Manusia Biasa

At the very first time, aku mengaku mengagumi sosok² itu. Terlebih yang selama ini di sekitar lingkaranku. Well, I’m not in that circle, but I know them. Sosok² yang bersahaja, selalu berjuang, do everything in a good way. Aku mengagumi itu.
Hingga pada akhirnya, beberapa hari ini aku berinteraksi dengan yang lebih luas, lebih jauh, lebih lama. 

Sepertinya Tuhan mau beritahu aku, “Hey sadarilah, mereka manusia. Sama sepertimu, sama seperti yang lain. Lihat bagaimana mereka berkata, bagaimana mereka menggunakan otak mereka, bagaimana mereka menghormati sesama.”

Manusia. Kami tidak ada beda. Tidak ada manusia berhati malaikat, putih bersih dari alpa. Dari mereka aku belajar bersabar. Mau apa lagi selain itu? 

Aku semakin mengerti, manusia tetaplah manusia. Kadang ego dijunjung tinggi, kadang ketaatan tidak dibarengi dengan penghormatan, kadang lidah tidak menjaga hati.

Semoga Allah kuatkan hati-hati kalian, aku, dan kita semua 🙂

Layar Malam

sejauh apapun, kita tetap menatap langit yang sama kan ? 🙂

layar berkedip pelan. satu percakapan muncul. ting!

“lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

aku menghela nafas. membayangkan kamu di sebuah rumah 80 km dari tempatku berada. malam mulai merambat.  dan kamu disana, membalas percakapan ini dengan sebuah kata ketus.

“entahlah” Continue reading