Dua Tahun ya, Papa?

father-551921_640

“Aku tidak percaya Papa akan datang.” Arin merengut masam pada Leo atas janji barusan. Leo menggaruk rahangnya yang ditumbuhi janggut tipis, merasakan kekesalan Arin.

Jangan berjanji pada seorang anak kecil dan perempuan, karena mereka akan mengingat semuanya. Arin masih berumur 10 tahun dan dia jelas-jelas perempuan! Anak itu sedang menyedekapkan tangannya lucu, bola mata coklatnya menyipit seakan menghakimi Leo. Apa yang bisa Leo katakan?

“Papa bahkan lupa minggu lalu ulangtahunku.”

“Maafkan Papa untuk yang kemarin. Arin, I promise you. We will meet in the first snow, two years again. Okay?”

“Dua tahun itu lama, Papa.” Arin menyeka matanya yang mulai membasah dengan syal merah melilit lehernya. Udara mendingin, tetapi Arin tidak mau berpisah dulu dengan Papa. Karena itu akan membuat hidupnya semakin beku.

“Tidak, selama Arin tumbuh dengan baik bersama Eyang, dua tahun akan baik-baik saja. Papa tau Arin anak hebat.” Leo mengelus puncak kepala Arin, mengenyahkan bayangan tentang Salwa yang lebih dulu pergi.

Leo sengaja mengajak Arin duduk di beranda depan sore ini, untuk berpamitan. Sejak muda, menjelajah dunia adalah jiwanya. Sedangkan fotografi adalah kesukaannya. Maka dia tidak menolak ketika salah satu majalah kenamaan mendaulat dirinya untuk dokumentasi salah satu ekspedisi di kutub utara. Termasuk meninggalkan Arin dalam dua tahun.

“Nanti Papa bawakan pinguin…”

“Bener, Pa?!” Mata Arin membulat penuh. Leo tergelak.

“..tapi fotonya aja.” Arin menyedekapkan tangan di depan, merengut lagi.
Leo serba salah. Duh, jangan bercanda dengan anak perempuan yang sedang buruk suasana hatinya. Salah lagi deh, rutuk Leo.

“Papa… Do you love me? You won’t leave me, will you? Benar ya Pa, dua tahun lagi waktu salju pertama turun?” Arin menatap tepat pada manik hitam Leo setelah puluhan detik memberi jarak pada keterdiaman mereka. Sedangkan Leo merasakan desiran dalam dadanya melihat bayang Salwa di mata Arin. Mereka terlalu mirip.

“Tentu. Papa janji. Papa always love you, Arin.”

Arin memeluk Leo dengan senyum terkembang sempurna. Arin tahu, Papa akan kembali. Arin tahu, Papa bekerja keras untuk Arin.

“Mama loves you too, Arin.” Leo membisikkan itu sembari mencium rambut panjang Arin. Leo merasa pundaknya basah dan hangat. Arin menangis, Leo mengeratkan pelukannya. Dia teringat Salwa.

***

flashfiction : 345 words

clue : salju pertama, janji, syal merah

Week(dding)story

Kepulangan Ummi dari Jakarta untuk menghadiri pernikahan sepupu, semakin melengkapi cerita tentang “wedding” sepekan ini. Yeah, sepekan ini rasanya banyaak banget cerita yang mengelilingi, tentang wedding. Entah ada yang curhat mau dijodohkan, ada yang curhat di-tag orang, ada yang sebar undangan, sampai sobat yang babaran (melahirkan) di awal pekan.

Rasanya mau ketawa aja, deh. Faktor umur memang gak bisa bohong XD Gosip kesana kemari sama si Awy trus kita sadar kalo…..eh iya taun ini kan kita udah 23 aja, pantesan hal beginian kayaknya seliweran mulu. Dua tiga men, dua tiga. Hampir seperempat abad menjomblo umurnya. Hahah.

Tapi yaa.. emang habis banyaknya hal berseliweran tentang wedding lalala itu banyak banget yang bisa diambil hikmah nya. Bukan Hikmah temen PWK ye, hikmah-pembelajaran- gitu maksudnya. Continue reading