merapikan hati

cr : ikanatassa

cr : ikanatassa

“pernahkan kamu berfikir, hati yang dia miliki sangat kuat?”

“aku juga berfikir sama denganmu. bayangkan dengan semua beban yang dia tanggung, dia tidak pernah (terlihat) runtuh.”

“bahkan aku bersamamu saja habis-habisan begini…”

“kamu benar, hatinya sangat kuat.”

—–xxx—–

dia bukan aku, tentu saja. si pemilik hati yang seringkali runtuh dan berulangkali menyusun kekuatan ini harusnya bisa belajar bagaimana bertahan. nyatanya tidak setiap saat, bahkan kamu pun juga begitu, bukan? merasa runtuh, berfikir, kontemplasi, menyusun kepingan, menatap ke depan, lalu bergerak kembali.

kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, dan seterusnya. itulah mengapa kita harus terus bergerak. benar kan? itu juga yang kadang membuat esensi bertahan menjadi kabur? kamu ini sedang mempertahankan apa?

bukankah kamu (dan tentu saja aku!) seharusnya ingat bagaimana kompetensi seorang muslim “tidak takut akan masa depan”? bukankah itu termasuk keyakinan terhadapNya? iya, kamu benar. terkadang kita hanya terlalu banyak khawatir, terlalu banyak ragunya, terlalu banyak menduganya.

“mengalir saja. ikuti arus. arus Nya tentu saja, bukan arus mereka.”

#acak #kontemplasi #keepcalmandstillfight

Kalahkan!

Seharian ini bukannya aku tidak melakukan apa-apa. Aku masih membuka laptop dan mengecek sana sini. Membuka grup whatsapp dan membicarakan hal penting – tidak penting macam-macam. Mengamati salah seorang kawan yang terlihat tak berdaya dengan himpitan deadline skripsi.

Awalnya aku tak percaya ada orang buat skripsi sampai nggak doyan makan, mual, pusing, dsbg. Tapi begitu melihat kawan satu ini tetiba nongol di pintu kontrakan dengan muka sayu, keraguanku hilang. Stress akut, asam lambungpun naik. Ditambah begadang berhari-hari. Wuhuw. Continue reading