Raffan

“Kenapa kamu melakukan itu, Fan?”

Raffan menelan ludah. Ketenangan Ina malam ini justru membuatnya kelabakan. Raffan sangat tahu, Ina sangat sabar menghadapi semua hal yang berkaitan dengan hidupnya. Pun dengan Raffan, itulah kenapa Raffan meminangnya tiga bulan yang lalu.

“Em… maksudmu apa, Na?”

Ina tersenyum samar, “Bahkan tanpa melihatmu pun aku tahu kamu sedang gugup. Sebegitukah aku mengenalmu, Fan? Ternyata tidak, ya? Aku sudah kecolongan berapa kali?”

“Na… maafkan aku,”
Continue reading

Di Ujung Jalan

Jalanan mulai sepi, keramaian jam-jam pulang kerja mulai berkurang. Aku melangkahkan kaki sedikit lebih cepat, mengusir semua benak yang tetiba menghampiri fikiranku. Bagunan ruko di kanan jalan. Persawahan di kiri jalan. Angin yang sedikit mengacak rambutku.

Tidak bisa, fikiran itu masih saja menari. Berjalan bersama setiap dua hari sekali, di sore hari. Kegemaranku, juga dia tentunya. Ah tidak, kegemarannya yang kemudian menular padaku. Sampai pada saat ini, aku tak bisa meninggalkan kebiasaan itu. Sembari membicarakan hal-hal yang entah penting atau tidak.

Aku seperti mendengar suaranya sekarang. Continue reading

Ada Yang Belum Mengerti Kalau Kamu Sudah Pergi

Berkali-kali aku mengecek jam di tangan kiriku. Berharap kuliah magister yang satu ini cepat selesai. Profesor Ferdinand masih asik bercerita tentang pengalamannya menjadi surveyor di Timur Tengah. Aku tak bilang aku salah ambil mata kuliah, tapi memang aku sedang tidak konsen hari ini. Sudah jam 03.00 pm dan aku masih terjebak di sini. Aku belum menyiapkan apapun untuk Azee. Aaaargh,aku frustasi!!

Sejam kemudian, kuliah selesai. Aku melesat keluar dari kampus, sesegera mungkin. Sebastian yang berteriak memanggil namaku tak kuhiraukan. Aku menyusuri jalan, setengah berlari menuju Glady’s Flower dan Clay’s Bakery. Kubeli setangkai mawar, dan sekotak kecil kue tart, lengkap dengan lilin berbentuk angka 25. Aku bersegera pulang ke apartemen sederhana milikku di blok seberang.

Sesampainya di apartemen, aku membuka jendela dan mengkoneksikan laptop yang kubawa dari Indonesia dengan internet. Bersyukurlah kuliah di London, jaringan internet dimana-mana mudah. Termasuk di apartemen mungil seperti ini.

“Lima belas menit lagi,” bisikku lirih.

Aku membuka akun Skype milikku, dan seperti tahun sebelumnya, akun Azee masih saja online di jam yang sama seperti sekarang. Aku tersenyum senang. Walau jauh, setidaknya aku akan mengucapkan selamat padanya. Kunyalakan lilin di atas kue dan mendekatkannya ke layar laptop.

05.00 pm

“Happy birthday, Azee!! Hey, tahun ini aku nggak telat, Zee!! Sehat ya Azee, aku pengen cepet pulang ketemu kamu, kangeeeen banget. Kamu jangan macem-macem aku tinggal kuliah di sini. Maaf ya belum bisa pulang, kuharap kamu mau nungguin kapan aku pulang,” Aku menyerocos gembira.

Layar Skype Azee berubah warna. Menampakkan seraut wajah bermata teduh. Aku sesak. Mataku mulai berlinangan air mata.

“Ristya… Apa kamu akan seperti ini terus selama bertahun-tahun?”

Kali ini tangisku pecah. Bunga mawar kuremas hingga hancur. Tante Dewi memandangku sedih.

“Azee sudah pergi menjemput surga, ikhlaskan dirimu, Ris… Tante tau ini tidak mudah. Tahun depan, jangan membuat perayaan ulang tahun Azee lagi, ya. Tante sayang kamu, Ris….”

Lalu layar akun Azee mati.

Aku menjerit. Kehilanganmu, belum sepenuhnya dimengerti hatiku.

–end–

#FF2in1 part 2 (Simple Plan – Jet Lag)

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com  di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Bintang Malam

“Boleh aku duduk di sini?”

Tanpa menunggu aku menjawab, kamu menjeplak di sebelah kananku, berbaring telentang bertelekan lengan. Aku tersenyum samar. Katanya tadi minta duduk aja, batinku geli.

“Bintangnya nggak keliatan ya, Ran. Aku rasanya pengen pulang kampung aja, kalau di rumah tuh bintangnya banyaaak banget dan kita kayak deket sama langit. Heeemm kereeen…”

Kamu bercerita lirih, seakan takut menggangguku. Tapi nada suaramu, ceria. Aku melirik dengan ekor mata, senyummu tak ada habisnya. Hey, aku terpesona lagi? Ah ya, aku terpikat padamu setiap detik, menit, jam, hari, bahkan tahun. Tapi toh kamu tak akan pernah tau. Aku yang cemen, belum siap kalau harus menjadikanmu kekasih. Hah, hidupku saja masih berantakan, beraninya aku mengambil tanggung jawab anak orang.

“Ran, ngelamun apa, sih? Diem aja dari tadi,” Kamu bangkit dan mencolek lengan ku.

“Emang aku mau ngelamun, Lin. Kamu tibatiba dateng, ngeganggu aja,” jawabku asal sambil memeletkan lidah. Kamu merengut. Aku tau kamu pura-pura.

Aku tertawa dan ikut bangkit. Menghadapmu yang sedang tersenyum lucu. Halo, binar di matamu kenapa begitu jelas?

“Seneng banget, habis dapet gaji tambahan?”

Kamu tertawa,”Bukaan, hehehee…”

“Terus?”

Bola matamu berputar-putar. Masih dengan senyum jenaka yang bahagia.

Kamu mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Kudekatkan corong kuping ke mulutmu. Kamu membisikkan sesuatu, seakan hanya aku yang boleh tau. Kata-kata itu begitu jelas, sejelas bintang di rumahmu yang kamu sebut tadi.

“Selamat ya,” Aku tersenyum manis sekali, cuma untukmu.

Kamu saking bahagianya mengangguk kencang lalu kembali berbaring telentang. Aku masih duduk bersila, menatap langit malam minggu yang cuma ada rembulan sabitnya.

“Arga melamarku jadi istrinya,” bisikmu tadi.

Aku ikut bahagia.

Tapi sedikit luka.

–end–

#FF2in1 part 1 (Yovie n Nuno- Malam Mingguku)

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari http://www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Amplop

“Aku nyerah, Kak! Tuhan nggak adil sama aku!” sungut Rien sambil melempar gadget terbarunya ke sofa. Yang selanjutnya terlempar adalah tubuh kurusnya di samping ku.

“Iphone-mu buat Kakak aja, jangan dibuang,” ujarku datar sambil memungut Iphone yang baru dibeli 3 hari lalu. Rien mulai menangis. Awalnya aku tak peduli. Tapi kelamaan semakin keras. Tukang siomay yang kebetulan lewat sampai melongok ke arah rumah. Saat itu aku baru menyadari betapa keras tangisan Rien.

“Tuhan nggak adil sama aku, Kak! Naskahku ditolak 15 penerbit! Aku nggak lolos SBMPTN! Sinta makin jauh dari aku sejak kenal Awan! Aku nggak bisa kuliah tahun ini, Kak! Aku anak yang baik kan, Kak? Aku nggak bodoh kan, Kak?” seru Rien diantara tangisnya.

“Rien, kamu nggak boleh nyalahin Tuhan sedikitpun. Nggak boleh, Rien. Kakak tau kamu anak baik, kamu pintar, jauh lebih pintar dari Kakak. Tulisan-tulisan kamu bagus, udah kayak penulis pro. Kamu kurang apa coba?” Aku mengelus pundaknya.

“Rien kurang beruntung, Kak….”

“Nggak, bukan seperti itu. Rien cuma kurang sabar nunggu keputusan dari Tuhan.. Siapa tau, Dia lagi siapin rencana paling bagus buat Rien. Rencana yang sebenernya Rien butuhkan, bukan cuma Rien inginkan,” Aku tersenyum.

“Tapi nggak kayak gini, Kak.. Rien capek.. Rien udah kayak nggak punya tujuan lagi besok mau ngapain..”

“Rien harus punya tujuan. Rancang ulang rencana kamu. Tata ulang jadwal kamu. Apalagi setelah ada ini-” Kataku sambil mengulurkan amplop cokelat yang baru kuterima 10 menit sebelum dia datang.

Rien merebutnya, menyobek penutupnya, lalu membaca isinya. Dua detik dia mengerjap ke arahku. Aku tersenyum, jahil. Dia tersenyum. Rien memelukku erat. Tangisnya pecah kali ini.

Amplop itu menyatakan dia diterima di sebuah Universitas di London, kota impiannya selama ini.

 

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku