Cerita Antara Gunung dan Pantai

Suatu ketika aku ditanya, “Kalau disuruh memilih, kamu pilih gunung atau pantai?”

Jogja. Ceruk kota dimana aku berdomisili sekarang, dekat dengan segala macam gunung dan pantai. Gunung paling aktif se-Indonesia kita tahu, Merapi. Dan bersamanya bersanding Merbabu yang nampak lebih kalem. Belum lagi Sindoro dan Sumbing yang berdiri tegak di barat. Pantai lebih lagi, ada sekitar 100 pantai (Yes, I’m serious for that number) di Jogja. Sepanjang megahnya Laut Selatan itu, berjajar pantai mulai dari pasir hitam sampai pasir putih, ada semua!

sundak3

Pantai Sundak, beberapa waktu lalu

Aku lebih banyak menghabiskan waktu di pantai, jujur saja. Dengan perjalanan 1-2 jam saja, ombak pantai sudah bisa menjilati kaki dan kepenatanku. Walaupun aku sudah hampir 6 tahun hidup di Jogja, ternyata belum ada setengahnya dari seluruh pantai di Jogja yang aku datangi. Banyak banget, men!

Lebih lagi, keluargaku  suka banget touring ke pantai kalau pas liburan. “Belum berasa liburan kalau belum ke pantai,” kata Umi sehabis touring bulan lalu. Dalam 2016 kemarin, mungkin ada 10 pantai di Jogja yang aku datangi. Baik bareng teman-teman, atau keluarga.

???????????????????????????????

Pos Pasar Bubrah, Merapi 2014

Sedangkan gunung, seumur-umur baru Merapi yang aku sampai di puncaknya. Itupun sudah tahun 2014 lalu. Kenapa? Karena, serius, naik gunung butuh lebih banyak persiapan dan juga waktu. Buatku, gunung lebih ekstrim dan harus “jaga-jaga” lebih banyak. Dan, aku tidak bisa kalau ke gunung sendirian. Harus ada pawangnya, eh pendampingnya, eh apaan sih pokoknya temennya gitulah. Tapi aku menikmatinya kok di setiap perjalanan menuju puncak. Tidak terlupakan lah, waktu itu.  Aku lebih suka memandangi puncak Merapi dari jembatan teknik  sih, hehehee. Mungkin lain kali, kalau ada kesempatan aku nggunung lagi (kapan?).

Mungkin, gunung memang lebih indah jika hanya dilihat dari kejauhan saja? Dan ya, butuh ekstra persiapan dan perjalanan panjang menuju puncaknya. Seperti menujumu…

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukkan bersama tariannya ¹

¹ Lirik lagu dari Payung Teduh – Cerita Tentang Gunung dan Laut

 

Advertisements

Bertemu

lara-danielle_love-cartoon_ykjirwSedikit bocoran, sebenarnya untuk tema tanggal 11 ini aku yang mengusulkan. Dan tralalalaaaa kebegoan ini cepatlah berlalu~ Bahkan aku sendiri nggak sanggup ngepost tulisanku kemarin. It’s too sensitive.

Temanya oke, 11 Januari-nya Gigi. Pasti tau dong, ya? Lagu yang romantis banget, masuk jajaran lagu Indonesia long last romantic song, kalau menurutku.

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwaku

Setiap manusia memiliki kisah “pertemuan pertama” yang membawa kesan. Hanya saja, mau dibawa kemana kesan itu. Bagiku, pertemuan pertama secara denotatif tidak akan mendampak apapun. Itu sih, karena aku orangnya pelupa. Bagiku pertemuan selanjutnya-lah yang akan mempengaruhi keberadaan seseorang dalam hidupmu.

Menjalani kisah cinta bukan hal yang mudah, setahuku. Terlebih jika kamu diikat dalam perjanjian yang kokoh. Saat itu juga kamu harus yakin dialah satu-satunya. Dialah jiwamu sepanjang sisa hidup. Bersama Kehidupan dan Kematian yang mengecup janji-janji itu.

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu
Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Benar, tidak mungkin tiada konflik. Bahkan berhubungan dengan teman saja akan banyak konflik yang terjadi. Tetapi perjanjian yang kokoh tidak mungkin mudah tercerai hanya karena ada satu fase yang membuat hati-hati itu nyeri.

Kau bawa diriku
Ke dalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

Bukankah jutaan warna itu harmoni? Jika ada seseorang yang memberimu kesan seperti pelangi, meski kadang butuh mendung dan hujan lebih dulu untuk membuatnya terlihat, benarkah kamu hanya akan  pergi begitu saja? Ketika dia sudah menjadi pusat semestamu, mustahil kamu akan melepasnya dengan mudah.

Ngomong-omong soal pertama, aku ingat pernah menulis sebuah cerita (sangat) pendek tentang pertemuan 2 orang yang sama sama “aneh”. Saddam, si ganteng yang berniat membalas dendam. Tatyana, pemilik segala warna rambut karena dia tidak pernah bertahan hanya dengan satu warna.

Silakan berkunjung >> http://www.storial.co/book/black-and-blue/1

Kita, kapan “bertemu” pertama kalinya? Hehehehee *plak.

*tulisan untuk tanggal 11, saya harus merombak ulang tulisan yang seharusnya saya posting kemarin. Maafkan.

Dua Tahun ya, Papa?

father-551921_640

“Aku tidak percaya Papa akan datang.” Arin merengut masam pada Leo atas janji barusan. Leo menggaruk rahangnya yang ditumbuhi janggut tipis, merasakan kekesalan Arin.

Jangan berjanji pada seorang anak kecil dan perempuan, karena mereka akan mengingat semuanya. Arin masih berumur 10 tahun dan dia jelas-jelas perempuan! Anak itu sedang menyedekapkan tangannya lucu, bola mata coklatnya menyipit seakan menghakimi Leo. Apa yang bisa Leo katakan?

“Papa bahkan lupa minggu lalu ulangtahunku.”

“Maafkan Papa untuk yang kemarin. Arin, I promise you. We will meet in the first snow, two years again. Okay?”

“Dua tahun itu lama, Papa.” Arin menyeka matanya yang mulai membasah dengan syal merah melilit lehernya. Udara mendingin, tetapi Arin tidak mau berpisah dulu dengan Papa. Karena itu akan membuat hidupnya semakin beku.

“Tidak, selama Arin tumbuh dengan baik bersama Eyang, dua tahun akan baik-baik saja. Papa tau Arin anak hebat.” Leo mengelus puncak kepala Arin, mengenyahkan bayangan tentang Salwa yang lebih dulu pergi.

Leo sengaja mengajak Arin duduk di beranda depan sore ini, untuk berpamitan. Sejak muda, menjelajah dunia adalah jiwanya. Sedangkan fotografi adalah kesukaannya. Maka dia tidak menolak ketika salah satu majalah kenamaan mendaulat dirinya untuk dokumentasi salah satu ekspedisi di kutub utara. Termasuk meninggalkan Arin dalam dua tahun.

“Nanti Papa bawakan pinguin…”

“Bener, Pa?!” Mata Arin membulat penuh. Leo tergelak.

“..tapi fotonya aja.” Arin menyedekapkan tangan di depan, merengut lagi.
Leo serba salah. Duh, jangan bercanda dengan anak perempuan yang sedang buruk suasana hatinya. Salah lagi deh, rutuk Leo.

“Papa… Do you love me? You won’t leave me, will you? Benar ya Pa, dua tahun lagi waktu salju pertama turun?” Arin menatap tepat pada manik hitam Leo setelah puluhan detik memberi jarak pada keterdiaman mereka. Sedangkan Leo merasakan desiran dalam dadanya melihat bayang Salwa di mata Arin. Mereka terlalu mirip.

“Tentu. Papa janji. Papa always love you, Arin.”

Arin memeluk Leo dengan senyum terkembang sempurna. Arin tahu, Papa akan kembali. Arin tahu, Papa bekerja keras untuk Arin.

“Mama loves you too, Arin.” Leo membisikkan itu sembari mencium rambut panjang Arin. Leo merasa pundaknya basah dan hangat. Arin menangis, Leo mengeratkan pelukannya. Dia teringat Salwa.

***

flashfiction : 345 words

clue : salju pertama, janji, syal merah

Bongkar (Tas)!

Tema tanggal 9 ini adalah barang bawaan yang harus dibawa ketika pergi.

photo-1227_1

bongkar!

1. Dompet

Yah gimana, itu isinya lengkap banget mulai dari stnk, sim, ktp, duit, vocher diskonan, bon beli barang/jajan. Lengkap. Kalo ngga kebawa….wah menggelandang kayaknya. Pernah sih, coba nggak bawa dompet. Tapi abis itu pada bececeran semua stnk sim lalala hahahaa. Nggak lah, pokoknya harus kebawa ini mah.

2. Handphone (full battery)

Nah ini juga. Smartphone jadi alat wajib kedua  kalau pergi bahkan cuma ngadem ke ATM Hokben sana doang. Ya buat apa-apa bisa ini. Komunikasi, foto-foto, nulis, baca ebook, dengerin musik. Dan aku memang tidak memasukkan charger sebagai “harus dibawa” karena, ya begitulah. Kalau udah abis ini batere, yaudahlah. Yang harus terjadi maka terjadilah. Continue reading

Sepatu Ajaib

Waktu di grup nulis sukasuka ngasih tema sepatu impian sontak aku menjawab (nyeleneh) : sepatu yang bisa membuatku bersanding dengannya. HAHAHAHAHAAA mana adaa kacau bener 😂😂😂😂

Eh beneraaan, karena aku anaknya nggak suka pakai sepatu ala ala cewek manis semacam flat shoes, bahkan ga punya sepatu crocs (dimana sepatu itu macam jenis wajib sejuta umat cewe).

Kemana mana pakainya sepatu running (DAN WARNANYA IJO) sama sendal jepit. Trust me cuma itu yg ada di jok motorku. Yah kalo kondangan make yg agak feminim dikit, wedges setinggi 2 cm 😂😂 → itu aja ey udah pegel2 bok.

Mau ke mall, sepatu running. Mau ke kantor, sepatu running. mau pengajian, sendal jepit. Mau touring ke pantai, sendal jepit.

penampakan si kesayangan


Dan buatku itu udah sepatu impian banget. Dari dulu setiap sneakers tali gini ilang atau jebol, belinya yang beginian lagi cuma beda model dikit ama warnanya. Lagipula harganya terjangkau. Nggak lah aku beli yg ber-merk seharga hampir setengah juta itu.oh no, is that lifestyle? Yang penting nyaman aja dipakai. Aku punya flatshoes, tapi tapi tapi… ujung kaki sering lecet ngilu jadi aku ogah pakainya. Hehehe.

Apalagi kalau kamu menerimaku apa adanya kemana mana aku pakai 2 jenis itu. HAHAHAHA.

Ohya, dulu sempet punya sendal gunung. Tapi sejak sendal gunung ku diembat orang 2x aku males belinya lagi wes… beli sendal jepit aja wes… 

HIDUP SEPATU RUNNING !

HIDUP SENDAL JEPIT ! 

Palung #7

pexels-photo-24592

lebih lebih pada kau yang pergi
aku melihat lebih dulu
pada sunyi yang janji temani
nanti jika kamu tak
di sini lagi

sekumpulan jejak mengaku kalah
pada ombak
begitu pula;
jiwa jiwa yang berjanji
pada jarak

aku berdetak jantungmu
memandang rindu yang menggelegak
hingga mual melesaki dinding hati
tidak ada lagi cara selain
merinduimu dalam puisi

.

.

@izzaty2011 , 03 Jan 17

*tulisan Tantangan Menulis Januari dengan clue : ombak, sunyi, mual -dan aku paling bingung masukin kata “mual” ini gimana biar bagus :v

 

Hari Pertama di 2017 #D1

Ternyata oh ternyata, tidak jauh beda dengan sebelum-sebelumnya. Last night I did nothing. Cuma di kedai aja, terus jam 9 pulang. Merenung agak lama, buka2 chat, merenung lagi. 

Terus tidur.

Pagi tadi seperti biasa. Setelah menyelesaikan ritual2 pagi hari, aku cabut dari rumah kontrakan jam 7 pagi. Menggawangi satu agenda di Jogja selatan. Siangnya pergi mengaji, lalu ngebut 2.5 jam ke rumah.

Seperti hari-hari biasaku. Bedanya, aku harus belajar nulis 2017 dengan benar biar ngga salah lagi nulis jadi 2016 hahaha. 

Ohya, Jogja hari ini padat. Kupikir orang2 akan tidur saja seharian di rumah. I was wrong. Jalanan padat, mengular, apalagi jalan menuju tempat wisata. Tobat lah aku.

Jalanan menuju rumah di Wonogiri juga padat wow. Aku sampai harus menyelip 5 mobil dalam satu tarikan gas sambil nahan napas! (Ohya ini bisa jadi rekor pertama di 2017 sih 😝) 

Lagian rata2 itu mobil luar kota. Soalnya, biasanya sih sore2 udah sepiiii bukan rame banget kaya sekarang. Belum lagi memang banyak orang keluar rumah. Udah macam lagi lebaran ! Mirip lah suasananya! Bedanya ku motoran jomlo aja hedeuh :v (Biasanya motoran sm si adek)

psst. Adekku lagi ngambek. Seharian ngga keluar kamar. Cuma luluh dikasih ayam panggang dong dong. Eottohke? 😪😪