

Jadi, kapan kemana kita touring lagi, Swam??

Gini.. Itu..

boot x boot

Sebuah Keluhan

Sudah lama aku enggak menulis. Mau dibilang malas, iya. Dibilang blocking, iya. Pokoknya aku sudah lama sekali enggak nulis. Dan itu membuatku sedikit merasa jadi pecundang. Huft.

Oh ya ini menulis fiksi ya, maksudku. Bukan curhatan semacam ini. Nulis puisi, prosa, cerpen, fanfiksi, fiksimini, dll. Kalau nulis semacam curhatan atau lintasan pikiran gini aku sering juga.

BNNS udah jalan bulan ini dan aku (dengan bodohnya) melewatkan pengumuman itu (lagi). Di satu sisi pengen nulis fiksi lagi, di sisi lain melihat realita bahwa mulai bulan ini aku pindah divisi dan tambah list job, itu berarti aku bakal serius banget bekerjanya selama 8 jam di ruangan (kayak yang kemarin enggak serius gitu yaaa). Dan itu juga berarti kadar kelelahanku semakin tinggi. Dan makin parah juga bengongku di depan laptop nanti.

Mencoba realistis tapi kayak kebanyakan alasan kan? LoL. Memang.

Terus aku kudu gimana?