Sebuah Alasan [D30]

Sebenarnya mau aku panjang-panjangkan judul postingan ini seperti; Sebuah Alasan Kenapa Ngeblog Dan Alhamdulillah Desember Mau Kelar Juga. 

Apaan, sih😅

Halo. Namaku luthfi izzaty. Sesuai dengan alamat blog ini. Dulu aku sempat pakai alamat lutphantomhive, tapi gegara banyak yang protes (siapa, deh?) karena susah spelling-nya, jadi aku ganti pakai nama asliku. Ternyata spelling nya tetep susah. (Yha!) 😅😅

Headerku, bertuliskan Izzatyzone. Alay? Emang. Itu bahasa gawul sejak SMA sih. Zona-nya Izzaty gitu maksudnya. Aku tuan rumah blog ini, jadi jangan macem-macem, yak. 😛😛

Time to refresh my mind : udah jelas kan. Aku terlalu gila sama dunia ini dan aku pengen refreshing. Blog memberiku ruang untuk penyegaran. Menulis memberiku kekuatan untuk bertahan di dunia yang penuh kegilaan ini.

Aku mulai ngeblog sejak SMA.kalaulah friendster digolongkan sebagai blog, berarti sejak SMP 😂 *maksa

Pelajaran di sekolahku yang rada unik, mengharuskan setiap murid punya blog. Bahkan sampai ada tutorialnya di satu jam pelajaran. Waktu itu aku pakai Blogspot yang tingkat kerumitan HTML nya lumayan menyesakkan dada anak SMA. Mana aku tau ada wordpress? Hahaha.

Sejak saat itu aku ngeblog, karena seperti menemukan rumah keduaku. Aku bebas berekspresi apa saja. Ketika teman2 ribut dengan Facebook-nya, aku tidak peduli dan memilih dunia blogging untuk menulis semuanya. Nulis apa saja yang pengen aku tulis. Quote, prosa, puisi, fiksi, rangkuman pelajaran, curcolan, kode-kodean, dll. Sempat vakum saat dekat UAN sebenernya.

Ketika kuliah, aku mengaktifkan lagi blog yang penuh laba-laba dan eek tokek. Karena terlalu alay dan mengenaskan, aku hide juga itu blog. HAHAHAHA. Akhirnya aku pindah rumah ke wordpress dengan segala kemudahan dan ke-simpel-an nya. I found a new home. 

It’s been 8 years. Menurut catatanku begitu. Tidak ada yang menuntutku, tidak ada yang menyuruhku, tidak ada yang memotivasiku. I just fall in love with blogging, dear. ❤

Semoga kamu tahu, semoga kamu mengerti. Iya, kamu. 

Advertisements

Dokumentasi [D28] 

​Aku melangkah tergesa memasuki kamar, di belakangku Fatim mengekor waspada seperti takut aku melakukan hal berbahaya. Binder bercover transparan di atas meja menjadi tujuanku. Suara kertas tercerabut paksa membuat Fatim berteriak,

“Nisha! Kamu ngapain?!”

Aku terisak sambil mencabut paksa kertas-kertas itu. Fatim merebut binder dan menjauhkannya dariku.

“Nis, nggak gini caranya…” Sekarang Fatim duduk di tepi ranjang, aku masih menunduk terisak membelakanginya di tepi meja. 

Aku berbalik perlahan, menatap Fatim penuh kesedihan dan berkata penuh tekanan, “Aku benci menulis.” 

Fatim terperanjat. Matanya menyalang binder yang dia dekap sendiri.

“Jangan bilang kamu…”

Aku berteriak dengan frustrasi, “Ya! YA FATIM, AKU MENULIS SEMUA TENTANG DIA DI SANA!”

Fatim terdiam, mengambil salah satu kertas yang sudah jatuh tercabut. Aku terlalu sibuk menyeka air mata sampai tidak peduli apa yang Fatim baca.

“Kenapa harus aku yang jadi seksi dokumentasi dan menyimpan semua ini! Sampai-sampai ketika dia pergi harus aku juga yang menyimpan kertas-kertas ini!”

“Kamu yang memilih peran itu, Nis. Reehan bahkan tidak pernah meminta kamu.” Fatim membuka binder perlahan. Aku tidak sanggup bahkan sekedar meliriknya.

Binder itu berisi semua puisi, prosa, cerita, sketsa, semuanya. Semuanya tentang kamu, semuanya tentang kita. Mimpi-mimpi kita, rencana kita, kesukaan kita. Lalu semua terasa hilang dalam satu sentakan begitu kamu memilih pergi.

Pergi dari semua harapan-harapan masa depan kita. Tepat di hari ulang tahunmu. 

“Maafkan aku,” cuma itu katamu.

Punggungku melorot dan terduduk di lantai. Fatim tidak terlalu peduli, hanya menatapku sejenak dan merebahkan tubuhnya. Semua yang kamu bilang, terlalu jelas meski hanya pelan saja. 

Pantas saja kamu perlahan pergi, pantas saja kamu selalu sibuk dengan duniamu.

“Maafkan aku, kanker pankreas ini, aku tidak bisa lagi melawannya. Maafkan aku, Nisha.”

Pantas saja sore ini kamu memintaku datang ke rumahmu setelah sepekan lalu kamu bilang sedang touring sepuluh hari. Bohong.
————————–

*tema : nulis cerita pendek dengan kata2 meja, hilang, menulis

*parah br ditulis skrg. Awalnya sih ngga mau nulisin, tp okelah gpp ditulis ajah haha. 

Quatervois Clavis [D18]

Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas. Kotaku memang unik. Di sini, kami menggunakan benar-benar 24 jam dalam satu lingkaran jam. Kalau kalian hanya memiliki 12 angka, kami memiliki 24 angka. Aku melangkah sedikit cepat menyusuri tepian Sungai Bengawan, menuju Taman Kota. Ada yang menungguku di sana, semoga aku tidak terlambat.

“Kamu terlambat 2 menit.” Suara itu menghentikan langkahku. Aku melihat ke depan dan menemukan seraut wajah jengkel yang dihiasi rambut coklat kemerahan. Outer hitam dengan dress biru dongker selutut dan sepatu kets putih melengkapi penampilannya.

“Maaf, Kyna. Kamu tahu aku sibuk belakangan ini.” Aku menghempaskan tubuh ke bangku hijau di belakang Kyna.

“Bukan alasan untuk kemudian benar-benar tidak pulang ke rumah, Darren.” Kyna mendelik dan duduk di depanku. Aku tersenyum sinis.

“Aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah. As a man, Kyn. Aku tidak akan menarik kata-kataku.”

“Beda pandangan politik tidak harus menghancurkan keluarga kita sendiri, Darren! Mengalahlah sedikit pada Papa, ingat dari kecil siapa yang menghidupi kita. Kamu bahkan menyusu dengan uang yang Papa dapatkan dari permainan politiknya!” Kyna menatapku tajam.

“Memangnya aku bisa diam saja ketika aku tahu siapa teman-teman Papa di balik pemerintahannyaa? Tidak, Kyn. Aku bisa dianggap berkhianat kepada bangsa ini.”

“Kamu mau jadi pahlawan?”

Aku tergelak. Kyna menyedekapkan tangan di depan dada. Rambut sebahunya beriak ketika angin melewati kami berdua. Kyna bukan lagi gadis kecil yang bisa aku bungkam dengan sebatang cokelat ketika dulu aku kabur dari rumah. Pergi dari rumah adalah keahlianku, walaupun aku akan menyerah dan kembali. Tetapi tidak kali ini, aku benar-benar pergi setelah Papa menuduhku melakukan kecurangan politik untuk menjegal langkahnya menjadi Kepala Dewan Kota. Kami bertengkar hebat selama 2 jam dan baru berakhir ketika aku memutuskan pergi dari rumah.

“Hei, Darren. Katakan padaku, dimana rasa terimakasihmu pada Papa sampai kamu bisa sebesar ini dan hidup enak seperti ini. Tiba-tiba kamu menyerang Papa dan mengatakan hal-hal buruk selama Papa menjadi negarawan. Kamu kira kamu ini siapa?”

Cengiranku bertambah lebar,”Negarawan katamu? Oh ayolah, Kyna. Siapa yang menyuruh aku sekolah di Ilmu Politik dan Pemerintahan, coba? Papa. Kenapa? Ya karena Papa mau mewariskan jabatan politiknya untukku nanti. Bagaimana mungkin? Nothing impossible, Kyn. Orang-orang di belakang Papa itu, aku tau semua track record-nya. Itulah kenapa aku menolak satu gerbong dengan Papa. Aku tidak bermaksud menjegal Papa, tapi Papa menganggap seperti itu. Aku mundur, Kyn.” Aku mengambil sekaleng minuman ringan dari dalam tas ransel dan meneguknya.

“Kamu sok tau, Darren.” Kyna beranjak sembari mengatakan itu.

“Mau kemana?”

“Ikut aku, aku tunjukkan sesuatu.” Kyna lebih dulu berbalik, berjalan menuju matahari terbenam.

“Hei.” Setengah berlari aku mengikuti Kyna yang berjalan lebar. Sejak lari adalah jiwanya, Kyna tidak pernah membuang waktu dengan melangkah pelan.

Kami berjalan dalam diam, menyusuri beberapa bangunan kota. Melewati Bank Sentral, menuju Stadion Kota, kemudian berbelok di salah satu gang.

“Kyna, mau kemana ini sebenarnya?” Aku menyenggol Kyna pelan.

“Aku tidak tahu apakah ini akan mengubah pandanganmu atau tidak, yang jelas aku menemukan ini sepekan lalu, tiga hari setelah kamu pergi.”

“Soal Papa?” Kyna hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas.

Kami sampai di depan sebuah gedung 2 lantai. Jaraknya sedikit lebih jauh daripada bangunan di sekitarnya. Tidak terlalu besar, tetapi terlihat bahwa bangunan itu terawat dan memiliki aktivitas di dalamnya.

Aku menoleh mendapati plang besar di sisi kanan bangunan berwarna coklat putih ini. Tulisan dengan font Arial memadati plang itu.

“Sekolah Harapan. Apa ini, Kyn?” Kyna tersenyum, melangkah masuk lobby gedung dan bersiap memberikan penjelasan kepadaku.

“Darren Clavis, tiga menit lagi kamu maju ke podium. Now it’s your turn, jangan sia-siakan itu.” Suara Andrea menarikku dari kepingan fragmen sepuluh tahun lalu. Aku tergeragap dan melempar senyum padanya. Jarum jam di dinding menunjuk angka 18.

Aku bangkit dari sofa menuju cermin, seraut wajah yang sangat mirip Papa hadir di sana. Penjelasan Kyna waktu itu membuatku berpikir banyak dan kembali ke rumah untuk menemui Papa. Papa ternyata membangun sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu. Tidak hanya itu, Papa memberikan modal kepada orang-orang yang selama ini termarginalkan bahkan dari hidupku. Aku pernah bilang kalau Papa bersama komplotannya melakukan banyak kecurangan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan membuat kebijakan-kebijakan pro-kontra ketika menjadi Ketua Dewan Kota. Yang kudapatkan justru sebaliknya.

“Papa tau, Papa salah karena bergabung dengan mereka. Papa hanya tidak ingin membiarkan mereka berkuasa tanpa bisa berbuat apa-apa. Melawan mereka, tidak semudah yang kamu bayangkan. Itulah kenapa Papa bergabung dengan mereka untuk membangun semua hal yang kamu sebutkan tadi. Membersihkan rumah tidak bisa hanya dengan melihat dari luar dan menyumpahinya, Clavis. Kita harus masuk, membawa amunisi kebersihan dan bergerak. Papa tau semua itu penuh dengan resiko, itulah kenapa Papa butuh kamu nantinya untuk bersama Papa. Pun ketika kamu sekarang memang berseberangan dengan Papa, tidak ada masalah bagi Papa. Kamu hanya harus berjanji, berkuasalah dan jangan seperti mereka.”

Kata-kata Papa malam itu setelah seharian bersama Kyna, kembali terlintas. Aku merapikan setelan jasku. Malam ini giliranku, Pa. Aku menjadi Wali Kota.

–end–


  • tema hari ini: lanjutin kalimat pertama di novel George Orwell. Saat itu adalah hari yang cerah dan dingin di bulan April dan jarum jam menunjuk angka tiga belas.
  • gezz, sebenarnya aku lagi nyelesein cerpen lain. Tapi lupa ada tema ini buat challenge hari ini. Yasudah ini aku buat nyaris  tanpa semedi, hiks.
  • Mohon komentarnyaaa, kritiknyaaa, sarannyaaa. Aku tau ini bukan “my best” tapi ide ini pernah menjadi ide dasar draft awal salah satu novelku yang nggak jadi-jadi karena cuma mentok  di outline doang dan tentunya dengan masalah yang lebih kompleks  dari sekedar ini. Ulala~
  • Quatervois : titik balik seseorang dalam pemikiran ataupun tindakannya

OOTD [D16]

Outfit of the day alias OOTD ku hari ini :

1. Black dress

2. Outer merah

3. Jilbab merah pola putih (yes, jarang2 pake jilbab corak gini)

4. Tas ransel item (as always)

5. Sepatu running warna hijau terang (ngggg sepatu aku cuma ini)

6. Gelang manik2 dan jam tangan

… dan selarik senyum manis. Voila ! Cinderella kesiangan bangun! Hahahaha~ 


mirip2 kek ini lah cuma beda tas ama jam tangan aja…eh jilbab jg beda dikit polanya. Sebenernya nyari itu biar keliatan cucok aja sama postingan. Ngahahha ~

Cinderella cuma pengen dress dan pesta. Dia ga pernah pengen sepatu kaca dan pangeran. Kali aja kan…. ada pangeran khilaf…. 

plis Fi, jaman segini….. 

sepatu kaca…. 

noh kaca jendela kantor lu pake!

Ampun ampun 😣😣  

Mabok lompia boom kali ah ni anak!

Coloring My Life [D15]

Mengapa pelangi itu indah? Karena dia terdiri dari banyak sekali warna. 

Salah satu quote KaBEM UGM tahun …. lupalah aku  tahun berapa itu 😁, sampai sekarang masih aku ingat. Karena aku merasa, aku terdiri dari banyak warna.

Makanya aku susah “menjadikan spesial” salah satu warna saja.

Aku suka Coklat. Dia kalem, menenangkan, senada dengan warna kulitku. Aku suka Abu-abu, karena dia mandiri, elegan. Aku suka Hitam, dia selalu cocok untuk semua keadaan. Aku suka Merah, dia berani menantang. Aku suka biru, dia meneduhkan. Aku suka…. aku suka semua warna 😍

Aku tidak bisa men-spesialkan satu dua, karena mereka saling menggenapi. Aku tidak bisa membuat hidupku monoton dengan hanya menyukai satu dua warna. 

Aku jadi ingat, waktu SMA, teman² asramaku membuat semacam sign untuk setiap anak. Satu orang, satu warna yang disuka. 

Kamu tau aku dapat apa?

Bening. Trully bening.

Karena mereka bahkan tidak bisa tahu aku suka warna apa. 😂

Jadi warna apa Fi?

I can’t answer this question. Sorry. Yang jelas .. ada pelangi, tuh. Dimana? Di bola matamu ;)😂

Lost and Found [D14]

Dear, tidak ada yang hilang di muka bumi ini. Yang ada hanyalah berpindah tempat atau berubah wujud. Neither lost nor found. Everything. Our stuff, our last, our memories, our beloved someone.

Jika ditanya mengenai barang yang hilang, oh, berpindah tempat maksudku, ada beberapa barang kecil namun berarti.

1. Bolpoin

Sejak jaman SD sampai sekarang, bolpoin selalu jadi barang yang paling sering hilang. Entah dipinjam dan nggak balik, entah jatuh, entah lupa taruh. Yah, menyebalkan sekali kalau harus beli berkali-kali bahkan sebelum tintanya habis. 

2. Karet rambut

Tau karet rambut cina nggak? Itu yang tipis kecil-kecil. Beli segepok, tinggal sehelai. Duh menyedihkan. Dan entah kemana saja itu karet.

3. Peniti

Penting buat ciwi-ciwi berhijab kaya aku, tapi barang ini Subhanallah banget suka menghilang. Padahal nggak mungkin peniti putus atau gimana , kan? Misterius.

Ohya, tidak ada  yang hilang, hanya berpindah tempat. Entah dimana tempatnya. Begitu kah kita nanti?
xxi amplaz, 14des16

Jadi Polisi [D5] 

Hueheheeee tjakep kan yak? Qeren gitu.

Iya, bicara cita-cita masa kecil, aku pernah pengen banget jadi POLWAN. Aku lihat foto saudaranya temen SD ku ketika main ke rumahnya. Wuih kereeeen! Seragam polisi, gagah, cool, kece, penegak keadilan. Kereeen !

Keren. Itu yang mendasari kenapa aku pernah bercita-cita jadi Polwan.

Kandas ketika beranjak SMP. Ku sadar bahwa tinggi badanku tak sesemampai polwan 😅😅😅

Tapi sampe sekarang ku suka liat Polwan. Ketje 😍