Menulis Non Fiksi

image

Jangan berharap banyak! Tertawaku ditengah pesan-pesan whatsapp yang bertumpuk. Aku meringis, sedikit nyeri sebenarnya, tetapi begitulah kadang nasib tak seperti yang kita inginkan.

Hari ini pengumuman sebuah perlombaan essay. Aku memutuskan mendaftarkan diri beberapa hari yang lalu. Bergegas mencari sumber dan data, lalu membahasnya menjadi sebuah essay yang kupikir agak menarik. Dan ternyata aku kalah dari peserta-peserta lain.

Sejujurnya apa yang aku lakukan murni gambling. Sekian tahun aku berkutat dengan naskah fiksi. Menulis cerpen, flash fiction, fanfiksi, prosa, dan lain sebagainya. Menulis non fiksi? Hmm, sepertinya hanya keperluan seperti resensi atau berita singkat. Selain itu bisa dikatakan aku nihil.

Makanya kenapa aku memang belum bisa berharap banyak dengan naskah non fiksi-ku. Terlalu singkat untuk sebuah pembelajaran. Menulis, itu sebuah proses yang sangat panjang. Bahkan untuk cerpen dua halaman sekalipun. Apalagi naskah non fiksi. Aku sendiri belajar, dari sebuah kegagalan yang tidak jarang menimpa, justru sebuah momen yang menjadi evaluasi.

Kegagalan akan membawamu pada introspeksi. Dalam menulis juga seperti itu. Kamu akan tahu betapa kurangnya karya kamu dibanding pemenang. Kamu akan tahu dimana kelemahannya. Dan itu akan memacumu untuk berkarya yang lebih baik lagi.

Penulis profesional adalah amatir yang tidak pernah berhenti menulis.

Tepi Waduk Gajah Mungkur, 19 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day5

Advertisements

Tertawa

Bahwa kekecewaan yang menggumpal, awalnya memang menyakitkan hati. Begitupun, tanpa adanya kejelasan, membuat kita semakin jeri. Tetapi baru selanjutnya aku menyadari, tawa bebas yang kamu sampaikan bisa langsung mengurai kesedihan. Binar matamu yang lugas, bisa langsung menenangkan.

Selanjutnya aku tahu, bahwa percuma saja menyimpan kecewa. Karena manusia tempatnya lupa. Karena manusia memang begitu cepat bolak balik hatinya.

Aku sendiri bahagia, setidaknya aku bisa menghabiskan waktu bersama. Walau sebentar, tetap saja meresap rasanya. Walau tidak lama, aku tetap bisa tertawa.

Tertawalah, karena dengan itu kamu buat hariku mendadak bahagia.

Jogja, 17 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day3

Tidak Selamanya

image

“Maybe you will leave me someday, but our memories don’t.” (Izzaty, 2016)

Selarik kalimat yang aku tulis di akun twitter dan juga facebook-ku tetiba menjadi viral. Agaknya, kalimat itu menyinggung perasaan sebagian besar teman-temanku. Baper, kata mereka.

Tetapi aku sendiri baru menemukan kalimat itu -tentu saja hasil kontemplasiku- semalam. Aku mengingat beberapa perjalanan “persahabatan” yang aku lalui sendiri. Beberapa masih sejati, lebih banyak lagi yang kandas menepi. Dan mulailah aku menyalahkan diri sendiri.

Aku kah yang membuat mereka sakit hati? Ucapanku yang kasar kah? Perilakuku yang tak sopan kah? Tulisanku yang sarkas kah?

Well, kuberitahu saja. Tidak akan ada yang abadi. Entah bagaimanapun kamu menjaganya mati-matian. Persahabatan, cinta, usia.

“Hati bertemu hati tidak lagi sejati,” kata Farid  FSTVLST.

Lebih lagi ketika kamu mulai berusia, maksudku usiamu bertambah, tentu saja. Lingkaran pertemanan, pergaulan, jejaring anggota, akan berubah seiring usia, waktu, serta minatmu. Jadi ayolah, tidak perlu mendramatisir sebuah perpisahan.

Sudah kukatakan lagi, kamu mungkin akan meninggalkanku suatu hari, tapi memori kita tidak. Maha Besar Allah yang memberi kita memori. Sehingga aku bisa mengingat memori tentang kamu. Seberapapun menyenangkan, seberapapun menyedihkan.

Pun jika memori yang kuingat adalah ketika aku menyakiti hati kamu, lalu aku bisa apa?

Jogja, 16 Juni 2016

#TantanganHujanKarya1437H
#Day2