Perihal Ruang Lingkup

Entah kenapa aku tertarik membahas soal ruang lingkup pertemanan ini setelah merasa geli (atau gerah?) dengan narasi orang-orang di media sosial (dan ternyata banyak sekali yang mengamini) bahwa semakin tua teman kita akan semakin sedikit dan cuma itu-itu saja.

Baiklah, sharing ini dari sudut pandangku saja. Mungkin hanya aku yang mengalami saja.

Aku setuju kalau, ya, semakin tua, teman-teman dekat kita untuk berbagi cerita dan kegilaan masa muda akan semakin sedikit. Bahkan aku juga merasa kalau setiap siklus dan fase kehidupanku, temanku akan berbeda. Hal ini sudah aku sadari sejak aku lulus sekolah menengah. Teman SMP (genk) yang akhirnya berbeda sekolah saat SMA, sudah enggak pernah berkontak lagi. Setelah lulus SMA pun, tidak banyak juga yang masih berhasil kontak-kontakan sebagaimana waktu sekolah.

Itu wajar, bagiku. Mungkin enggak wajar bagi orang lain yang memang merasa butuh dan akrab dengan sahabatnya dulu lalu tiba-tiba berpisah menghilang begitu saja.

Suamiku bilang, waktu dia mengenalku di awal-awal pertemanan, aku seperti enggak butuh orang lain untuk saling berbagi. Walaupun toh nyatanya aku juga butuh dia di kehidupanku sekarang. Tapi dia menyadarkanku, iya benar, aku dari dulu selalu bisa mengatasi semuanya sendiri. Tidak melulu harus curhat sama sahabat, senang-senang sama sahabat, dll.

Balik lagi soal pertemanan. Kurasa ini memang sebuah siklus saja. Orang bilang “waktu” setiap manusia berbeda. Di usia 25 tahun, ada yang sudah menikah, ada yang sedang mengejar gelar doktor, ada yang punya 2 anak, ada yang jadi anggota legislatif, ada yang masih berkutat menyelesaikan skripsi di kampus, ada juga yang memilih untuk tidak ngapa-ngapain. Itu pilihan hidup seseorang. Dan kita, secara tidak sadar, akan dipertemukan dengan orang-orang yang sefrekuensi dengan tujuan hidup kita. Itu yang membuat lingkaran pertemanan kita semakin sempit.

Gimana biar temen kita tetap banyak? Ya kitanya yang kudu bergerak. Disini aku bilang tetep banyak, bukan tetap itu-itu saja. Kita harus aktif cari lingkungan baru. Aku, walaupun dari berkali-kali tes adalah seorang introvert, mencoba buat memperluas lingkup pertemanan di setiap fase hidup.

Waktu aku sudah lulus kuliah dan harus bekerja, aku tahu teman-temanku akan berubah. Bukan lagi orang-orang yang punya waktu luang dan bisa diajak main kemana saja. Bukan lagi teman-teman yang ngomongin gimana cara ngadepin dobing skripsi.

Akhirnya aku mencari lingkungan baru, aku bergabung dengan Klub Buku Yogyakarta. Setahun bekerja, aku iseng mengikuti seleksi Forum Indonesia Muda yang lingkupnya jauh lebih luas, skala nasional. Di dua tempat itu aku menemukan teman-teman baru, untuk diskusi, nongkrong, haha-hihi, ngobrolin program, dan lain-lain. Jadi kumpulnya enggak sama yang itu-itu aja.

Apalagi setelah menikah. Kebanyakan orang berpandangan kalau menikah itu bikin enggak bebas, bikin enggak punya teman lagi, enggak bisa diajak main lagi. Iyakah? Aku dan suami justru berpikiran lain. Setelah kami menikah, teman-teman suami jadi temanku. Temanku jadi teman suami juga. Mungkin usia pernikahan kami belum ada setahun, tapi kami berusaha menyepakati itu. Aku ikut bukber alumni sekolah suami, ikut ke kondangan temen suami, dll. Dia juga beberapa kali ikut nongkrongnya aku bareng anak-anak klub buku. Ikut ketemu teman-temanku yang belum dia kenal, atau kondangan ke temanku. Bagi kami, menikah itu bukan memutus pertemanan, tapi justru menambah banyak lagi pertemanan dari lingkaran-lingkaran kami sebelumnya.

Apa-apa yang terjadi di hidup kita, ya kita yang mengusahakan, kita yang membuat itu semua terjadi atau tidak sama sekali.

 

–cuma curhatan di sela kerjaan kantor–

2 thoughts on “Perihal Ruang Lingkup

  1. adindilla says:

    Saya justru terjebak sama lingkungan pertemanan yang orang-orangnya berusia di bawah saya. Soalnya yang sepantaran, sudah memilih jalan masing-masing. Sedangkan saya masih berkutat dengan banyak hal tidak penting lainnya.

    • izzatyzone says:

      bukan terjebak sih kak kalo bahasaku. berarti memang sedang disatukan dgn orang yg sefrekuensi. bayangkan kalo beda frekuensi, kita sukanya main2 dll eh ngobrolnya sama orang yg pusing kehidupan kantor misal.. kdg ga nyambung kaan hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s