Sembari (3/30)

Aku sempat galau apakah aku akan lanjut bekerja atau aku resign saja dari kantor. Lingkungan kerja yang kepenak tidak mudah didapatkan, sehingga bagi orang introvert seperti aku tentunya tidak mudah pindah dan sulit adaptasi lagi.

Di sisi lain, bekerja memang tidak harus “ngantor”. Ada banyak sekali pekerjaan dan aktivitas menghasilkan duid tanpa harus duduk manis di kantor.

Bekerja bagiku sebuah sambilan, sembari menemani anak dalam tumbuh kembangnya. Dalam opiniku, tentu saja anakku adalah kewajiban utamaku. Sehingga aku dan suami bersepakat kalau bekerja hanyalah sambilanku, untuk sekali kali beraktivitas di luar rumah, untuk membantu finansial keluarga.

Jadi di masa akhir cuti, aku mengajukan negosiasi atas kondisiku. Dan yaaa, negosiasiku kurang lebig cukup berhasil. Kita lihat beberapa bulan kedepan yaa 😉

#30HBC2003 #30haribercerita

Kejutan 2019 (2/30)

Ngomong² soal 2019 yang barusan berakhir, kurasa memang tahun 2019 adalah tahun kejutan bagiku.

Awal tahun sih aku enggak banyak resolusi, malah santuy banget pengen ngalir aja. Ternyata aku dikasih kejutan sama Allah, dua garis merah. Lah kok bukan dua garis biru kayak di film itu sih? Emang bukan, kan pake tespek nya beda merek, aku yg murah aja duaribuan belinya wkwkwk.

Continue reading

Memulai Menulis Lagi (1/30)

Sudah mengantongi list goal 2020 dan salah satunya adalah kembali menulis dengan bahagia dan bebas di blog dan atau platform² lain. Heyy bukannya pekerjaanku yang selama ini memang banyak nulis tidak membahagiakan yaa, cuma enggak bebas ajaaa melampiaskan nananinaa yakaleee ah ┐(´д`)┌
.
Sehat² yaa kalian semuah, supaya bisa menikmati tulisan²ku dengan hati gembira meski berbeda pandangan (・´з`・)
.
Bulan pertama ini mau ikut #30haribercerita , kemungkinan ya banyak nulisnya di blog jadi silakan kuntit blog aku soalnya aku gapunya foto bagus nan ahestetik buat diposting IG selama 30 hari (╥_╥)
.
Iya itu doang emang alesannya kenapa mau nulis di blog aja wkwkwk. Postingan ini aja udahlah pake foto mie dokdok yg dibikinin sama @lusinurrahmawati tempo hari 😂
.
#30HBC2001 #30haribercerita

YUK MULAAIII 💕

*dicopas dari IG saya sendiri

Weekend Vibes

Sabtu Minggu sudah kelar dua hari yang lalu, tapi rasanya masih kebawa sampai sekarang. Apanyaa? Capeknyaaaa XD

Sabtu Minggu kemarin memang jadi hari yang melelahkan, tetapi justru menyelamatkan kakiku dari pembengkakan wkwkw.

Jumat malam aku sudah bertolak ke Batang, menghadiri undangan sepupu suami yang mau menikah Sabtu pagi. Berhubung seharian di Jumat itu aku ke kantor cabang yang lagi ngadain acara, berangkat ke Batang pun aku cuma tiduuuurr aja di mobil tau-tau nyampe hahahhaa.

Seharian di Batang aku baru menyadari banyak hal. Batang itu di pantura, pantesan rasanya puanas walaupun enggak terik. Rasanya butuh es cendol dawet walaupun akhirnya malah ketemu susu murni nasional 😀 . Dari tol Batang ke Semarang, keliatan PLTU baru bersama tongkang-tongkang batubara yang kelihatan di lautnya. Sama suami ngobrolin itu dan juga jalur kereta api bagian utara yang mepet laut. Ya beginilah kalau pasutri sama-sama orang kebumian, obrolan ga jauh-jauh dari aktivitas bumi, pertambangan, dll. Hahaha

Hari Minggunya, suami bertugas manggung bareng timnya di Hall UIN SuKa. Ow oow aku baru tahu itu yang ngadain anak-anak SMA IT ABY. Sebagai asisten pribadi, diriku musti ngintilin paksu sambil nenteng2 kamera, gorila tripod dan handphone untuk merekam semua pergerakannya wkwkwk. Dah macem lamtur ajadah uwe.

Oiya, dulu aku suka nonton konser. Ya lagu apapun lah. Ntah itu pop, dangdut, nasyid, dll. Dan emang paling suka jejingkrakan. Eh emang takdir, nikah sama penyanyi esp nasyid (mirip maher zein pula!) XD Rasanya kuingin jejingkrakan namun yakaleeee imej aku dooongg gemanaa masa emak-emak jejingkrakaaan -.- Continue reading

Perihal Ruang Lingkup

Entah kenapa aku tertarik membahas soal ruang lingkup pertemanan ini setelah merasa geli (atau gerah?) dengan narasi orang-orang di media sosial (dan ternyata banyak sekali yang mengamini) bahwa semakin tua teman kita akan semakin sedikit dan cuma itu-itu saja.

Baiklah, sharing ini dari sudut pandangku saja. Mungkin hanya aku yang mengalami saja.

Aku setuju kalau, ya, semakin tua, teman-teman dekat kita untuk berbagi cerita dan kegilaan masa muda akan semakin sedikit. Bahkan aku juga merasa kalau setiap siklus dan fase kehidupanku, temanku akan berbeda. Hal ini sudah aku sadari sejak aku lulus sekolah menengah. Teman SMP (genk) yang akhirnya berbeda sekolah saat SMA, sudah enggak pernah berkontak lagi. Setelah lulus SMA pun, tidak banyak juga yang masih berhasil kontak-kontakan sebagaimana waktu sekolah. Continue reading